bernasnews – Mengenang seseorang dapat melalui berbagai cara. Salah satunya adalah melalui buku. Yang dikenang kebetulan adalah wartawan di era Orde Baru. Sedangkan media kenangannya juga karya wartawan. Bukankah buku merupakan mahkota wartawan? Atau sebetulnya juga mahkota profesi lain, misalnya pendidik, pustakawan, sampai warga umumnya.
Nama wartawan itu adalah Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang tewas dianiaya oleh orang tidak dikenal pada tanggal 13 Agustus 1996 dan tiga hari kemudian jurnalis Harian Bernas itu meninggal dunia. Di momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2023 pada 9 Februari, rasanya pas untuk sedikit mengenang sahabat wartawan ini.
Empat buku dari pustaka pribadi penulis dibaca ulang untuk mengenang kembali Udin. Buku pertama adalah : Udin Upaya Menegakkan Kebenaran (Februari 1998). Buku terbitan Harian Bernas dan PT Muria Baru itu memuat sambutan Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) Munawir Sjadzali dan pengantar Ashadi Siregar.
Ada 27 topik tersaji dalam buku bergambar sampul Udin sedang memegang kamera ketika meliput di lapangan ini. Mulai dari tampilan karya pemenang lomba menulis tentang Udin, karikatur khusus Udin, kronologi kasus Udin dan sidang Iwik, foto-foto, sampai sejumlah artikel opini di Bernas khusus tentang Udin.
Budayawan Emha Ainun Nadjib menulis dalam artikel bertajuk Balada Negeri Siluman : Kaum wartawan berkeyakinan bahwa kematian Udin disebabkan oleh soal pemberitaan yang dilakukan Udin di Bernas. Kita bisa kuliti substansinya dengan pertanyaan : Apakah Udin dibunuh karena telah memberitakan sesuatu? Untuk jawaban atas pertanyaan itu muncul pertanyaan berikutnya : Berita tentang apa yang sudah Udin lakukan? Atau berita tentang apa yang Udin bersikeras akan memberitakannya? (Bernas, 24/11/1996).
Didukung jajak pendapat
Di buku Litbang Koran (Harian Bernas, Editor YBM, 2000), kasus Udin ditulis dalam Bab III. Ada sembilan tulisan yang mengisi bab ini. Kesembilan tulisan itu bertajuk Pemenang Lomba Menulis Artikel 1 Tahun Meninggalnya Udin; Hasil Jajak Pendapat Bernas : Iwik Pembunuh Udin? Tidak Ada yang Percaya; Berita Itu Berdampak Negatif : Kapolres Bantul Soal Jajak Pendapat Bernas.
Kemudian tulisan Wawancara : Ny Endang dan Kemandirian Hakim; Kapolda DIY : Edy Wuryanto Tanggung Jawab Saya; Letkol Erwin : Saya akan Tangkap Pembunuh Udin; Polling dan Sumbang Saran; Hasil Jajak Pendapat : Udin Dibunuh Pembunuh Bayaran; Polling dan Saran Pembunuhan Kasus Udin Bermacam Saran, Kuncinya Sama.
Editor menulis di bab ini, Udin adalah wartawan dan sekaligus fenomena. Sebagai wartawan dari sebuah koran lokal, ketika dia dianiaya dan tewas karena berita empat tahun silam (waktu itu, red), siapa mengira bahwa kasusnya mencuat secara nasional dan internasional? Siapa pula mengira kasusnya hingga kini terus terkatung-katung? Tapi itulah kenyataannya.
Selanjutnya di buku Dialog Demokrasi dan Keadilan (Harian Bernas dan PT Muria Baru, Editor YBM, 2011), bagian dua bicara tentang Bernas. Pada buku kumpulan tajuk rencana (editorial) Harian Bernas itu menyajikan Sembilan bagian lain. Yakni Agama, Budaya, Ekonomi, Luar Negeri, Olahraga, Pendidikan, Pers, Sosial Politik, dan Umum.
