bernasnews — Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Wartawan Online Indonesia (IOWI) Kabupaten Sleman bersama Wakil Bupati Sleman, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman, Kabid Perdagangan ,Dinas Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Sleman menggelar Forum Group Discussion (FGD), dengan tema ‘Prospek UMKM Sleman Tahun 2024’, bertempat Ruang Rapat Kantor Wakil Bupati Sleman, Selasa (19/12/2023).
Ketua DPD IWO Indonesia Kabupaten Sleman Yupiter Ome mengawali diskusi menyampaikan, , bahwa kontribusi UMKM terhadap pendapatan daerah, berdasarkan data yang ada mecapai angka diatas 60persen. Menurut Yupiter, hal ini menunjukan bahwa UMKM memiliki potensi yang besar untuk menggerakkan ekonomi nasional dan menyerap banyak tenaga kerja.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa dalam pemaparannya mengemukakan, UMKM dan pertanian adalah sektor – sektor yang menjadi perhatian, selain pariwisata. Hal ini bermula saat Pandemi covid-19 hampir semua sektor baik pariwisata dan lainnya mengalami tekanan. Menurut Danang, sektor pertanian menjadi tumpuan lantaran merupakan kebutuhan mendasar masyarakat yang harus dipenuhi setiap saat dalam situasi apapun.
Hal kedua adalah UMKM, Danang menambahkan, bahwa data tahun 2021-2022 pasca pandemi Covid-19, pertumbuhan UMKM Kabupaten Sleman meningkat dan kini telah mencapai 20 ribu UMKM, kebanyakan terkait produk makanan, craft dan fashion.
“Sektor UMKM mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman, maka dibentuk satu dinas khusus untuk menangani sektor ini karena perlu pengelolaan yang baik. Secara global sektor UMKM menjadi urat nadi perekonomian, pasalnya UMKM semakin berkembang dan banyak menyerap tenaga kerja,” terang Wabup.
Pemerintah terus berupaya mendorong UMKM dengan regulasi, dan bantuan pinjaman modal usaha dengan bunga kecil melalui Kredit Usaha Rakyat. (KUR). Juga pelatihan dan pendampingan melalui lembaga dan instansi terkait baik itu Dinas Sosial, Disperindag, Balai Latihan Kerja, dan lain sebagainya. Di Sleman juga telah terbentuk Forkum UMKM di tingkat Kapanewon, dengan tujuan untuk meningkatkan geliat UMKM pada tingkat Kapanewon dan partisipasi masyarakat.
Lebih lanjut Wakil Bupati Sleman menjelaskan, kendala utama pada pengelolaan UMKM adalah managemen keuangan. Menurutnya, karena pinjaman untuk modal produksi atau modal kerja tidak seluruhnya dipakai untuk pengembangan usaha, tapi biasanya juga digunakan untuk kebutuhan lain yang tidak produktif seperti kebutuhan rumah tangga. “Sehingga pengembalian modal dan pengembangan usaha terkendala, hal ini berimbas pada kualitas dan kwantitas produksi menurun,” tandas Danang Maharsa.
Sementara, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman Haris Martapa menyampaikan, bahwa di Kabupaten Sleman terus berupaya agar UMKM naik kelas. Pihaknya telah membuat kajian agar UMKM bisa naik kelas melalui 5 tahap, diantaranya yaitu produksi, pemasaran, management, peningkatan kemampuan keuangan dan Inovasi.
Menurut Kadis Koperasi dan UMKM, saat ini tumbuh dengan masif masyarakat mau berusaha , maka di desa-desa kita dorong supaya ada kegiatan pada hari Sabtu dan Minggu dengan menghadirkan massa, seperti senam misalnya. “Di situ kita adakan stand-stand UMKM, yang biasanya kita kolaborasikan dengan Pariwisata, Kebudayaan dan Olahraga. Sementara untuk pemasaran produk dengan dua model yaitu digital marketing online dan offline,” terang Haris Martapa.
Terkait dengan produk eksport, menurut Kabid Perdagangan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sleman Kurnia Astuti, pruduk unggulan Kabupaten Sleman yang diexport adalah textil, sarung tangan kulit dan meubel kayu. “Saat ini sudah diexport ke 39 negara,” ujar dia.
“Sementara negara tujuan eksport ke Jepang menempati urutan pertama dengan nilai eksport mencapai 45persen. Kemudian disusul Amerika Serikat, Korea Selatan, Spanyol dan Ingris, dengan nilat total pada tahun 2022 mencapai USD 86 juta,” pungkas Kurnia Astuti. (nun)












