Opini  

Imlek: Tradisi Menghargai Alam

Harsono, Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Imlek merupakan sebuah tradisi yang hingga hari ini tetap dilanjutkan. Bahkan, ketika Hari Raya ini tiba, mereka menggunakan waktu yang ada untuk berlibur dan mengunjungi keluarga. Hal ini pun juga berlaku di Indonesia. Bahkan, pada tahun ini Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa tanggal 23 Januari 2023 merupakan hari cuti bersama berkaitan dengan hari libur Imlek.

Sebagai sebuah tradisi, Imlek tidak dapat dilepaskan dari kebiasaan petani di Tiongkok pada zaman dahulu, sehingga dapat dikatakan tradisi ini pun punya sisi dekat dengan kehidupan petani dan alam. Konon, para petani pada saat itu bersyukur akan alam yang mulai bergeliat kembali setelah hawa musim dingin meliputinya. Datangnya musim semi menjadi keindahan tersendiri bagi para petani pada saat itu. Hewan mulai keluar mencari makanan dan tumbuhan mulai menumbuhkan tunas hijau.   Hal-hal inilah yang kemudian disyukuri para kaum petani pada saat itu.

Sebagai sebuah tradisi pula, bahan persembahan juga diambil dari alam: ikan bandeng, semangka, kelengkeng, dan sebagainya. Selain itu, bahan masakan yang menjadi hidangan dalam ritual Imlek pun juga diambil dari alam. Sebagai contohnya adalah rebung atau bambu muda. Bahan-bahn persembahan ini menyimbolkan hadirnya kesejahteraan, kedamaian dan berkat yang melimpah. Biasanya, tiap-tiap persembahan disusun ke atas (jajan pasar, kue keranjang) atau diikat menjadi satu (kelengkeng, rambutan) sebagai simbol rejeki yang kian naik dan persaudaraan yang kian kuat.

Maka, selain sebagai sebuah Hari Raya, Imlek juga merupakan tradisi bagaimana menghormati alam ini. Bagaimanapun, kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari alam, manusia merupakan bagian dari keseluruhan alam ini dan – mungkin pula – kehidupan manusia tergantung dari alam. Kisah kegembiraan petani pada saat itu tidak dapat dipisahkan dari peranan alam pada hidup mereka. Oleh karena itu, tradisi ini merupakan bentuk ungkapan syukur mereka akan alam ini dan sebagai bentuk pengormatan mereka terhadap alam.

Menghormati Alam Hari Ini

Awal tahun 2023 Pemerintah Kota Yogyakarta sedang menggalakkan kembali program pemilahan sampah. Program ini diawali dengan sosialisasi kepada masyarakat, pemasangan spanduk di setiap TPS dan mempersiapkan sarana dan prasarananya. Pemkot Yogyakarta membagi sampah menjadi: sampah organik, anorganik, residu dan sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Selain itu, kegiatan bank sampah di setiap RW atau RT juga mulai dihidupkan kembali.

Pemilahan sampah ini tentunya mempunyai akibat positif. Pertama, bagi manusia, barang-barang anorganik dapat berfungsi lain. Misal, pot tanaman, tempat pensil, dan sebagainya. Selain itu, sampah anorganik dapat juga dijual kepada para pengepul sehingga dapat mengembangkan bidang kewirausahaan masyarakat. Ditambah lagi, dengan daya kreativitas manusia dihasilkan sesuatu dari barang-barang bekas tersebut yang mempunyai nilai ekonomis lebih tinggi.

Kedua, bagi alam ini pemilahan sampah mempunyai dampak yang luar biasa. Mengingat, sampah-sampah plastik dan anorganik itu terurai dalam waktu lama. Dikutip dari sebuah laman tentang ‘Mengenal Jenis Sampah yang Perlu Waktu Lama untuk Hancur’, sampah-sampah anorganik membutuhkan waktu lama untuk dapat hancur atau terurai di dalam tanah. Contohnya, kantong plastik membutuhkan waktu 10-1000 tahun, sepatu bekas membutuhkan waktu 50-80 tahun dan sebagainya. Tentunya kalau dibiarkan, sampah-sampah ini akan mengganggu keberlangsungan alam ini.

Oleh karena itu, pemilahan sampah kiranya dapat menjadi salah satu solusi di dalam keberlangsungan hidup alam ini dan juga demi kehidupan lanjut manusia. Sejalan dengan itu, pemilihan sampah juga menjadi salah satu wujud penghormatan kita terhadap alam. Karena bagaimanapun manusia, adalah bagian dari alam ini dan menggunakan alam ini untuk kepentingannya sehingga menjadi tanggungjawab manusia untuk menghormati dan merawat.

Hal ini juga merupakan ungkapan syukur kita akan anugerah alam ini sebagaimana telah dicontohkan para petani Tiongkok pada waktu itu dengan cara terus-menerus menghormati alam lewat tradisi Imlek. (Harsono, Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta)