bernasnews – Tanggal 1 Juli adalah momentum istimewa bagi Kepolisian Republik Indoenesia (Polri) yang dinamakan dan dirayakan sebagai Hari Bhayangkara. Tahun 2023, adalah HUT ke-77 bagi keluarga besar aparat berbaju cokat itu. Tema kali ini adalah “POLRI PRESISI UNTUK NEGERI” Pemilu Damai Menuju Indonesia Emas.
Berbagai macam kegiatan dilakukan mulai dari Markas Besar Polri di Jakarta hingga ke pelosok tanah air. Warga masyarakat pun terlibat dan dilibatkan dalam perayaan itu, antara lain melalui bakti sosial yang dilaksanakan oleh keluarga besar Polri.
Berkenaan dengan momentum itu, rasanya pas bila mengenang sejenak sosok Hoegeng melalui buku bertajuk Hoegeng Polisi dan Menteri Teladan karya Suhartono (2013). Hoegeng adalah seorang Jenderal Polisi yang menjabat Kepala Polri di zaman transisi Orde Lama menuju Orde Baru. Sebagai polisi, dia dikenal jujur, sederhana, dan tidak kenal kompromi.
Presiden Abdurrahman Wahid pernah mengatakan, “Di Indonesia hanya ada tiga polisi yang tidak bisa disuap : patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.”
Ungkapan itu ingin menekankan betapa sosok Hoegeng pada waktu itu adalah polisi yang jujur. Tentu generasi penerus polisi selanjutnya, kini dan mendatang, dapat menjadi sosok seperti itu. Mereka diharapkan konsisten berjuang untuk menjadi abdi negara yang jujur, sederhana dan tidak kenal kompromi pula.
Kriminolog dan Guru Besar FISIP UI dan Komisioner pada Komisi Kepolisian Nasional Prof. Dr. Adrianus Meliala dalam sekapur sirih buku setebal 167 halaman ini mengemukakan, jika Hoegeng masih aktif hari-hari ini maka kemungkinan besar dia akan dijuluki “orang Samin”. Julukan itu mengacu pada satu komunitas masyarakat di Pulau Jawa yang terbiasa berpikir dan bertindak amat lugu dan logis.
Jika aturannya begitu, ya begitu. Jika dinyatakan suatu hal dilarang atau terlarang, ya sudah jangan dilakukan. Di benak orang Samin, tidak ada kebijakan atau kebijaksanaan, tidak ada pula fleksibilitas ataupun tenggang rasa. Apa kata aturan, ya kemudian ikuti saja.
Teten Masduki seorang aktivis antikorupsi menambahkan, sosok Pak Hoegeng adalah polisi pejuang, dan bukan produk akademi kepolisian seperti kebanyakan polisi sekarang.
Buku yang terdiri delapan bab ini tidak hanya menuturkan keteladanan Hoegeng sebagai polisi dan birokrat yakni Menteri/Sekretaris Presidium Kabinet dan Menteri Iuran Negara, serta Kepala Jawatan Imigrasi Indonesia pada periode tahun1961 – 1966. Namun juga ada kisah hubungan Hoegeng dan Soedharto Martopoespito (sekretaris Hoegeng) yang berakhir tragis.
Menurut penulis buku, ini akibat cengkeraman kekuasaan Orde Baru yang memutuskan hubungan akrab di antara keduanya. Setelah Hoegeng bergabung dengan kelompok Petisi 50, sebagai PNS di kantor Menko Polkam, Soedharto tidak pernah berani lagi berhubungan secara pribadi dengan mantan atasannya itu.
Ujian sebagai polisi
Ujian pertama sebagai polisi dihadapi oleh Hoegeng sebagai Kepala Direktorat Reserse dan Kriminal Kantor Kepolisian Provinsi Sumatera Utara yang baru. Dia dan keluarga disambut oleh pengusaha bertubuh gemuk yang mengaku sebagai ketua “Panitia Selamat Datang”. Panitia ini khusus dibentuk sejumlah pengusaha Medan untuk menyambut datangnya Hoegeng.
