Opini  

Berkah Lebaran bagi Ekonomi Daerah

Kirab Bregada Malioboro saat melintas Jalan Malioboro, ikon unggulan pariwisata Yogyakarta. Pariwisata kota ini kian semarak dan selalu siap menerima kunjungan wisatawan Nusantara maupun Mancanegara. (Foto : Website Dinas Pawiwisata Kota Yogyakarta).

bernasnews – Lebaran berlalu sudah. Namun, bolehlah kita terus bersyukur sebab berkah Lebaran menembus hampir semua sektor bisnis. Sektor bisnis apa saja yang menerima berkah Lebaran? Bagaimana efek positifnya bagi pertumbuhan ekonomi daerah?

Pencabutan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2022 menjadi faktor pendorong dalam merayakan Hari Raya Lebaran 2023. Hal itu berarti pemerintah telah mampu mengendalikan pandemi Covid-19 dan menjaga pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 5,31% pada 2022. 

Selain itu, pencabutan PPKM itu juga telah mendorong mobilitas orang makin leluasa sehingga hampir semua bisnis pun lebih bergairah. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) telah mengucurkan uang tunai Rp 195 triliun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri pada 2023. 

Jumlah itu naik 8,22% dibandingkan pada 2022 sejalan dengan meningkatnya geliat ekonomi dan jumlah pemudik yang diperkirakan bertambah banyak. Menurut prediksi pemerintah, pemudik mencapai 123,8 juta orang pada 2023.

Jumlah itu berarti 44,75% dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 276.639.440 jiwa menurut World Population Review per 8 Februari 2023. Jumlah penduduk Indonesia menempati peringkat ketiga setelah China dengan jumlah penduduk 1,43 miliar jiwa, India (1,42 miliar jiwa) dan Amerika Serikat (339,28 juta jiwa). 

Kemudian, menyusul Pakistan (276,64 juta jiwa), Nigeria (221,74 juta jiwa), Brasil (215,94 juta jiwa), Bangladesh (172,27 juta jiwa), Rusia (144,64 juta jiwa) dan Meksiko (128,09 juta jiwa). Itulah 10 negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia (Kompas.com, 8 Februari 2023).

Aneka sektor bisnis

Lantas, sektor bisnis apa saja yang menadah berkah Lebaran 2023? Apa efek positifnya bagi pertumbuhan ekonomi daerah?

Pertama, sudah barang tentu, bank menerima berkah Lebaran. Apa bentuknya? Sebut saja, pendapatan dari transaksi remitansi (remittances) yang dikirim pekerja migran Indonesia (PMI) yang dulu disebut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di mancanegara. Mendekati Lebaran, remitansi terbang tinggi.

Publikasi Pusat Data dan Informasi pada Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menunjukkan jumlah PMI naik dari 72.624 orang pada 2021 menjadi 200.761 orang pada 2022. Kian banyak PMI, kian melesat remitansi.

Terdapat 10 negara penempatan PMI tertinggi yakni Hongkong (29,93%), Taiwan (26,63%), Malaysia (21,5%), Korea Selatan (5,76%), Singapura (3,30%), Jepang (2,90%), Saudi Arabia (2,33%), Italia (1,78%), Polandia (0,94%) dan Turki (0,74%). Negara lainnya 4,18%.

Bagi bank, pendapatan dari remitansi itu disebut pendapatan dari komisi (fee-based income). Selain pendapatan dari biaya pengiriman remitansi, bank juga menikmati selisih kurs antara valas dan rupiah mengingat remitansi dikirim dalam valas. 

Kedua, sektor pariwisata pun menerima berkah dari bisnis restoran, hotel berbintang dan tak berbintang, home stay, travel, pemandu wisata, destinasi wisata, penyewaan rumah, mobil dan sepeda motor. 

Pun ekonomi kreatif yang termasuk sektor pariwisata. Ekonomi kreatif meliputi 17 subsektor: pengembang permainan, arsitektur, desain interior, musik, seni rupa, desain produk, fesyen, kuliner, film animasi dan video, fotografi, desain komunikasi visual, televisi dan radio, kriya, periklanan, seni pertunjukan, penerbitan dan aplikasi.

Ketiga, hal itu berarti pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga memperoleh berkah. Segmen itu telah memberikan kontribusi tinggi dalam penyerapan tenaga kerja. Tengok saja, UMKM mampu menyerap 119,56 juta tenaga kerja (96,92% dari pangsa tenaga kerja) pada 2018-2019. Bukan main!

Bahkan, Usaha Mikro mampu menyerap tenaga kerja paling banyak yakni 109,84 juta orang (89,04%), Usaha Kecil 5,93 juta orang (4,81%) dan Usaha Menengah 3,79 juta orang (3,07%). Bandingkan dengan Usaha Besar yang “hanya” menyerap 3,81 juta orang (3,08%).

Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong kemajuan segmen tersebut. Demikian pula BI melalui Peraturan BI Nomor 23/13/PBI/2021 tentang Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) efektif 31 Agustus 2021. Aturan itu mewajibkan bank untuk menyalurkan kredit UMKM minimal 30% secara bertahap, tahap 1: 20% pada akhir Juni dan Desember 2022. Tahap 2: 25% pada akhir Juni dan Desember 2023 dan tahap 3: 30% sejak akhir Juni 2024. 

Keempat, namun, bank hendaknya juga ikut mendorong pelaku UMKM agar lebih maju. Bagaimana kiatnya? Bank dapat memperkaya pengetahuan dan keterampilan menyusun laporan keuangan secara sederhana, manajemen pemasaran dan ekspor impor. Alhasil, pelaku UMKM diharapkan naik kelas menjadi eksportir unggul.

Kelima, sektor otomotif pun menerima berkah. Sudah jamak, orang ingin memiliki mobil atau sepeda motor baru atau bekas untuk merayakan Lebaran. Apalagi BI telah melakukan relaksasi loan to value (LTV) hingga 100%. Hal itu sebagai salah satu langkah kebijakan makroprudensial yang bertujuan final untuk menggeber kredit kendaraan bermotor (KKB).

LTV 100% itu berarti uang muka KKB bisa 0% alias bebas uang muka. Namun, ingat makin rendah uang muka, akan makin tinggi biaya angsuran bulanan. Hal itu justru dapat memberatkan nasabah yang bisa mendorong kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bagi bank dan perusahaan pembiayaan.

Wisatawan Nusantara

Survei Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat selama libur cuti bersama 19-25 April 2023, pengeluaran wisatawan Nusantara Rp 2,7 juta per orang. Padahal prediksi pemudik 123,8 juta orang sehingga pengeluaran mencapai Rp 334,26 triliun. Apa efek positifnya?

Tentu saja, tingginya konsumsi masyarakat itu mampu menyuburkan pertumbuhan ekonomi daerah terutama daerah destinasi mudik. Pertumbuhan ekonomi daerah tersebut akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selama ini, konsumsi masyarakat berkontribusi sekitar 54% pada produk domestik bruto (PDB) selain investasi dan ekspor. Sungguh! (Paul Sutaryono; Pengamat Perbankan, Assistant Vice President BNI (2005-2009), Staf Ahli Pusat Pariwisata Berkelanjutan Indonesia (PPBI) Unika Atma Jaya dan Staf Ahli Pusat Studi Bisnis (PSB) Universitas Prof. Dr. Moestopo [Beragama])