Opini  

Mangayubagya 77 Tahun FK-KMK UGM 2023

Alumni FK UGM 1986 Yogyakarta dr. Asdi Yudiono. (Foto : Dokumentasi pribadi)

bernasnews – Bersyukur, berterima kasih dan bangga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Yogyakarta pada tahun 1986. Bersama sesama alumni, kami telah menjalani kiprah di bidang kesehatan dan kemanusiaan di berbagai sektor dan bidang pelayanan di seluruh tanah air.

Berkat bimbingan para dosen yang luar biasa, proses belajar mengajar yang mantap, dan keakraban antarteman sejawat, kami menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk mengabdi kepada kampus, negeri dan kemanusiaan. 

Dalam perjalanan waktu, lembaga pendidikan yang kemudian bernama Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM Yogyakarta ini, genap berusia 77 tahun pada 4 Maret 2023. Pada kesempatan ini, izinkan saya turut mengayubagya dan menyampaikan selamat atas momentum istimewa tersebut. Semoga FK-KMK UGM tetap dapat melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan baik dan sukses.   

Sakit, profesi dan keberutungan

Sejenak mengenang masa lalu sebelum masuk ke FK UGM Yogyakarta. Pada pertengahan tahun 1985, saat itu sepulang dari sekolah di SMA Kolese De Britto Yogyakarta, badan saya terasa panas tinggi, nyeri kepala hebat, ngilu seluruh badan dan mual muntah diikuti nyeri perut hebat.

Kondisi itu, membuat saya harus terkapar dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta selama dua minggu dengan diagnosa Demam Viral. Ternyata rumah sakit tersebut kelak kemudian hari menjadi instansi tempat saya bekerja semenjak tahun 2002 sampai dengan 2021. 

Puji Tuhan, dua minggu perjuangan dari sakit dapat teratasi berkat kolaborasi tim dokter, perawat dan lingkungan rumah sakit yang sangat berkesan. Dari sinilah terkuak wacana dari hati yang tulus, SAYA INGIN JADI DOKTER.

Peristiwa ini tepat di saat saya  mendapat kesempatan mengisi lembar isian PMDK dari SMA saya. Ternyata, setahun kemudian tanpa diduga, saya diterima sebagai Mahasiswa PMDK di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Yogyakarta..

Enam tahun Kampus Biru UGM menjadi wadah yang membentuk karakter para mahasiswanya. Meringankan penderitaan dan memperpanjang usia kehidupan manusia, menjadi motto yang menginspirasi saya untuk berkata, bertindak dan berbuat bagi sesama.

Zaman berbeda

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan  Keperawatan (FK-KMK) UGM masa kini, tentulah sangat berbeda dengan Fakultas Kedokteran (FK) UGM di zaman kami menimba ilmu. Gedung kuliah lama, laboratorium dan fasilitas lainnya yang masih jauh dari modern dibanding zaman sekarang.

Tuntutaan zaman di era digital menuntut perkembangan teknologi kedokteran modern, dan peran serta kaum milenial yang melek teknologi berkembang bersama fakultas membangun karakter dokter yang semakin hebat.

Di saat kami kuliah pada tahun 1986 sampai dengan 1992, ada beberapa hal yang membuat kenangan tidak akan terlupakan. Di antaranya, saat praktikum anatomi semester 2, mahasiswa sudah memulai untuk membedah cadaver (mayat yang sudah diformalin). Satu persatu organ dibedah, satu persatu pula kami menengok ada apa di dalam tubuh manusia yang terdiam kaku, dan telah menjadi “guru” kami semuanya. 

Sampai saat ini, kami masih terbayang bentuk cadaver yang telah menemani kami belajar selama dua semester. Selama itu pula, tangan saya terkoyak akibat iritasi dengan formalin yang ada di dalam tubuh cadaver tersebut. Pedih, mengelupas dan gatal di telapak tangan saya. Selama itu pula derita tersebut harus saya selesaikan dan dengan kondisi apapun saya berusaha agar dapat melewatinya dengan baik.

Kenangan kedua, saat hari pertama koass di Bagian Forensik, ada tugas menjadi operator visum et repertum seorang remaja yang kejang karena sakit epilepsi (ayan) dan terlindas kereta api di atas Jembatan Kewek Kotabaru, Yogyakarta. 

Wajah remaja putri itu masih terngiang sampai saat ini, dengan hati yang tegar saya sambung kepalanya yang terlepas dari badannya. Setiap kali berkendara melewati jalan di bawah jembatan itu, saya selalu teringat mendiang remaja yang kusambung kepalanya pada taun 1991 itu.

Akhirnya, setelah menyelesaikan tugas koass, tepat di penghujung tahun  31 Desember 1992 pelantikan sebagai dokter terlaksana dengan baik dan membahagiakan saya dan seluruh keluarga.

Anugerah pasangan hidup

Sejarah berubah, adanya gelar dokter menjadi tonggak untuk membangkitkan semangat melayani sesama secara total. Menjadi dokter jaga UGD Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (tahun 1993-1994), membuat pola pikir awal sebagai dokter muda dalam bertindak cepat, tepat dan mengenal kehidupan yang mandiri untuk menentukan langkah pengobatan pasien.

Tidak hanya keterampilan medis saja yang saya dapat, tapi seorang gadis cantik yang berdinas di counter Bank Lippo (sekarang CIMB Niaga) untuk menjadi isteri dan ibu dari lima orang putera-puteri kami dan oma dari seorang cucu kami.

Perjalanan hidup semakin lengkap, setelah menjalani wajib sarjana sebagai Dokter PTT di Puskesemas Tempel 1, Puskesmas Minggir dan menjadi dokter di beberapa Rumah Sakit Swasta, seperti Rumah Sakit Ludira Husada Tama, Rumah Sakit Panti Nugroho dan terakhir di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta (tahun 1998 sampai dengan 2021).

Selain itu, saya juga berkarya praktek dokter pribadi dan berkembang menjadi Klinik Pratama INTAN di seputaran Pakualaman, Yogyakarta. Satu demi satu pasien saya layani sejak tahun 1995 sampai sekarang. Puji Tuhan, klinik kami mendapat kepercayaan bagi masyarakat yang membutuhkannya.

Disamping  usaha  layanan tersebut,  kami diberi kesempatan untuk memulai wirausaha di bidang persewaan mobil (tahun 1998 sampai sekarang), usaha tas rotan (tahun 2011 sampai sekarang) serta homestay & apartemen (tahun 2015 sampai  sekarang). 

Rasa syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas petunjuk-Nya memberi jalan lanjutan disamping profesi dokter, sebagai pengisi kegagalan saya menempuh spesialisasi (dua kali pada tahun 1997 dan 1998). (dr. Asdi Yudiono, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1986, Panitia 77 Tahun FK-KMK UGM 2023)