Opini  

Merawat Kenangan Ayah dan Ibu Melalui Penanda Waktu

Dua jam kenangan ayah dan ibu sebuah keluarga di Yogyakarta. (Foto : Anto Margono)

bernasnews – Jika masa lalu tidak bisa terulang mengapa harus kita sesali/ Jika masa depan tidak bisa kita ketahui mengapa mesti dikhawatirkan/ Jika kita bisa bahagia saat ini mengapa harus kita lewatkan.

Tiga kalimat pendek cukup menarik itu masuk ke whatsApp grup (WAG) penulis suatu pagi. Kata kunci dari rangkaian kalimat itu adalah waktu. Hal lain yang menjadi pendukung adalah (tidak perlu) menyesal, (tidak perlu) khawatir, dan (jangan lewatkan) kebahagiaan.

Setiap waktu atau masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya. Sesuatu yang sudah terjadi, tentu tidak dapat diulang lagi, maka tidak perlu ada sesal. Di sisi lain, orang juga tidak dapat mengetahui kejadian esok hari, apalagi meramal masa depan. Maka menjalani kehidupan saat ini, itulah hal yang nyata dan semoga dapat membahagiakan.

Demikian pula halnya kenangan di dalam keluarga, terutama hubungan antaranggota keluarga, tentu memiliki pernak-pernik yang tidak dapat terulang lagi. Suka dan duka, rajin dan malas, santun dan nakal, dan sebagainya, semuanya pasti lewat. Lewat oleh perjalanan waktu, dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tahun ke tahun, dan seterusnya. 

Ada kata bijak lain yang semestinya selalu mengingatkan atas keterbatasan setiap insan yakni “setelah ini pun akan berlalu….” Bahwa setiap ada awal, pasti ada akhir. Maka sebuah kenangan atas seseorang atau atas sesuatu dapat menjadi bermakna bagi mereka yang menjalaninya.   

Kenangan orangtua

Bagi penulis dan kiranya juga banyak orang lainnya, sesuatu yang bernilai itu adalah kenangan atas orangtua khususnya ayah dan ibu. Bersyukurlah bagi mereka yang masih memiliki atau ditunggui ayah dan ibu, atau salah satu diantara mereka. Namun tetap bersyukur pula bagi mereka yang sudah tidak bersama orangtua lagi. Ada nilai-nilai keutamaan hidup, betapa pun sederhananya, yang pasti sudah pernah diberikan dan diterima. Nilai itu misalnya kejujuran, kesetiaan, ketekunan, semangat berbagi, dan sebagainya. 

Bagi mereka yang sudah hidup tanpa orangtua, kenangan ketika masih tinggal bersama dalam satu rumah atau setidaknya masih saling berkomunikasi, menjadi warisan yang berharga. Sedangkan bagi mereka yang masih hidup bersama di rumah, adalah saatnya untuk “menabung kenangan” dan merasakan nikmat kebahagiaan bersama keluarga. 

Dalam perjalanan waktu, penulis dan lima saudara telah kehilangan ibu tercinta pada tahun 2010 dan menyusul ayah tercinta 11 tahun kemudian. Selanjutnya keluarga mengadakan peringatan tiga sampai 1000 hari meninggalnya mereka. Ada pengajian di rumah, sampai melepas sepasang burung merpati dan mendirikan nisan (kijing) di makam pada puncak peringatan arwah. Peringatan 1000 hari meninggalnya ayah penulis dilaksanakan di Yogyakarta pada Senin-Selasa (13-14 November 2023). 

Selain kenangan dalam memori, foto-foto dan barangkali penerbitan buku keluarga kelak pada waktunya, kenangan apa lagi yang dapat kami miliki? Keluarga memiliki tradisi membuat merchandise yakni gelas mug dan jam dinding. Adanya mug diharapkan ketika minum teh atau air putih, keluarga teringat ayah dan ibu. Sedangkan jam dinding dengan hiasan wajah almarhum dan almarhumah, sebagai obat rindu dan penanda waktu atas kebersamaan di masa lalu maupun masa depan.

“Setelah ini pun akan berlalu…..”, adalah hal yang tidak terelakkan dalam kehidupan di dunia ini. Namun kenangan atas kebersamaan keluarga khususnya terhadap ayah dan ibu memang harus diikat supaya tidak lepas. Ikatan itu secara batin bernama CINTA dan secara lahiriah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, misalnya gelas mug, jam dinding sampai buku keluarga. Sebagai bukti cinta, maka doa-doa anak cucupun dilantunkan kepada ayah-ibu dan kakek-nenek agar damai di surga. Karena ketika mereka masih tinggal bersama kami, ada nama(ku) yang selalu disebut dalam doa mereka pula. (Anto Margono, Pegiat Literasi