bernasnews – Apa yang biasa dilakukan seseorang untuk memaknai atau merayakan sebuah momentum? Tentu beraneka ragam caranya. Ada yang melaluinya biasa-biasa saja, ada yang melaluinya secara bermakna. Bagaimana pun cara merayakannya, momentum itu kemudian akan berlalu, berganti momentum lain, dan begitu seterusnya.
Karena waktu itu tidak akan kembali lagi, maka kita harus bersyukur dan dapat memaknai momentum tertentu agar memberikan kesan dan manfaat. Salah satu momentum di bulan Mei 2023, adalah tanggal 17 Mei yang merupakan Hari Buku Nasional atau Harbuknas.
Dari beberapa momentum penting di bulan Mei, ada beberapa hari yang berkaitan erat yakni tanggal 2 Mei Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) serta 17 Mei Harbuknas dan sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia yang 2023 genap 43 tahun.
Bukankah pendidikan, buku dan perpustakaan adalah tiga serangkai yang tidak boleh dipisahkan atau terpisahkan? Bagaimana pendidikan akan berhasil tanpa dukungan optimal dari buku dan perpustakaan? Maka siapa pun yang berproses di sektor pendidikan, dan sadar menjalani pendidikan seumur hidup setelah lulus atau purna tugas, sebaiknya tetap berhubungan dengan buku.
Merayakan tiga buku
Harbuknas 2023 bagi penulis ternyata memiliki makna istimewa. Mengapa? Karena di momentum ini, tiga buku karya penulis bertajuk Lukisan Matahari – 19 Cerpen Pilihan BERNAS, Sapto Hoedojo Dalam Liputan Media dan Yani Sapto Hoedojo Melayani 24 Jam genap berusia 30 tahun. Ketiga buku itu, satu kumpulan cerita pendek (cerpen) dan dua lainnya adalah biografi tokoh seniman, terbit bersama di tahun 1993.
Tiga buku masing-masing setebal 200 halaman, 256 halaman dan 148 halaman itu penulis temukan di perpustakaan pribadi di antara buku lainnya. Dengan tahun terbit 1993, selain tiga buku itu telah berusia 30 tahun, menunjukkan pula penulis sudah 30 tahun belajar dan berkarya buku. Apakah ini pertanda hebat? Tidak. Ini hanya menunjukkan penulis tetap setia mau berkarya buku hingga kini.
Tentu banyak suka duka penulis alami sebelum ketiga buku itu tercipta dan buku-buku selanjutnya. Karena pada dasarnya senang menulis (semampunya), maka tidak ada kondisi yang penulis artikan duka atau sedih. Semuanya baik-baik atau suka-suka saja. Mengapa? Ketika sebuah buku baru lahir, maka rasa sakit dan sedih sebelumnya terasa tiada.
Kehadiran tiga buku itu sungguh merupakan karunia besar bagi penulis karena dapat mendorong semangat untuk berkarya buku berikutnya. Kata kunci keberlangsungan menulis seseorang adalah rasa percaya diri, selain motivasi, komitmen dan konsistensi. Maka ketika motivasi di awal dan rasa percaya diri sudah dimiliki, mau alasan apalagi bila tidak segera menulis dan menulis.
Selain rasa percaya diri muncul, kehadiran buku itu juga mampu menambah deretan teman, sahabat dan tim kerja di bidang perbukuan. Sahabat itu antara lain sesama penulis, pustakawan, perpustakaan, dan penerbit buku.
Buku sui generis
Tentang buku kumpulan cerpen Lukisan Matahari, hadir sebagai komitmen Harian BERNAS yang berkantor di Jalan Jenderal Sudiman 52 Yogyakarta saat itu untuk memonumentalkan sastra koran ke buku. Karya sastra di halaman koran, yang memiliki posisi dan makna strategis bagi keseluruhan perkembangan sastra, dicoba ikat jadi buku supaya tidak tercecer atau hilang. Nyatanya demikian adanya. Setelah 30 tahun kemudian, karya 19 cerpen pilihan itu masih dapat dinikmati kembali dengan baik dan tersimpan di banyak perpustakaan.
Cover belakang Lukisan Matahari menulis, buku ini menampakkan diri sebagai kumpulan cerita pendek yang aneh. Mungkin, sebagai satu kesatuan utuh dalam arti buku, antologi ini merupakan data sastra yang untuk meminjam istilah para ahli, sui generis, tidak ada duanya. Adapun alasan penyebutan itu adalah bahwa dalam kumpulan ini, cerpen asli disatukan dengan cerpen terjemahan.
