Opini  

Merindukan Pantun, dari untuk Lansia sampai Mat-Matan

Tiga buku tentang pantun karya Jalu Suwangsa, Ken Suratiyah dan Sutirman Eka Ardhana. (Foto : Anto Margono)

bernasnews – Seiring dengan perjalanan waktu dan perjalanan usia seseorang, kiranya ada sesuatu yang dirindukan karena pernah bersua, didengar atau diciptakan. Sesuatu itu antara lain pantun. Pantun itu juga puisi, kata sastrawan Sutirman Eka Ardhana (71). Karena puisi itu masuk sebagai karya sastra, maka pantun jelas juga masuk dalam karya sastra. Ini pasti, tak bisa diganggu gugat.

Dalam ragam puisi, lanjut Eka, pantun merupakan bentuk puisi tertua. Eksistensi atau keberadaan pantun sudah ada, diakui dan berpengaruh jaug sebelum munculnya puisi-puisi-puisi seperti di era kekinian ini.

Bagaimana pantun dalam kehidupan kita saat ini? Sejauh kita ketahui, kian sering publik figur, pembicara atau pembawa acara yang menutup pembicaraannya dengan pantun. Apresiasi pendengar pada saat itu biasanya disampaikan secara spontan, antara lain dengan mengatakan “cakeepp” dan “cakeepp” pada setiap penggalan kalimat.

Penulis termasuk suka pantun, meski tidak berkemampuan menciptakan pantun. Kebetulan ada tiga buku tentang pantun yang berada di perpustakaan pribadi. Lumayan sesekali dibaca untuk mengisi ruang relung hati. Ketiga buku itu adalah Pantun Senja : Jejak Terbang Burung Terukur – Bacaan untuk Lanjut Usia karya Jalu Suwangsa (2010); buku Kumpulan Parikan/Pantun yang dirangkum oleh Ir Ken Suratiyah, M.S. (2022) dan buku Pantun Mat-Matan karya Sutirman Eka Ardhana (2023).  

Belajar jadi tua

Buku mungil Pantun Senja setebal 64 halaman memilki ciri khas, yakni dibedah melalui sekapur sirih oleh penulis Dr. Novita Dewi, Drs. P. Ari Subagyo, M.Hum dan Drs. J Prapta Diharja, SJ. Ada tujuh topik dalam buku ini yakni Burung Tekukur, Keniscayaan, Pencarian, Pertobatan, Manusia Roh, Di Langit Senja dan Yang Tak Ternilai. 

Dr Novita Dewi mengatakan, buku ini bisa menjadi buku ajar bagi pembaca lintas umur, karena kemungkinan besar di antara kita banyak yang tidak (sempat) secara khusus belajar menjadi tua.

Din topik Langit Senja, penulis Jalu Suwangsa menulis Bulan Itu Setia : Bulan itu setia menengok, ya?/ Masih adakah waktu menyambutnya?/ Tuhan itu setia menyapa, ya?/ Masih adakah waktu menanggapinya?

Cinta Anak : Cinta anak sepanjang galah/ Cinta ibu sepanjang jalan/ Cinta manusia bisa berubah/Cinta Tuhan tak berkesudahan.

Buku Kumpulan Parikan/Pantun yang dirangkum Ir Ken Suratiyah, M.S. ditulis dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Dia menulis pantun setiap hari. Ini adalah buku ketiga kumpulan pantunnya. Karya ini dia dedikasikan ke berbagai kalangan, mulai dari Yayasan Kanker Indonesia sampai paguyuban trah keluarga. 

Contoh pantun bahasa Indonesia : Bunga segar berwarna putih/ Sangat indah rapi ditata/ Wahai kawan mari bersih-bersih/ Badan sehat hatipun lega.

Pantun bahasa Jawa : Sambel kering tumis jamur/ Iwak sepat dimasak semur/ Sugeng enjing para sedulur/ Mugi sehat panjang umur.

Buku Pantun Mat-Matan karya Sutirman Eka Ardhana terdiri dari empat bab yakni Yogya, Malioboro, Angkringan dan Sudut Kota. Dari sudut topik, kita tahu bahwa matei yang digarap sepenuhnya tentang Yogyakarta dengan ikonnya. Yogyakarta tanpa Malioboro dan angringan, terasa kurang pas. Lalu membidik sudut kota, selain tengah kota, kiranya menjadi pilihan yang baik pula.

Kita lihat materi pantun tentang Yogya : Kalau bukan karena cuaca/ Taklah hujan di pagi hari/ Kalau bukan karena Yogya/ Taklah saya terpaut di sini.

Deru suara angin sampai ke hulu/ Hembusannya masuk ke hutan jati/ Dulu ke Yogya ingin menuntut ilmu/ Ternyata bonusnya dapatkan istri.

Kemudian pantun tentang Malioboro : Ke Kulonoprogo melintasi kali/ Dekat Bandara ada pohon Mahoni/ Malioboro dulu menggoda hati/ Kini tak ada lagi yang dicari.

Makan gudangan dan tempe koro/ Nikmatnya terasa sampai pagi/ Bergandengan tangan di Malioboro/ Kenanganannya terbawa sampai kini.  

Eka Ardhana mengemukakan, dia lahir dan setengah dibesarkan di kawasan yang berbudaya dan berbahasa Melayu yakni di Bengkalis, Riau. Sejak kecil dia sudah merasakan denyut pantun itu dalam denyut kehidupan. Bahkan setelah dia bertahun-tahun tinggal di Yogyakarta, denyut dan degup pantun itu tidak pernah hilang. Jadi kalau dia selalu ruindu akan pantun, kiranya tidaklah berlebihan.

“Buku Pantun Mat-Matan ini merupakan wujud dari kerinduan saya itu. Kerinduan akan pantun,” kata Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena DIY ini. (Anto Margono, Pegiat Literasi)