bernasnews – Sebuah kata yang familier, sering didengar, dibaca dan ditulis adalah bahagia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kebahagiaan adalah keadaan pikiran atau perasaan kesenangan, ketenteraman hidup secara lahir dan batin yang maknanya adalah untuk meningkatkan visi diri.
Menurut ulasan Dr. Nur’aeni , S.Psi., M.Psi. dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, ada beberapa faktor yang membuat manusia bahagia. Pertama, kehidupan sosial. Orang yang sangat bahagia adalah orang yang memiliki kehidupan sosial yang baik dan sering melakukan sosialisasi.
Kedua, faktor agama atau religius. Orang yang relegius lebih bahagia dan lebih puas terhadap kehidupan. Karena agama dapat memberikan harapan akan masa depan dan menciptakan makna hidup bagi manusia yang nantinya akan bahagia dunia dan akherat.
Ketiga, faktor pernikahan. Di dalam suatu penelitian ditemukan bahwa orang yang menikah dapat mempengaruhi panjangnya usia dan mendapatkan penghasilan.
Keempat, faktor usia. Usia remaja 20 – 24 tahun merasakan lebih bahagia dibandingkan dengan usia di bawahnya dan sebaliknya. Seorang remaja berhak bahagia namun tergantung dari life style dan persepsi tentang hidup.
Kelima, faktor finansial. Bahagia dapat karena uang.
Tulisan di rumah makan
Belum lama ini penulis dan keluarga berkesempatan ke Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah dan mampir di sebuah rumah makan. Dari luar nampak kecil, tidak terlalu banyak meja dan kursi. Namun setelah masuk ke dalam, ada pintu lagi menuju ruang lain yang cukup luas. Intinya, pelanggan boleh makan dan minum di ruang depan atau di bagian belakang.
Kami sepakat memilih ruang depan antara lain lain karena ada tulisan bahagia. Lengkapnya begini, Jangan Lupa Bahagia. Kalau Lupa Sini Aku Bahagiain. Tulisan pertama di bagian atas menyala oleh lampu warna pink, sedangkan tulisan bagian bawah menyala lampu kuning.
Tulisan pertama bagus karena bersifat mengingatkan atau mengajak untuk bahagia. Sedangkan tulisan kedua bernada canda, guyon, tapi tetap santun. Yang pasti, setelah membaca dan menikmati tampilan tulisan itu, penulis merasa senang. Bahwa kita memang harus terus berusaha, atau bahkan memperjuangkan, kebahagiaan. Bahagia untuk diri sendiri, untuk keluarga, untuk sesama dan alam semesta.
Adanya tulisan itu dan keramahan layanan rumah makan kiranya menjadi daya tarik bagi pengunjung. Bukan tidak mungkin, orang akan mau berkunjung kembali ke sana. Paling tidak, pengunjung dapat memposting foto di media sosial, menulis di blog atau menginformasikan kepada teman di whatsapp group.
Dalam ilmu pariwisata, itu bagian dari sapta pesona wisata yakni kenangan. Setiap obyek wisata harus berusaha melaksanakan sapta pesona itu dengan baik agar masyarakat memiliki kesadaran berwisata atau sadar wisata.
Mencari harapan dalam perjuangan
Masih bicara tentang bahagia, ada formulasi lain yang berusaha “mengikat” kata itu agar permanen atau lestari antara lain dalam bentuk tulisan di kaos dan buku. Penulis memperoleh kenangan dari seorang pejabat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan saat purna tugas berupa kaos hitam lengan panjang. Di bagian dada tertulis Jangan Lupa Bahagia, sedangkan di bagian punggung tertulis Bersyukur Itu Bahagia.
Dari sisi barang, kaos itu bermanfaat untuk dipakai khususnya di malam hari karena dapat membantu mengurangi hawa dingin. Kalau dipakai siang hari agak gerah. Namun yang lebih bermakna adalah tulisan di kaos itu. Seolah, tulisan itu selalu mengingatkan penulis untuk tidak lupa bahagia. Juga ketika kita dapat bersyukur, kita akan merasa bahagia.
Barang lain yang mengakomasi kisah-kisah bahagia dalam kehidupan sehari-hari adalah buku. Penulis menyimpan buku bertajuk Menjadi Bahagia (2019) yang ditulis oleh 32 orang guru di Yogyakarta. Judul-judul tuilisannya menarik. Ada Tujuh Hal Bahagia, Bahagia dalam Hati, Bahagia di Mana Saja, Bahagia karena Berbagi, Bahagia Bertemu Buku, Bahagia Itu Pilihan, dan sebagainya.
Namun yang lebih menarik dari itu semua, ada kutipan pernyataan Paus Fransiskus (2019) untuk pegangan menjalani hidup di pengantar editor. Paus menyatakan, “Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, atau hubungan tanpa kekewaan.
Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.
Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat kritis.
Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat kehidupan.”
Tulisan itu pun dihasilkan sebagai ungkap syukur dan bahagia atas hari ulang tahun Eyang Putrinya Mikha, Nathan dan Hazel pada hari Kamis 15 Juni 2023. Tentu saja teriring salam bahagia pula. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta)