Pengusaha itu mengatakan sudah menyediakan rumah, kendaraan dan sejumlah perabotan rumah tangga untuk Hoegeng. Namun dengan halus, polisi bertubuh tinggi ini menolak tawaran tersebut. Sebagai polisi, dia harus tetap bersikap profesional dan menjaga integritas.
Tahap pertama tawaran ditolak, pengusaha itu tidak menyerah. Dia tetap mengirimkan sejumlah perabotan rumah tangga. Hoegeng tetap menolak, sedangkan pengusaha tidak mau mengambilnya. Karena tidak diambil juga, akhirnya Hoegeng mengeluarkan sendiri barang-barang itu dan diletakkan begitu saja di depan rumahnya. Barang-barang itu kemudian rusak terkena hujan dan menjadi tidak bernilai.
Karena tidak mau kompromi, Hoegeng juga tidak jarang menghadapi ancaman pembunuhan. Salah satunya saat dia dijadikan sasaran penembak jitu atau sniper ketika bertugas di kawasan pinggiran hutan di Kota Medan. Namun polisi sederhana ini tidak menceritakan dalam kasus apa dia dijadikan sasaran tembak.
Pegangan hidup
Dalam hidupnya sehari-hari, Hoegeng memiliki keyakinan bahwa kebenaran adalah sesuatu yang hakiki dalam kehidupan sehari-hari manusia apabila dibandingkan dengan sesuatu yang kebeneran (kebetulan, bahasa Jawa).
Kebenaran merupakan sesuatu yang mutlak tentang sebuah kebaikan atau kebenaran itu sendiri. Adapun kebeneran merupakan sesuatu yang sifatnya situasional atau sesaat, mengandung ketidaksengajaan yang belum tentu sebuah kebenaran.
Sejak sebelum menjadi Kapolri, Hoegeng pernah menegaskan menolak jika ditawari tinggal di rumah dinas Kapolri di Jalan Pattimura, Kabayoran Baru, dekat dengan Mabak (Markas Besar Kepolisian).
“Wah, Hoegeng tidak mau nanti jika sudah pensiun, Hoegeng tidak punya rumah tinggal lagi. Jadi Hoegeng tetap akan tinggal di rumah sewaan sendiri saja,” kata dia.
Ketika Hoegeng menjadi Kapolri, si pemilik rumah tidak mau lagi menerima pembayaran uang sewa rumahnya. Tidak mau menyerah dan tidak kurang akal, Hoegeng bayar sewa rumah dengan mengirim wesel.
Selain sayang kepada anak-anaknya yakni Reni Soerjanti, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu, Hoegeng juga memiliki sikap tegas. Namun di balik ketegasannya, dia juga mengajarkan mereka hidup sederhana, mandiri dan bertanggung jawab. Meskipun dia seorang pejabat negara, dia tidak ingin anak-anaknya hidup manja dan menggantungkan diri pada jabatan ayahnya.
Pada tanggal 14 Juli 2004, Hoegeng yang beristeri Meriyati Roeslani akhirnya menyelesaikan “tugasnya” menjaga iman yang teguh. Dia meninggal dalam usia 83 tahun. Selama hidupnya dia hanya mau menyebut namanya Hoegeng, karena merasa belum memiliki iman yang teguh, meski nama lengkapnya adalah Hoegeng Iman Santoso.
Semoga warisan iman yang teguh, sederhana dan profesional dari Hoegeng diwarisi oleh keluarga besar Polri.
Selamat Hari Bhayangkara ke-77 Tahun 2023 kepada Kepolisian Repulik Indonesia, khususnya Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang saat ini dipimpin oleh Inspektur Jenderal Pol Suwondo Nainggolan, S.IK, M.H. Selamat melaksanakan tugas presisi untuk negeri, dan selamat mendukung pemilu damai menuju Indonesia Emas. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)