Di bagian dua tentang Bernas, tim buku menyajikan lima tajuk rencana. Satu tentang Bernas Menuju Milinium Baru, sedangkan empat lainnya bicara tentang Udin. Mulai dari Udin, Wartawan Idealis dan Berani; “Episode Iwik” : Sudah tamat, “Episode Udin” Belum; Kasus Udin Harus Segera Dituntaskan; dan Pena Emas untuk Udin.
Pada tajuk kelima ini terungkap bahwa untuk pertama kalinya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menganugerahkan penghargaan Pena Emas kepada seorang wartawan. Dan yang mendapat kehormatan itu adalah wartawan Bernas, almarhum Fuad Muhammad Safruddin alias Udin yang meninggal 16 Agustus 1996, setelah dianiaya orang tidak dikenal di kediamannya di Bantul, 13 Agustus 1996. Sebelum ini, PWI memberikan penghargaan Pena Emas hanya kepada tokoh masyarakat non wartawan. Acara penyerahan penghargaan Pena Emas untuk Udin dan diterima isterinya itu dilaksanakan di Semarang, Jawa Tengah, 9 Oktober 1998.
Bersama tokoh wartawan Indonesia
Ada seratus tokoh pers Indonesia terangkum dalam buku bertajuk Tanah Air Bahasa – Seratus Jejak Pers Indonesia (Supervisi Taufik Rahzen, Editor Muhidin M Dahlan, 2007). Dari 100 tokoh itu, ada bab yang membahas tentang lembaga antara lain Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Antara, Aliansi Jurnalistik Indonesia, Pantau.
Nama-nama tokoh dalam buku terbitan i:boekoe itu tidak sembarangan tentu saja. Ada Bapak Bangsa Soekarno dan Mohammad Hatta. Kemudian ada Tirto Adhi Soerjo, Dr Wahidin Sudirohusodo, HOS Tjokroaminoto, Ahmad Dahlan, Ki Hadjar Dewantara, Sutan Takdir Alisyahbana, Djamaludin Adinegoro, Adam Malik. Ada pendiri Harian Nasional yang kemudian menjadi Bernas yakni Mr. Soemanang. Kemudian ada Madikin Wonohito, Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Pramudya Ananta Tour, Jakob Oetama, Harmoko, dan sebagainya.
Dan di buku setebal 453 halaman itu, pada urutan nomor 93, halaman 386, ada tokoh bernama Fuad Muhammad Syafruddin dalam tulisan bertajuk Dana IDT Hanya Diberikan Separo. Penulisnya Rhoma Dwi Aria Yuliantri. Kebetulan ketika mewawancarai untuk tulisan tersebut di kantor Bernas, salah satu narasumber yang ditemui Rhoma adalah penulis (YBM) sehingga diberikan buku istimewa ini.
Udin ada di buku Tanah Air Bahasa – Seratus Jejak Pers Indonesia! Ini sungguh luar biasa dan membanggakan. Membanggakan bagi sesama wartawan, dan khususnya keluarga besar media Bernas Yogyakarta. Juga membanggakan bagi siapa saja pejuang kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Dalam tulisan tentang Udin itu antara lain diungkapkan pernyataan wartawan senior dan budayawan Goenawan Muhammad di Bernas edisi Selasa 24 Agustus 1996 : “Jika saya mati hari ini atau besok pagi, saya ingin berdiri, kalau diperkenankan Tuhan, di belakang arwah Udin yang sedang menghadap-Nya. Dan saya akan merasa bangga karena itu. Kini orang menyelesaikan persoalan dengan jalan pintas : membunuh, mengurung, membisukan orang lain. Terkadang kita jadi bertanya-tanya benarkah hari ini manusia memang layak mewakili Tuhan di bumi. Hanya jiwa yang tidak gentar seperti Udin yang bisa mengingatkan kita : kita bukan makhluk nista…”.
Udin memang telah pergi selamanya sehari sebelum Hari Proklamasi Kemerdekaan RI, tanggal 16 Agustus 1996. Namun kenangan, karya, persahabatan, dan warisan yang ditinggalkan akan abadi. Bahwa wartawan sejati memang harus terus menegakkan kebenaran, meski ada risikonya. (Y.B. Margantoro, Wartawan Senior di Yogyakarta)











