bernasnews – Perpustakaan sekolah sebagai garda terdepan dalam kegiatan literasi harus mampu menunjukkan kegigihannya dalam ikut serta mendukung dan berkiprah secara langsung untuk keberhasilan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).
“Ada banyak ruang yang bisa diberikan oleh perpustakaan sekolah, selain sekedar memberikan pelayanan pinjam meminjam buku. Ruang-ruang itu bisa tergantung pada kondisi sekelilingnya. Hal ini bisa dilakukan dengan riset sederhana terkait dengan hal-hal yang belum ada dan perlu ada. Ini sesuatu yang penting bagi siswa. Banyak hal yang bisa disentuh dan banyak hal yang bisa dijadikan ruang sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat sekolah,” kata Pustakawan SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta Dewi Istiqomah, S.E. sebagai pemateri Dialog Literasi di ruang Perpustakaan Sekolah Dasar (SD) Joannnes Bosco, Jalan Melati Wetan No. 53 Baciro, Yogyakarta, Rabu (31/5/2023).
Tampil pula sebagai pemateri dialog literasi bertajuk Aksi Pegiat Literasi dalam Menghadapi Implementasi Kurikulum Merdeka ini Pustakawan SD Joannes Bosco Vincentia Fany Hardiyanta, S.S. dan pemantik materi pegiat literasi Y.B. Margantoro.
Kegiatan perdana kerja sama Perpustakaan SD Joannes Bosco Yogyakarta dan Majalah Literasi Guru (Maligu) ini dihadiri beberapa guru setempat yakni MM Dwi Rahayu, Valentina Puput Septi, Rose Endah, Roberta Imma Dyas, Ambrosius Cahya Widayanta, Birgitta Remma Nugraheni. Suasana dialog berlangsung dengan semangat dan menghasilkan beberapa rencana tindak lanjut.
Prinsip kebermanfaatan
Lebih lanjut Dewi Istiqomah yang juga Redaksi Maligu ini mengatakan, prinsip kebermanfaatan perpustakaan sekolah sangat diperlukan. Jika perpustakaan sudah mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekolah, maka secara otomatis siswa akan merasa diperhatikan dan difasilitasi. Dengan begitu akan muncul sense of belonging di hati siswa.
Menurut dia, Perpustakaan SMP Muhammadiyah 10 Yogyakarta atau dikenal dengan Perpustakaan Muhdasa telah berhasil move on dari ruang fisik perpustakaan yang sangat sederhana kini telah menjelajah menjadi ruang penuh karya dan ruang untuk berinovasi menciptakan kegiatan literasi.
“Perpustakaan Muhdasa yang terletak di lantai dua sekolah dan berada di ujung atau pojok sekolah ini hanya menempati sebuah ruang dengan ukuran minimalis, tetapi bagaimana seorang pustakawan yang berjuang untuk menebarkan virus literasi sehingga meluncurkan program-program literasi di setiap tahunnya,” kata dia.
Pada kesempatan ini, Vincentia Fany Hardiyanta, S.S. juga memaparkan praktik terbaik yang telah dilaksanakan di Perpustakaan SD Joannes Bosco Yogyakarta. (mar)












