bernasnews — Saat ini dampak terjadinya pandemi Covid-19 yang diikuti perkembangan ekonomi dan teknologi digital yang sangat pesat masih terasa sebagai disrupsi teknologi. Bahkan, teknologi digital yang salah satunya diwakili oleh kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) masih dirasa sebagai ancaman bagi manusia. Ketakutan akan tergantikannya berbagai peran manusia dengan AI demi alasan efektivitas dan efisiensi marak dibicarakan, didiskusikan, dan ditelaah secara mendalam, tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia.
Beberapa usaha tiba-tiba lenyap dari muka bumi tetapi beberapa usaha lahir sebagai peluang bisnis baru, seperti: teknologi finansial (fintech), yang menawarkan begitu banyak kemudahan dalam bertransaksi tanpa harus bertatap muka dan menggunakan uang fisik, jasa ekspedisi, dan masih banyak lagi. Hilangnya beberapa jenis pekerjaan yang bersifat berulang dan klerikal memang pantas dikhawatirkan. Salah satu jenis bisnis yang langsung bangkit dengan segera setelah masa pandemi berakhir adalah bisnis jasa pariwisata, baik wisata alam, kuliner, perhotelan/penginapan, olahraga, pertunjukan, budaya, maupun wisata religi.
Hampir dua tahun penuh manusia seperti terkurung di dalam tempat tinggal masing-masing dengan segala kecemasan, kesumpekan, dan keterbatasan mereka dalam mengakses berbagai keindahan dan kesegaran alam yang begitu melimpah, serta kesempatan untuk memanjakan lidah dan menikmati kemewahan layanan bisnis perhotelan.
Persaingan bisnis jasa pariwisata dengan sendirinya ikut meningkat dengan berakhirnya masa pandemi. Banyak pengelola bisnis pariwisata yang tidak mampu bertahan dan gulung tikar karena kehilangan pasar selama masa pandemi. Sementara yang masih bertahan harus berhadapan dengan bisnis pariwisata yang sudah sangat melek teknologi digital. Disrupsi karena kehadiran teknologi dan ekonomi digital memaksa mereka untuk segera beradaptasi atau mati.
Kemudahan dan pertolongan pertama yang bisa dimanfaatkan adalah media sosial seperti: Facebook, Instagram, Twitter (X), TikTok, bahkan Whatsapp yang menjadi sarana komunikasi sejuta umat. Untuk mendukung aktivitas penggunaan medsos, dibutuhkan dukungan spot-spot foto yang instagrammable menurut anak muda. Berdasarkan aktivitas medsos para pengunjung lokasi wisata tersebut, bergulirlah “getok tular” berbagai destinasi wisata yang menarik wisatawan dari seluruh penjuru tanah air bahkan dunia.
Gerakan bumi hijau dan semacamnya memberikan tantangan tersendiri kepada pelaku bisnis jasa pariwisata. Masalah pengelolaan sampah, penggunaan pupuk, pemilihan jenis tanaman penghijauan yang ramah lingkungan, dan hal-hal yang berkaitan dengan usaha merawat dan melestarikan bumi harus dijawab jika ingin tetap bertahan. Hal ini memicu kemunculan istilah dan program–program yang berpihak kepada bumi yang lebih hijau.
Di bidang marketing dikenal istilah sustainable consumption (konsumsi berkelanjutan), sementara di bidang pariwisata dikenal adanya istilah sustainable tourisme (pariwisata berkelanjutan). Wisata berkelanjutan bisa dimaknai sebagai kegiatan berwisata yang disertai dengan upaya untuk membawa dampak positif terhadap lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi oleh pengelola dan pengunjung.
Bisnis jasa pariwisata adalah bisnis “hepi-hepi”. Setiap orang yang melakukan perjalanan wisata mengharapkan perjalanan yang lancar dan nyaman, juga segala hal yang menyenangkan hati setibanya di tujuan wisata: pelayanan yang ramah dan fasilitas yang bersih dan lengkap, yang membuat mereka merasakan sejenak nikmatnya dimanjakan dan memanjakan seluruh inderanya. Banyak juga anak muda yang membutuhkan tempat-tempat sejuk, sepi, dan tenang untuk sekadar healing.
Beberapa yang lain, selain mencari kenyamanan, juga mencari kesenangan untuk menghilangkan dahaga dari kehausan hati yang mereka rasakan, yang harus dipuaskan dengan sesuatu yang berasal dari hati juga, seperti ketulusan, keikhlasan, kegembiraan, dan kepolosan penduduk lokal dalam menyapa dan melayani mereka. Sesuatu yang nampak sederhana tetapi jarang ditemukan di kota-kota yang penuh kesibukan dan perjuangan dalam mempertahankan hidup beserta kelengkapannya seperti pangkat, jabatan, status, standar gaji yang tinggi, dan persaingan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada masa resesi yang hampir menyentuh seluruh negara di dunia, bisnis wisata di Indonesia cenderung bertumpu pada wisatawan lokal/ dalam negeri. Ini menjadi peluang yang menarik untuk memperkenalkan kearifan lokal dan budaya/ tradisi adiluhung. Kita bisa ambil satu contoh yaitu seni budaya membatik. Membatik bukan sekadar membuat motif-motif pada selembar kain. Jika dicermati secara lebih mendalam, di dalam membatik ada “laku” (ibadah), ada persembahan. Juga motif-motif klasik yang sarat makna dan cerita di baliknya.
Belum lagi dalam proses membatik itu sendiri: ada meditasi, pengaturan napas, penenangan diri, ketenangan pikiran yang “menep” (fokus). Kalau tidak percaya, cobalah pegang canting dan membatiklah. Jika napas kita ngos-ngosan, gambar yang dihasilkan tidak akan sehalus gambar yang dihasilkan jika kita menorehkan canting sambil menahan napas atau bernapas sehalus mungkin. Hal yang sama berlaku juga untuk berbagai proses berkesenian lainnya, seperti melukis, menatah wayang, mewarnai, dan sebagainya.
Sebagai penutup, mari kita lihat kembali karpet merah bisnis pariwisata. Sebelum Covid-19, kita cukup bermodalkan selembar karpet merah yang disebut pelayanan prima. Saat ini, minimal kita harus bisa membuat anyaman karpet merah yang terbuat dari ketersambungan dengan teknologi digital, keberpihakan pada pelestarian alam (bumi yang hijau dan lestari), serta pelayanan prima. Semoga situasi ini tidak dipandang sebagai hambatan untuk tetap bertahan dalam bisnis jasa pariwisata, tetapi justru sebagai peluang yang terbuka bagi pengembangan bisnis pariwisata. (Diah Utari BR, Dosen Fakultas Ekonomi USD/ Universitas Sanata Dharma)











