Opini  

Belajar Rendah Hati dari Burung Sriti

Buku Sayap Sayup Sriti karya Romo V. Kirjito.

bernasnews – Berawal dari kebun Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan, Jawa Tengah ketertarikan penulis buku Sayap Sayup Sriti (Pohon Cahaya, 2023) Romo V. Kirjito (70) pada sriti dimulai. Di tempat ini terdapat rumah beratap ijuk yang digunakan untuk edukasi budidaya sayuran organik. Suatu ketika, bangunan ini rubuh oleh angin lesus dan hujan deras. Semenjak kejadian itu, burung-burung sriti yang biasanya ‘mampir’ untuk mengambil ijuk tidak singgah lagi.

Ia berusaha memasang sisa ijuk berharap dapat memancing Sriti itu untuk singgah namun apa daya upayanya sia-sia. Ia mempertanyakan sungguh aneh mengapa burung-burung sriti ini tidak hinggap lagi. Hal ini sempat membuat penulis menjadi patah arang untuk mendokumentasikan burung Sriti.
Niat penulis mendokumentasikan kehidupan burung sriti muncul kembali karena kesenangannya berjalan-jalan menggunakan sepeda. Di tengah-tengah perjalanan, sesekali ia melihat burung sriti berani terbang melintas di depannya. Sambil menikmati keindahan burung-burung sriti yang beterbangan ke sana kemari, penulis juga dapat menikmati keindahan alam pedesaan yang masih asri. Bagaimana kehidupan penduduknya yang masih sederhana yang ia contohkan melalui keluarga pak Muri. Betapa harmonisnya kehidupan keluarga Pak Muri dikelilingi oleh burung-burung Sriti. Mereka tidak mengenal rasa takut akan keberadaan manusia bahkan dalam jarak 1 meter. Burung sriti tidak lekas beranjak terbang selayaknya burung-burung yang lain. (hal. 156)

Burung sriti bagi seorang penulis juga dimaknai sebagai sarana menjaga kesehatan. Burung sriti bagi dia melatih kepekaan mata. Pada bab Mencari Makna Pengalaman Mata, penulis ingin memperlihatkan bagaimana burung sriti melayang-layang di alam terbuka atau bagaimana burung-burung sriti hinggap di lanjaran. Hal ini dirasakan penulis sebagai pengalaman yang benar-benar nyata. Penulis merasa bersyukur bahwa di usianya yang sudah mencapai 70 tahun, ia masih diberi kesempatan untuk melihat keindahan alam dan segala ciptaannya khususnya burung sriti yang ada di mana-mana.

Penulis mengajak pembaca khususnya bagi siapapun yang amat bergantung pada teknologi informasi untuk berhati-hati dalam menyikapi apa yang ditampilkan secara visual oleh teknologi ini. Ada banyak manipulasi dari teknologi informasi untuk memperlihatkan keindahan di sekitar kita yang hanya mengejar sisi indahnya saja. Jika kita tidak kritis menyikapinya, kita akan terbuai oleh ‘ketidakjujuran’ ini. Maka penting mulai menyadari mengendalikan mata. Dengan kata lain mata masih dapat menyaksikan kenyataan visual yang melimpah dan mudah diakses kapan dan di manapun. (hal. 16-17)
Dalam buku ini, kita disajikan oleh foto-foto yang memanjakan mata. Penulis hendak menunjukkan betapa indahnya burung-burung sriti. Bila kita hanya melihat sekilas, burung sriti hanyalah burung berwarna hitam. Namun ternyata pengamatan sekilas itu salah besar. Penulis menunjukkan bagaimana burung sriti tampil dengan berbagai warna dan rupa. Penulis berdecak kagum bagaimana burung sriti memberikan pertunjukan layaknya sebuah atraksi, terbang meliuk-liuk di udara dan hinggap di tanaman tanpa jarak dengan petani yang sedang memanen di sawah. Burung sriti terbang layaknya sebuah pesawat terbang tapi ia bergerak tanpa bantuan bahan bakar apapun. (hal. 31)

Tak habis decak kagum sang penulis pada atraksi terbang burung sriti ini, ada pengalaman lain terkait dengan kehidupan Sriti. Suatu ketika, penulis melintasi areal persawahan yang selesai dibajak. Burung sriti melayang-layang, terbang cukup rendah. Sriti mendarat di tanah sawah. Ia mencucukkan paruhnya ke tanah kecokelatan. Sesudahnya ia membawa tanah itu ke suatu tempat. Ternyata ia membawa gumpalan tanah itu ke suatu pos ronda dan mengumpulkannya satu demi satu untuk membuat rumah untuk bermalam. Berkat ketelatenannya itu, terpancarlah keagungan karya alam, sebuah karya arsitek burung sriti. (hal. 170)

Pada akhirnya, apa yang ingin disampaikan penulis melalui kekagumannya pada kehidupan burung sriti ini adalah: apa yang terlihat sekilas belum tentu menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Burung sriti yang sekilas tampak sebagai burung hitam ternyata ia seekor burung yang penuh warna-warni. Kegesitan, Keberanian, ketelatenan menjadi perpaduan ciptaan alam nan agung yang terpancar pada kehidupan burung sriti. Maka seperti yang dikatakan Dr. Riwanto Tirtosudarmo dalam pengantar buku ini, maka selayaknya kita perlu bersikap rendah hati terutama untuk menyadari kalau kita bagian dari keluasan alam semesta seperti burung sriti. (Bimo Setyoseno, peresensi tinggal di Yogyakarta)