bernasnews — Di tengah hiruk-pikuk perubahan zaman dan ketidakpastian global yang kerap mengguncang sendi-sendi kehidupan, sebuah filosofi sederhana namun bermakna dalam terus disuarakan: “apapun yang terjadi di dunia, teruslah menanam”.
Menanam bukan sekadar aktivitas fisik menancapkan bibit ke dalam tanah, melainkan wujud nyata dari optimisme, kesabaran, dan ketahanan dalam menghadapi masa depan. Sebab, sekecil apapun perbuatan kita hari ini—entah itu menancapkan satu bibit, menyiram setetes air, atau sekadar merawat sehelai daun—kelak akan tumbuh menjadi sesuatu yang besar dan bermakna di masa depan.
Dari benih yang kecil, lahir hutan yang rindang; dari tindakan yang sederhana, lahir perubahan yang luas. Semangat inilah yang menggerakkan Kelompok 6 KKN Angkatan 120 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk melaksanakan penanaman tahap pertama sebanyak 100 bibit pohon kakao di Padukuhan Bulu, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.
Kegiatan ini merupakan bagian dari total 250 bibit kakao yang direncanakan, sebagai upaya menghidupkan kembali denyut nadi perkebunan yang sempat redup di wilayah tersebut.
Penanaman yang berlangsung pada 30 Juli 2026 itu tidak hanya melibatkan unsur akademisi, tetapi juga menggandeng berbagai elemen masyarakat, termasuk mitra adopsi pohon yang turut serta menjadi garda terdepan keberhasilan program.
Kehadiran para mitra ini merupakan perwujudan dari keyakinan bahwa menanam adalah kerja kolektif yang membutuhkan gotong royong, bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk generasi yang akan datang.
Puncak acara ditandai dengan serah terima bibit secara simbolis oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Giripurwo, Mike Dewi K, kepada Kepala Dukuh Bulu, Sunarto, serta perwakilan dari mitra adopsi pohon.
Momen ini menjadi lebih dari sekadar seremoni; ia adalah simbol penyerahan amanah bahwa setiap bibit yang ditanam adalah investasi jangka panjang yang kelak akan berbuah manis, sebagaimana kejayaan kakao yang dulu pernah menjadi tumpuan warga.
Dalam sambutannya, Mike Dewi K menegaskan, bahwa pemilihan tanaman kakao didasarkan pada potensi lahan dan historis perkebunan di kawasan Girimulyo yang dikenal subur. Namun, ia mengingatkan bahwa esensi kegiatan ini jauh melampaui angka tanam.
“Kami ingin menanamkan pesan bahwa di saat dunia dilanda berbagai persoalan, kita tetap harus menanam—menanam pohon, menanam harapan, dan menanam kebaikan. Karena itu, kami berkomitmen bahwa program ini tidak berhenti sampai penanaman saja,” harap Mike.
“Monitoring secara berkelanjutan adalah bagian tak terpisahkan dari filosofi menanam itu sendiri, untuk memastikan tingkat keberhasilan program serta memberikan edukasi kepada petani lokal tentang perawatan yang baik,” ujar Dosen Pendidikan Biologi UIN Sunan Kalijaga. (*/ ted)