Buku ini dieditori FX Mantoro Suryo Putro, Handoko Adinugroho, Ignatius Abi, dan Y.B. Margantoro. Catatan editor bertajuk Bermula dari Niat, menulis bahwa berkat modal itu memberi semangat empat wartawan ini untuk mewujudkan cita-cita yang terpendam selama ini. Yakni mendokumentasikan karya cerpen terjemahan dan asli yang rutin muncul di halaman budaya koran itu.
Bakdi Sumanto dalam pengantar buku ini antara lain menulis, kehadiran karya cerpen terjemahan di koran merupakan gebrakan yang hebat dari sudut kultural. Bahwa telah hadir sastra dunia di koran daerah. Bahkan cerpen-cerpen terjemahan ini ikut menopang lancarnya mata kuliah Sastra Dunia di Fakultas Sastra UGM Yogyakarta.
Cerpen terjemahan yang termuat di buku ini adalah karya Ryan O’neil (Parfum, alih bahasa Bakdi Sumanto), Ernest Hemingway (Museum Perjuangan, alih bahasa Bern Hidayat), C. Rajagopalachan (Sebelum Tapa dan Semedi, alih bahasa Landung Simatupang), dan O Henry (Daun Terakhir, alih bahasa Steve Geroda).
Dua buku kumpulan cerpen lahir kemudian yakni Guru Tarno – 20 Cerpen Pilihan BERNAS (1994) dan Candramawa – Dua Puluh Cerita Pendek Pilhan BERNAS (1995). Setelah itu, belum atau tidak ada lagi buku antologi cerpen koran itu.
Buku sosok dua seniman
Buku Sapto Hoedojo – Dalam Liputan Media dan Yani Sapto Hoedojo – Melayani 24 Jam adalah buku dua sosok seniman yang luar biasa. Dua buku ini dieditori oleh Y.B. Margantoro dan Fadmi Sustiwi Yusuf. Kedua wartawan koran lokal di Yogyakarta itu juga ikut menulis di dua buku itu. Jadi posisi mereka adalah penulis (bersama penulis lain) dan editor.
Sapto Hoedojo adalah seniman budayawan multi talenta internasional yang terus semangat berkarya hingga akhir hayatnya. Dia memiliki kepekaan luar biasa untuk mengubah hal-hal sederhana menjadi karya luar biasa dan bernilai tinggi. Dia merekam manusia, alam dan binatang. Hasilnya tertuang dalam seni lukis, seni patung, seni kolase, seni batik, seni dekorasi, dan sebagainya. Totalitas hidupnya untuk seni budaya, pariwisata dan kemanusiaan yang didukung istrinya, Yani Sapto Hudojo. Banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri yang sudah diperoleh seniman kelahiran Solo, Jawa Tengah 6 Februari 1925 itu.
Buku tentang Sapto Hoedojo berisi tujuh bab yakni : Sapto Hoedojo dan Wartawan; Liputan Media; Dari Ceramah dan Tulisan Sapto Hoedojo; Penghargaan Dalam dan Luar Negeri; Sapto Hoedojo : Profil Budayawan di TVRI Stasiun Yogyakarta;Taman Makam Seniman Budayawan; Kronologi Sapto Hoedojo.
Buku tentang Yani Sapto Hoedojo berisi empat bab yakni : Keluarga dan Kemasyarakatan; Pariwisata dan Seni Budaya; Film dan Olahraga; Pokok dan Tokoh.
Secara pribadi, penulis bersyukur dua hal atas warisan dua buku itu. Pertama, bersyukur pernah belajar dan berkarya di bidang kepenulisan dengan seniman besar dan isterinya itu. Mereka bukan hanya narasumber hebat yang selalu ramah menerima penulis untuk wawancara, namun juga menjadikan kami sebagai saudara dan keluarga baru. Hal ini kiranya juga dirasakan rekan penulis Fadmi Sustiwi Yusuf. Kedua, bersyukur diberi kesempatan untuk membantu melahirkan buku ini. Sebuah buku monumental yang bermakna di Harbuknas maupun semangat berliterasi selanjutnya. (Y.B. Margantoro, Wartawan dan Pegiat Literasi).












