bernasnews – Ada 26 huruf yang kita miliki dalam kepenulisan, mulai dari A sampai Z. Semua huruf itu memilki arti, baik ketika berdiri sendiri maupun disambung huruf lain. Jika huruf kita padukan akan menjadi kata, kalimat, paragraf dan seterusnya. Ini tentu akan lebih bermakna. Kata itu menurut Stephie Kleden-Beetz (2011) adalah jembatan sakral antara langit dan bumi. Maka doa pun juga disampaikan dengan kata-kata.
Dari 26 huruf itu, kita ambil tujuh karakter pertama yakni A, B, C, D, E, F dan G. Misalnya kita tulis kata Aman, Benar, Cukup, Datang, Elok, Fokus, dan Gigih. Tujuh kata itu masuk kategori baik dan dapat ditulis sebaliknya bila ingin berarti tidak baik. Misalnya menjadi Bahaya, Salah, Kurang, Absen, Buruk, Multitasking (melakukan tugas secara bersamaan), dan Menyerah.
Kita juga mengenal konsep SWOT atau strenghts (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang) dan Threats (ancaman). Supaya mudah mengingatnya, dalam bahasa Indonesia kita singkat menjadi Kekepan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman). Kita yakini bahwa keempat unsur penting dalam pribadi, organisasi, dan kehidupan ini dapat saling “bertukar tempat” seiring dengan sikap dan upaya kita. Artinya, S dapat menjadi W dan sebaliknya. O dapat menjadi T dan sebaliknya.
Benang merah dari karakter atau kata adalah tergantung pemaknaan dan sikap kita terhadapnya. Kata akan tetap berhenti menjadi kata, baik yang tertulis maupun yang kita baca atau dengar, apabila tidak kita laksanakan atau praktekkan.
Misalnya, kondisi aman akan dapat menjadi bahaya apabila tidak diusahakan, diperjuangkan dan dijaga. Artinya, kata itu (dan makna yang mengikutinya) harus dipraktekkan apabila itu baik adanya. Sebaliknya, kata yang bermakna negatif, jangan dilakukan atau diubah menjadi positif. Misalnya, kata malas, malu, macet, mafia, dan sebagainya.
Berkaitan dengan hal tersebut, ada pernyataan atau kalimat bijak seperti ini : SATUNYA KATA DENGAN PERBUATAN. Artinya, setiap kata yang ditulis atau diucapkan, sebaliknya dilaksanakan supaya memberikan manfaat dan bermakna. Pertanyaan berikut dalam dunia kepenulisan atau kehidupan adalah : lebih mudah mana menuliskan hal yang kita lakukan atau melakukan apa yang kita tulis? Idealnya tentu saja kedua hal itu dapat kita lakukan.
Misalnya, kita tulis kata komitmen. Sejauh mana kita mau dan mampu melaksanakan hal itu? Baik dalam hal khusus atau dalam kehidupan secara umum. Secara khusus misalnya dalam literasi, kita memiliki komitmen suka membaca dan menulis. Langkah baiknya adalah kita laksanakan dengan sepenuh hati. Disiplin, tidak terpaksa, dan tidak kapan-kapan atau bahkan tidak mau sama sekali.
Kata dan kalimat dalam kehidupan, juga memiliki makna yang patut diperhatikan, diperjuangkan dan dipraktekkan. Salah satu bidang pemikiran manusia yang (paling) penting dipelajari dan dipraktekkan adalah filsafat. Mengapa? Karena bidang ini bercita-cita mencapai makna hidup yang paling hakiki. Filsafat berasal dari kata philosophia (bahasa Yunani), yang berarti cinta kebijaksanaan.
Sebagaimana disampaikan W.J.S. Poerwadarminta, filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas hukum dan sebagainya daripada segala yang ada dalam alam semesta ataupun mengetahui kebenaran dan arti “adanya” sesuatu.
Apakah kita harus belajar ilmu filsafat di perguruan untuk meraih kebijaksanaan dalam kehidupan? Kalau mau dan mampu belajar filsafat, baik adanya. Namun kalaupun tidak, kehidupan kita sehari-hari sangat banyak memberikan ilmu atau pemaknaan, sejauh kita tanggap, peka dan open (bahasa Jawa : mau memanfaatkan hal-hal positif).
Jangankan karunia kehidupan, kata dan kalimat pun dapat menjadi “guru kehidupan” kita untuk menjadi insan yang benar dan baik. Maka berbaik-baiklah dengan kata, baik lisan maupun tulisan.
Ada syarat “SEJUTA”
Pada hari Selasa (25/4/2023) penulis menghadiri sebuah acara lamaran dan pertunangan di sebuah kota di Jawa Tengah bagian selatan. Agenda utama lamaran keluarga pria kepada keluarga perempuan adalah penyampaian maksud dan tujuan lamaran. Biasanya hal ini disampaikan wakil keluarga atau dapat langsung orangtua calon mempelai pria. Selanjutnya yang sangat ditunggu adalah jawaban dari keluarga perempuan.
Ketika maksud dan tujuan lamaran sudah disampaikan, tiba giliran ayah dari calon mempelai perempuan memberikan jawaban. Dia mengatakan bahwa soal diterima tidaknya lamaran biarlah putrinya yang menjawab. Sedangkan dari pihak orangtua, dia hanya mengajukan syarat satu kata yakni SEJUTA.
Mendengar kata sejuta, mereka yang hadir di acara itu sedikit “tegang” menanti penjelasannya. Ternyata, kata sejuta bukan berarti angka atau uang rupiah, namun singkatkan dari SETIA, JUJUR dan TAKUT kepada Tuhan.
Calon mempelai pria kemudian dihadapkan kepada calon mempelai perempuan. Dia bertanya : “Apakah kamu bersedia menjadi istriku”, dan dijawab : “Saya bersedia.” Maka syah dan bersukacitalah kedua keluarga serta para tamu. Plong rasanya.
Tugas penting selanjutnya bukan hanya soal rencana perhelatan perkawinan beberapa waktu kemudian, namun syarat SEJUTA yang disampaikan orangtua calon mempelai perempuan. Siapa yang yang harus melaksanakan? Terutama tentu saja adalah calon mempelai pria. Lalu siapapun yang mendengar syarat itu dan yang membaca tulisan ini dapat melakukannya.
Bukankah setia, jujur dan takut kepada Tuhan itu baik adanya dan boleh dilakukan siapa saja? Orang beriman pasti takut kepada Tuhan, orang memiliki harapan pasti harus bersikap jujur, dan orang yang cinta kepada seseorang atau sesuatu haruslah setia. Mudah diucapkan, didengarkan dan dituliskan, namun bagaimana pelaksanaannya? Memang tidak selalu mudah. Namun kita harus mencoba dan mempraktekkannya dari waktu ke waktu.
Merajut kata-kata (indah) itu relatif gampang, meski relatif sulit juga. Namun harap diingat, tiada kata tanpa makna. Maka selalu pilihlah kata yang benar dan baik ketika berkata dan atau menulis. Tidak ada kata terlambat untuk bersyukur dan berterima kepada Tuhan dan sesama dari menit ke menit. Temukan keajaiban karunia Tuhan di sekeliling kita. Termasuk ketika kita mendengar sesuatu, membaca sesuatu, mengalami sesuatu, serta bertemu seseorang di suatu tempat dan waktu tertentu. Itu semua adalah rencana dan karunia Tuhan Yang Maha Pengasih. (Anto Margono, Pegiat Literasi di Yogyakarta).












