Opini  

Lamaran, Melamar dan Dilamar

Sebagian menu hantaran dalam lamaran pernikahan. (Foto : Kiriman Kris M).

bernasnews – Dalam kehidupan di masyarakat, kiranya setiap orang tidak asing lagi dengan istilah lamaran, melamar dan dilamar. Paling tidak, mereka telah melihat dan atau bahkan mengalami sendiri. Meski istilahnya sama, namun bila keperuntukkannya tidak sama, akan berbeda pula isi, proses dan hasilnya.

Dari sekian banyak bentuk lamaran, kita batasi di sini lamaran untuk memperoleh pekerjaan, lamaran di bidang politik, dan lamaran pernikahan. Bagi mereka yang pernah bekerja atau akan bekerja, maka lamaran pekerjaan adalah sesuatu yang sangat penting dan diperjuangkan untuk berhasil. Bekerja adalah bagian penting dalam kehidupan setelah studi dan sebelum berkeluarga.

Keberhasilan lamaran pekerjaan tergantung banyak hal. Diantaranya adalah kelengkapan berkas lamaran, ketepatan waktu dan lembaga yang dituju, daya tahan menjalani proses, sampai lulus ujian dan wawancara. Hasilnya selalu begini : ada orang yang sekali mengajukan lamaran dapat berhasil, dan ada yang harus berulang kali berusaha namun gagal.     

Dalam bidang politik, lamaran juga berlaku dan diperjuangkan para pihak. Di level bawah dan menengah ada lamaran bergabung ke suatu partai politik untuk jabatan tertentu. Di level atas, ada lobi-lobi politik untuk berkoalisi atau berkolaborasi. 

Dalam perjalanan waktu, menuju hari H pelaksanaan pemilihan umum, apakah ada jaminan kepastian posisi atau loyalitas mitra? Tidak ada jaminan. Sebab dalam politik, kita sama-sama paham bahwa tidak ada mitra (kawan) dan musuh abadi, karena yang abadi adalah kepentingan masing-masing pihak.

Bagaimana dengan lamaran pernikahan? Untuk yang satu ini, prinsip umumnya sama yakni berjuang dan berharap berhasil. Bedanya adalah, untuk lamaran ini tingkat keberhasilannya lebih tinggi karena kedua calon mempelai sudah menjalani poses pacaran dan cocok. Level berikut ditingkatkan ke lamaran, dan kalau kedua keluarga sudah saling menjajaki sebelumnya, maka jawabannya adalah diterima. Tentu hal ini menggembirakan dan memang diharapkan kedua belah pihak.    

Lamaran pernikahan 

Dalam proses lamaran pernikahan ada beberapa tahap yang harus dipersiapkan dan dilaksanakan pada hari H. Tahap persiapan yang penting dilakukan adalah menetapkan hari H pelaksanaan acara itu. Tempat yang dituju adalah rumah calon mempelai perempuan. Persiapan berikutnya adalah personel yang ikut rombongan, kendaraan yang dipakai sampai menu hantaran yang harus dibawa. 

Sebagai orang beriman, apapun agama calon mempelai dan keluarganya, mereka perlu berdoa kepada Tuhan agar semua proses lamaran berjalan dengan baik. Berkah dari orang tua, bapak ibu, kakek nenek, dan keluartga besar juga perlu diminta.  

Selanjutnya pada hari H pelaksanaan lamaran pernikahan, sesuai pengalaman pribadi penulis, dimulai dengan kedatangan keluarga calon mempelai laki-laki di rumah calao mempelai perempuan. Ada upacara penyambutan di sini, yang dimulai dengan pembukaan lamaran. 

Kemudian dilanjutkan penyampaian maksud dan tujuan kedatangan rombongan, pemberian jawaban dari calon mempelai perempuan, penyerahan seserahan, bertukar cincin, perkenalan antarkeluarga dan calon mempelai, pembacaan doa. Setelah itu, dilanjutkan penyampaian pamit dan terima kasih dari kedua calon mempelai.

Adapun hantaran lamaran pernikahan biasanya berisi : perlengkapan ibadah, setelan pakaian, perhiasan, skincare, make up, tas, sepatu, perlengkapan mandi, peralatan tidur, perawatan tidur, cincin, makanan dan buah-buahan, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan hobi, dan lain-lain.

Setiap keluarga tentu memiliki latar belakang dan keinginan berbeda dalam penyelenggaraan acara ini. Ada yang ingin sederhana, ada yang ingin lebih meriah. Apapun pilihannya, hal yang harus diperhitungkan adalah soal angggaran, tempat acara, tamu undangan, seserahan, makanan, dekorasi, dan sebagainya. 

Benang merah harapannya sama : acara berlamgsung dengan lancar, kedua calon mempelai dapat menuju pernikahan dan kelak berkeluarga dengan baik sampai kakek-nenek. (Anto Margono, Pegiat Literasi).