Opini  

Berpikir Kreatif

Diah Utari BR, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (USD). Foto: Dok. Pribadi

bernasnews — Salah satu visi pendidikan yang ingin dicapai dalam Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka adalah menghasilkan insan yang berkarakter kreatif inovatif. Kita semua pasti setuju dengan cita-cita tersebut. Masalahnya adalah bagaimana mencapai atau mewujudkan cita-cita tersebut? Cukupkah kalau ditulis dengan indah di setiap sudut kampus lalu diimbau oleh para dosen dengan cara apapun untuk mengajak mahasiswa untuk selalu menciptakan inovasi-inovasi baru selama proses belajar dan terlebih setelah lulus?

Saya membayangkan bahwa pekerjaan itu tidak semudah mengatakan, karena dibutuhkan modal dasar seseorang memiliki karakter kreatif inovatif. Modal dasar itu adalah kemampuan berpikir kreatif/tidak biasa/di luar nalar/di luar pakem dan kaidah-kaidah maupun sistematika yang selama ini kita anut. Bukan hanya kita anut, bahkan kita kejar kemampuan bernalar logis, sistematis, taat kaidah-kaidah keilmuan semenjak kita berada dibangku sekolah.

Mahasiswa yang sukses adalah mereka yang mampu bernalar logis, sistematis dan taat kaidah-kaidah keilmuan. Semakin banyak teori dan ilmu yang mereka pelajari maka kemampuan berpikir logis semakin kuat dan semakin baik nilai yang diperoleh. Maka itulah keahlian kita. Berpikir logis, sistematis, dan taat asas keilmuan. Dalam istilah lain hal itu disebut sebagai kemampuan berfikir vertikal.

Menghadapi masa pandemi, kemajuan teknologi digital, ekonomi digital yang sangat pesat sampai dibilang sebagai disrupsi, maka pola berpikir vertikal dirasa menjadi kurang “bermakna”, maka ramai-ramai munculah kebutuhan baru yaitu inovasi, kreativitas, berfikir tak biasa, di luar nalar dan sebagainya, yang diharapkan akan menyodorkan sebuah solusi. Jadi masuk akal kalau salah satu rumusan visi MBKM adalah membentuk anak didik yang kreatif inovatif.

Kembali ke persoalan bagaimana membentuk insan yang berkarakter kreatif inovatif, maka kita mesti menengok modal dasar yang dibutuhkan, yaitu berpikir kreatif. Untuk berfikir vertikal saya yakin kita semua terutama para pendidik adalah jagonya. Tetapi untuk berfikir kreatif inovatif, tidak biasa, tidak rasional, aneh, bahkan berpikir “gila” atau biasa disebut sebagai kemampuan berfikir lateral (lateral thinking), nanti dulu.

Bagaimana melatih kemampuan lateral thinking sebagai prasyarat utama agar kita terbiasa berfikir kreatif. Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:

  • Persisten dan imajinatif: terus menerus berusaha mencari ide baru. Tidak cepat puas.
  • Berani berpikir di luar kebiasaan (out of the box): berpikir dan bersikap seperti anak-anak. Bercandalah. Berpikir aneh hingga berpikir “gila”
  • Tidak takut salah. Carilah tantangan.
  • Berpikir positif, fleksibel, dan terbuka: tidak ada yang salah, tidak ada yang jelek.
  • Ciptakan ruang kreativitas di lingkungan kita: selalu mencoba dari sisi lan, cara pandang lain, selalu bersemangat dan optimis.
  • Get up and do it: segera dan lakukan, jangan ditunda-tunda.
  • Dengarkan pendapat orang lain.
  • Jangan melawan bahkan menolak pikiran sendiri.
  • Tidak ada kata menyerah.
  • Jadilah dirimu sendiri: tidak usah memaksa seperti orang lain.

Kita tidak bisa “ujug-ujug” (mendadak) menjadi mampu berpikir lateral dan kreatif. Hilangkan hambatan berpikir lateral agar muncul ide-ide baru untuk menghasilkan kreasi-kreasi baru. Itulah yang disebut kreativitas. Kreativitas yang bermanfaat bagi banyak orang namanya inovasi. Untuk melatih diri, jika ada pelatihan tentang berpikir kreatif ada baiknya diikuti agar kita tahu meski sepintas, apakah kita memiliki hambatan untuk berpikir kreatif ataukah tidak. Kemampuan ini bukan berarti kemampuan berpikir vertical tidak penting.

Tetapi untuk menemukan jalan keluar dari sebuah masalah yang kusut, mendadak, disruptif, dibutuhkan ide dari pemikiran lateral, namun pada pelaksanaan hasil eksekusi keputusan yang kratif tadi, tetap dibutuhkan sistematika pelaksanaan yang logis, sistematis, dan sesuai kaidah keilmuan agar akuntabel.

Semoga semakin banyak orang yang mampu berpikir kreatif supaya di masa depan generasi penerus kita tidak menjadi pengikut aliran kaya lewat korupsi dan mendapat cap semakin intelek semakin tidak berintegritas. (Diah Utari BR, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma)