bernasnews — Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidiakan tertentu. Kurikulum dapat dianalogikan sebagai jantung manusia (Kemendikbud Nomor 719/P/2020).
Bila jantung lemah, akibatnya proses aliran darah terganggu dan berakibat fatal bagi tubuh. Demikian juga dengan kurikulum, bila kurikulumnya kurang relevan, proses pendidikan terganggu dan berakibat fatal bagi kehidupan murid pada masa kini dan masa depan mereka.
Kurikulum didesain berdasar kebutuhan murid mulai dari kompetensi yang akan dicapai murid sampai proyeksi masa depan mereka. Murid menjadi acuan pengembangan kurikulum. Kemerdekaan murid dalam belajarnya adalah menjadi titik tolak dalam pengembangan kurikulum.
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara mengamanatkan, bahwa pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Kurikulum yang baik harus sesuai dengan perubahan zaman berdasarkan kebutuhan murid. (Platform Merdeka Mengajar: Topik Kurikulum Merdeka, 2023)
Kecenderungan elemen sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua murid tidak begitu antusias menanggapi munculnya kurikulum baru. Mereka sudah merasa nyaman dengan kurikulum yang telah dijalani sebelumnya. Elemen sekolah tidak mau repot dengan segala bentuk perubahan yang terjadi. Mereka lebih memilih situasi pada zona nyaman.
Namun kenyataan yang terjadi, murid di era lima sampai sepuluh tahun yang lalu berbeda dengan murid di era sekarang. Perbedaannya meliputi materi pembelajaran, metode pembelajara, konten pembelajaran, gaya belajarnya, dan kebutuhan belajarnya. Dalam hal konten pembelajaran, murid dengan mudah mencari di luar kelas dengan berselancar di internet. Mereka sangat mudah mencari berbagai informasi yang ditawarkan di dunia maya. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi sekolah, dan guru. Guru dituntut beradaptasi dengan perkembangan ini.
Perlu disadari oleh sekolah dan orang tua bahwa pembelajaran di kelas tidak sekadar berorientasi pada ilmu pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi para murid membutuhkan pembinaan karakter agar para murid dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat. Perangkat kurikulum yang mampu mengembangkan murid secara utuh sangat diperlukan. Selain perangkat kurikulum yang dinamis, diperlukan pendampinagan holistik dari pemangku kepentingan yang lain.
Kurikulum harus bersifat dinamis agar dapat memenuhi kebutuhan belajar murid. Oleh karena itu, kurikulum perlu dikembangkan agar dapat menjawab persoalan yang terjadi dalam masyarakat Indonesia. Pengembangan kurikulum juga dapat mewariskan nilai-nilai karakter dan budaya bangsa Indonesia yang mengglobal. Pengembangan kurikulum juga dapat mengikis sikap-sikap intoleran yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan.
Diberlakukannya Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan pada satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum nasional dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan murid di tingkat satuan pendidikan. Kurikulum Merdeka mampu menjawab segala kebutuhan murid karena dikembangkan berdasarkan kondisi setiap murid yang berbeda.
Pendekatan yang digunakan oleh guru dalam satuan pendidikan adalah pendekatan diferensiasi. Pendekatan ini membangun kesadaran baru bahwa setiap murid itu unik dan berbeda berdasarkan latar belakang keluarga, budaya, sosial ekonomi, minat belajarnya, dan gaya belajarnya. Pendekatan diferensiasi akan menempatkan murid sebagai pribadi yang utuh dengan segala perbedaan yang dimiliki. Murid akan dikembangkan secara, kognitif, psikomotrik, dan afektif. Murid akan menjadi pribadi yang merdeka.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan praktik nyata pelaksanaan Kurikulum Merdeka. Pembelajaran yang dilakukan guru di kelas didasarkan pada kebutuhan murid. Bisa berdasarkan gaya belajarnya, kesiapan belajarnya, maupun minat belajar mereka. Meskipun murid di kelas belajar tema yang sama, tetapi masing-masing murid dapat menentukan caranya sendiri dalam belajar. Guru sebagai fasilitator dalam proses belajar, bertugas melayani murid apabila mereka mengalami kesulitan.
Kurikulum Nasional perlu diadaptasi sesuai dengan kondisi satuan pendidikan dan kebutuhan murid. Dalam pemilihan konten belajar yang sangat beragam. Diberikan sebuah contoh pada salah satu TP mata pelajaran IPA untuk fase D “Menganalisis interaksi makhluk hidup dan lingkungannya sehingga dapat merancang upaya-upaya mencegah dan mengatasi pencemaran dan perubahan iklim”.
Murid yang tinggal di lingkungan pantai akan mendapat konten yang berbeda dengan murid yang tinggal di lingkungan pegunungan. Murid yang tinggal di pantai akan mendapat konten cara menghadapi tsunami atau bahaya banjir, sedangkan murid yang tinggal di pegunungan akan mendapatkan konten cara menghadapi bahaya tanah longsor. Salah satu indikator keberhasilan proses pembelajaran adalah jika murid mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan di masa depannya. Belajar menjadi berarti tatkala apa yang dipelajari murid bermanfaat bagi kehidupan dan masa depan mereka.
Setiap guru dituntut untuk membuat skenario pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid. Guru wajib menghamba murid dan melayani mereka. Guru pun tidak bisa memaksa murid belajar seperti yang diinginkannya. Gurulah yang harus mampu memenuhi kebutuhan murid sebagai individu yang utuh. Guru sangat diharapkan sebelum mulai pembelajaran melakukan tes diagnostik untuk mengetahui kebutuhan belajar setiap murid. Apabila proses tersebut dilaksanakan, maka proses belajar dimungkinkan dapat berhasil.
Segala ikhtiar dalam pembelajaran terus kita benahi, kita kembangkan, dan kita realisasikan dengan cara akademis yang bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Tentu segala upaya akademis tersebut kita balut dengan niat hati yang tulus sebagai guru yang senantiasa hadir di depan kelas. Kehadiran guru di depan kelas tidak bisa tergantikan oleh piranti teknologi apa pun guna menyiapkan para murid menjadi manusia yang selamat dan berbahagia. (Rr. Kusdihantari, S. Pd, Guru IPA SMP Maria Mediatrix Semarang)












