bernasnews – Pengurusan kemiskinan merupakan satu isu penting yang berkaitan dengan keadilan sosial dan pembangunan berkelanjutan yang melibatkan pembangunan ekonomi dan sosial. Pembangunan ekonomi yang mampan dan inklusif dapat meningkatkan peluang pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat. Maka pengurusan kemiskinan harus dipandang sebagai satu usaha yang terintegrasi.
Tanah terbiar seringkali menjadi masalah dalam kalangan masyarakat dan pemerintah. Fenomena tanah terbiar merujuk kepada kawasan tanah yang tidak digunakan untuk tujuan produktif seringkali dibiarkan terbiar atau tidak terurus. Oleh karena itu, reformasi tanah terbiar diperlukan untuk memaksimumkan kegunaan kawasan tanah dan memberikan manfaat ekonomi dan sosial kepada masyarakat.
Bermula pada tahun 2006, pelaksanaan pembaruan agraria dinyatakan secara tegas sebagai program Indonesia dengan menetapkannya sebagai salah satu fungsi Badan Pertanahan Nasional (BPN) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2006. Reformasi tanah terbiar adalah satu usaha yang bertujuan untuk mengembalikan kawasan tanah yang terbiar dan tidak digunakan kepada kegunaan yang lebih produktif.
Reformasi tanah terbiar dapat memberikan banyak manfaat kepada masyarakat, terutamanya dalam membantu mengurangkan masalah kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Tanah yang terbiar dan tidak digunakan secara produktif dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan baru bagi petani dan peniaga kecil.
Suka bercocok tanam
Secara umum masyarakat Aceh adalah masyarakat agraris yang cenderung menyukai bercocok tanam. Selain itu, peratusan harga tanah juga meningkat pesat dalam 5 (lima) tahun ke belakang. Banyaknya tanah kosong dalam lingkungan masyarakat dinilai sangat disayangkan untuk tidak diuruskan dengan baik. Sehingga kerajaan baik melalui pejabat tanah maupun baitul mal boleh menggalakkan program padat karya bagi pemilik tanah agar tanahnya dapat diberi kuasa dan mempunyai nilai keuntungan yang signifikan atas hasil tanam yang dilakukan.
Pengembangan program padat karya pada gampong karang anyar Bandar Langsa sebagai sebagian dari program gampong pertanian di Aceh diharapkan mampu menjadi pilot project bagi daerah lain. Dimana, masyarakat dapat memberi beberapa tanah kosong untuk diberi kuasa bercocok tanam atas beberapa tanaman yang diyakini mempunyai nilai jual tinggi dan memberikan keuntungan bagi si pemilik tanah. Selanjutnya, dengan adanya program gampong pertanian tersebut dapat mengurangkan kemiskinan dan memberdayakan masyarakat agar mempunyai pekerjaan yang menguntungkan.
Pihak pejabat tanah dan baitul mal di Kota Langsa seyogyanya dapat mengembangkan juga program kerajaan yang disebut dengan Bank Tanah. Dimana kerajaan dapat merekodkan dan melakukan survey berkala ke kawasan pedalaman masyarakat yang tanahnya terbiar. Sehingga tanah tersebut selain dimasukkan dalam data bank tanah namun dapat digunakan sewaktu-waktu untuk kepentingan masyarakat setempat. Selain itu, Kota Langsa dalam memberdayakan tanah masyarakat juga dapat memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga dalam memberi tanah tersebut tidak bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi.
Adapun hasil dari kepengurusan tanah kosong tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan prinsip syari’at Islam tanpa mengecualikan peraturan nasional yang lebih tinggi yang mengatur permasalahan pertanahan. Hal tersebut diyakini mampu memberikan kepastian hukum dan kemanfaatan bagi masyarakat pemilik tanah tanpa adanya nilai diskriminasi, khususnya dalam pembagian hasil keuntungan dari pemberdayaan tanah tersebut. Hal tersebut menjadi kuasa dari kerajaan khususnya pejabat tanah Bandar Langsa maupun baitul mal sebagai institusi yang berlandaskan syariat Islam di Aceh.
Beberapa saran
Dari studi kasus tentang reformasi tanah terbiar dalam konteks pengurusan kemiskinn yang penulis lakukan di Aceh disampaikan beberapa saran sebagai berikut :
1). Dinasihatkan kepada masyarakat yang mempunyai tanah yang kosong agar lebih dapat diberi kuasa sebagaimana mestinya agar turut serta menjayakan program pemerintah dalam mendayagunakan tanah kosong tersebut sehingga mempunyai nilai ekonomi yang memberikan keuntungan bagi pemilik tanah sendiri maupun masyarakat sekitar.
2). Kepada masyarakat lain di seputaran Kota Langsa agar mencontohi gampong karang anyar Kota Langsa sebagai salah satu gampong pertanian dalam menguruskan tanah miliknya agar dapat diberdayakan baik dengan melakukan cocok tanam maupun hal lain yang dapat bernilai ekonomi dan memberikan keuntungan. Apabila hal tersebut berjaya dilakukan maka diyakini setiap wilayah yang telah memberi kuasa tanahnya dengan baik akan turut serta membasmi kemiskinan secara umum di Kota Langsa.
3). Kepada Pemerintah Indonesia agar menentukan sebuah peraturan khusus bagi Aceh yang berlandaskan syari’at Islam berkaitan pemberdayaan dan pendayagunaan tanah kosong agar dalam pelaksanaannya tidak bertentangan dengan peraturan pertanahan lebih tinggi, sehingga dapat dilaksanakan dengan baik oleh baitul mal di dalam melaksanakan program bank tanah yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia.
4). Kepada Kerajaan Aceh, khususnya pemerintah Bandar Langsa, agar dapat melakukan kerjasama dengan baitul mal dalam memberikan sarana dan prasarana untuk menggalakkan pemberdayaan tanah kosong agar dapat diberi kuasa oleh masyarakat sekitar. Dengan demikian, proses dari pemberdayaan dan pendayagunaan tanah kosong hingga pembahagian keuntungan tidak merugikan masyarakat.
(Dr. Agustyarsyah, ASN di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Tenaga Pengajar di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional Yogyakarta)











