Opini  

F.X. Koesworo : Bangga Menjadi Wartawan Hingga Akhir Hayat

F.X. Koesworo (alm), serta buku Di Balik Tugas Kuli Tinta dan Mengelola Majalah Paroki. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Bangga atas pekerjaan dan terlebih profesi, tentu ada di kalangan masyarakat dan harus terus diperjuangkan. Mengapa harus diperjuangkan atau dijaga konsistensinya? Karena ada orang yang kemudian beralih pekerjaan atau profesi di kemudian hari. Entah di kala berhasil dan apalagi di saat gagal. Sekali lagi, itu pilihan masing-masing orang.

Apakah tetap setia menekuni profesi itu lebih baik daripada yang kemudian beralih profesi karena sesuatu dan lain hal? Tidak dapat dikatakan demikian. Karena pilihan pribadi adalah alasan dan tujuan orang bersangkutan.

Kalau ada sosok yang bangga atas profesi dan menekuninya sampai usia tua, salah satunya adalah F.X. Koesworo. Lelaki kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 11 November 1939 ini telah sejak tahun 1963 menekuni jurnalistik dengan menjadi redaksi mingguan MINGGU di Yogyakarta. Selanjutnya mingguan itu berkembang menjadi Surat Kabar Harian (Skh) Pelopor Yogya.

Pengalamannya sebagai wartawan telah dimantapkan lagi ketika menjadi koresponden harian Kompas (tahun 1968 – 1972), Harian Sinar Harapan (sejak tahun 1971) hingga kemudian menjadi Skh Suara Pembaruan. Selanjutnya, Koesworo yang pernah menjadi Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Cabang Daerah Istmewa Yogyakarta (DIY), Ketua Seksi Wartawan Pariwisata (Siwata) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang DIY, Wakil Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Cabang DIY dan Kepala Humas Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, juga menjadi Penanggung Jawab Majalah SINUS dan SISWA

Lama tidak berjumpa karena kesibukan masing-masing, entah apakah masih di Yogyakarta atau di Jakarta, ada informasi masuk di hp penulis dari seorang rekan yang mengabarkan Koesworo meninggal dunia, Rabu (26/7/2023). Setelah dicek di WA Group Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta ternyata info itu benar, dia telah dipanggil oleh Sang Pencipta. Segera saja mengalir ucapan duka cita atau RIP dari para anggota PWS.

Betapa pun usia dia ketika meninggal dunia telah menuju 84 tahun, namun dengan berbagai dinamika kehidupan yang dijalani, hidup toh terasa singkat. Lama tidak bertemu, informasi yang masuk kemudian adalah berita duka.    

Telah berkurang satu lagi teman atau sahabat penulis, khususnya sesama profesi wartawan dan pegiat literasi. Segera teringat berbagai kenangan kebersamaan dengan almarhum yang berpenampilan gagah, energik, ramah dan selalu necis dalam berpakaian itu. Saat sama-sama menjadi pengurus Siwata PWI Cabang DIY, anggota Forum Wartawan Kampus Gadjah Mada (Fortakgama) angkatan pertama, meliput dan wawancara di lapangan, terlibat dalam komunitas penulis bacaan anak, aneka pelatihan jurnalistik untuk berbagai kalangan, sampai menulis beberapa buku bersama.

Beberapa buku yang masih terdokumentasi penulis adalah Di Balik Kuli Tinta karya F.X Koesworo, JB Margantoro, dan Ronnie S Viko (Sebelas Maret University Press dan Yayasan Pustaka Nusatama, 1994), Mengelola Majalah Paroki karya F.X. Koesworo, Y.B. Margantoro, Ronnie S. Viko dan St. S. Tartono (Komisi Komsos Kevikepan DIY, 1995), Iman di Ujung Pena (YBM, dkk). Kemudian di buku Biar Berita Bicara (YBM, UAJY Press, 2001), F.X. Koesworo turut menulis esai bertajuk Bangga Menjadi Wartawan. 

Mewartakan kebenaran

Bagi F.X. Koesworo, bangga menjadi wartawan yang menjadi judul esainya itu, karena dalam kenyataannya, memang mau apa lagi. Hidup sebagai wartawan adalah mewartakan kebenaran apa yang dilihatnya. Jadi jurnalistik itu suatu profesi yang mulia. Jika sudah memilih profesi wartawan, maka setidak-tidaknya tiga fungsi media massa tempatnya bekerja, sudah dihafalnya luar kepala. Yang pertama, menghidangkan berita kebenaran yang diperlukan masyarakat. Kedua, memajukan opini publik. Ketiga, ikut menyusun tema-tema hidup bermasyarakat.

Dalam kamus yang dia baca, mewartakan sesuatu kepada orang lain itu bakat. Tidak semua orang punya bakat untuk memberitahukan kabar sekecil apapun kepada pihak lain. Menurut dia, menjadi orang yang terguncang hatinya untuk mewartakan sesuatu kepada orang lain, kecuali bakat, nampaknya memang suatu panggilan Ilahi di samping kewajiban manusiawi.

Kaitannya denggan panggilan Ilahi, dia termasuk pribadi yang kagum dan penuh hormat kepada empat juru warta yang disampaikan dalam Injil, masing-masing Mateus, Paulus, Lukas dan Yohanes. Ke empat rasul itu mewartakan kejadian-kejadian seputar Yesus, baik ajaran-ajaran maupun peristiwa-peristiwa hidupNya, meskipun mendapat halangan dari berbagai pihak.

Mengutip Prof Hohenberg dalam bukunya The Profesional Journalist, Koesworo mengemukakan, kewartawanan adalah suatu profesi yang gelisah resah. Rata-rata wartawan profesional menginsyafi dirinya tidak akan menjadi kaya raya, kecuali jika berhasil dalam bidang pengelolaan, misal medianya menjadi raja koran di negerinya, menabung uangnya di luar negeri, menyekolahkan anak-anaknya di negara-negara maju, dan seterusnya.

Hohenberg juga mengingatkan, tidak ada jaminan hidup jadi wartawan itu akan mudah dan tenang. Sekalpun demikian, sampai sekarang pun dorongan atau motivasi utama memilih karier junalistik sesungguhnya tidak banyak berubah.

Akhirnya, selamat jalan wartawan senior F.X. Koesworo. Tugasmu sebagai pewarta panggilan Ilahi telah selesai. Warisan dedikasi, semangat dan karyamu di bidang kewartawanan diteruskan para yuniormu di bumi yang penuh dinamika kehidupan ini. (Y.B. Margantoro, wartawan dan pegiat literasi).