bernasnews – Setiap orang pada dasarnya mempunyai hak untuk berbicara, menyampaikan pendapat, berkisah, atau bertanya. Namun belum atau tidak semua orang mau dan mampu melakukan hal tersebut. Selain itu, bentuk pendapat atau waktu yang tepat untuk bicara, juga dapat menjadi masalah tersendiri.
Bagi mereka yang sudah pernah memulai, mencoba dan terbiasa berbicara tentu tidak masalah. Sebaliknya, bagi mereka yang belum terbiasa dan apalagi berbicara di depan orang banyak, tentu bukan perkara gampang.
Bagaimana kalau berbicara atau berpendapat diganti dalam bentuk tertulis? Artinya menyampaikan gagasan, pendapat, argumentasi atau kisah secara tertulis? Ternyata juga tidak semudah yang dibayangkan atau diharapkan orang. Persoalannya tetap menyangkut keberanian atau rasa percaya diri yang bersangkutan.
Kalau orang atau sekelompok orang itu dikerucutkan ke dalam komunitas profesi tertentu, bagaimana kiranya? Misalnya mereka yang berkarya di satuan perpustakaan, yang lazim disebut pustakawan. Dalam kenyataan, ada pustakawan yang mau dan mampu berbicara secara lisan maupun secara tertulis tentang dunianya, dan ada yang sebaliknya.
Sebagai pegiat literasi, penulis bersyukur bersahabat dengan perpustakaan dan pustakawan. Di perpustakaan pribadi penulis, ada sejumlah buku karya pustakawan baik yang berkarya di institusi pemerintah, satuan pendidikan dan perpustakaan, maupun taman bacaan masyarakat (TBM). Artinya, kita turut bersyukur bahwa ada pustakawan yang mau, senang dan mampu menulis. Baik menulis di media maupun di buku.
Di sela-sela belajar dan berkarya dengan bahan pustaka, senang rasanya dapat menikmati kisah-kisah pustakawan. Baik sebelum masuk satuan perpustakaan, ketika berkarya di lembaga masing-masing, dan kelak ketika mengalami perputaran tugas atau pensiun. Ketika memasuki purna tugas sebagai pustakawan, semoga tetap mencintai dan berkarya buku.
Menggunakan sebelum menjual produk
Dari sepuluh buku yang menjadi referensi tulisan ini, empat buku ditulis oleh pustakawan pemerintah yakni dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kulonprogo.
Judul-judul buku kelompok ini menunjukkan ciri khas semangat mereka yakni Pustakawan Mengabdi untuk Negeri, Merajut Kebersamaan Menjadi Kekuatan, dan Gerakan Literasi dari DPK Sleman untuk Keistimewaan Yogyakarta. Hanya dari Kulonprogo yang berbeda kajiannya yakni Sebuah Refleksi Makna Hari-Hari Besar.
Ada kutipan menarik dari seorang kepala dinas organisasi pemerintah daerah itu. Sebagai insan perpustakaan harus memiliki semangat bahwa sebelum “menjual produk kita”, tulisnya, seyogyanya kita harus menggunakannya terlebih dulu sehingga kita mampu meyakinkan “calon pembeli” untuk melakukannya yaitu membaca dan menulis. Untuk bekal menulis, kita harus membaca, karena dengan membaca dapat mempertajam daya pikir dan dengan menulis kita dapat menjaga ilmu bahkan dapat menginspirasi orang lain dan memperpanjang usia.
Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta Ir. Aman Yuriadijaya, M.M. pun menulis, bahwa buku Pustakawan Mengabdi untuk Negeri merupakan kado menarik bagi masyarakat dan pembaca khususnya. Mengapa? Karena buku ini menggambarkan kreasi tulis unik dan menarik para pustakawan dan mereka yang bertugas di DPK dalam mengungkapkan pengalamannya mengabdi sebagai pelayan masyarakat.
Dari beberapa judul tulisan di halaman isi, kita dapat mengetahui lika-liku dinamika pustakawan dan arsiparis. Misalnya : Emang Enak Jadi Pustakawan? Siapapun Boleh Menjadi Pustakawan – Siapapun Boleh Menjadi Pemustaka, Asyiknya Menjadi Arsiparis, Indahnya Berbagi, Proses Pengolahan Buku, Pustakawan Kini Beda, Citra Pustakawan di Mata Masyarakat.
Organisiasi profesi pustakawan
Koleksi buku berikutnya adalah karya pustakawan yang berkarya di satuan pendidikan dan perpustakaan, sampai mereka yang tergabung dalam organisasi profesi pustakawan seperti Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), dan Asosiasi Tenaga Pustakawan Seluruh Indonesia (ATPUSI).
Bunga Rampai Karya Perpusdokinfo Pelangi di Media adalah buku karya Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang merupakan antologi tulisan pustakawan PTS tersebut di media massa. Tradisi pustakawan menulis di media publik kiranya terjaga dengan baik dan kemudian diapresiasi lanjut dengan menjadikan buku bersampul cover-cover media yang memuat tulisan mereka.
Institusi Perpustakaan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) Yogyakarta juga menghasilkan karya buku bertajuk SDM Perpustakaan Tangguh STPN Maju. Bedanya, karya pustakawan yang terangkum di sini adalah tulisan langsung untuk buku. Judul-judul tulisannya menarik, mulai dari yang sederhana sampai inspiratif. Misalnya Warung Bakso Perpustakaan, Pekerjaanku adalah Temanku, Sumber Daya Manusia Perpustakaan Tangguh.
IPI DIY juga menghasilkan karya antologi para pustakawan anggotanya dengan judul puitis, Dari Balik Jendela Perpustakaan – Goresan Pena Pustakawan. Setelah dibaca materi isinya, buku setebal 172 halaman ini memang dibagi dua bagian yakni (tulisan) artikel dan puisi. Jelas bahwa judul buku ini mewakili bagian puisi.
ATPUSI Kota Yogyakarta tidak mau ketinggalan. Para pengurus asosiasi ini menorehkan karya bersama bertajuk Jejak Pustakawan di ASTPUSI Yogyakarta. Mereka sadar bahwa jejak atau langkah pengabdian mereka harus direkam atau dimonumentalkan. Pilihan mereka dalam bentuk buku. Kalau di lembaga kesehatan ada rekam medis, di perpustakaan dan pustakawan (seharusnya) ada rekam pustakawan.
Buku lain bertajuk Bersahabat dengan Perpustakaan seolah menggaris bawahi bahwa kita sebagai pembelajar seumur hidup sebaiknya bersahabat dengan perpustakaan, terutama dengan para pustakawannya.
Selamat membaca dan menulis. Salam literasi. (Anto Margono, Pegiat Literasi dan Sahabat Pustakawan)












