bernasnews — Dalam sebuah buku berjudul “Anak Bajang Mengayun Bulan” karya Sindhunata ditemukan peran bahasa bagi manusia khususnya dan makhluk hidup pada umumnya. Sebagaimana diceritakan ketika ayah Sumantri menjadi seekor harimau yang hanya bisa bicara dengan bahasa harimau bertemu anaknya di hutan dan mau mengatakan dirinya adalah ayahnya tetapi yang terungkap adalah auman seekor harimau. Semakin keras keinginan untuk meyakinkan bahwa dirinya adalah ayahnya maka semakin keras auman yang keluar dan itu ditangkap oleh sang anak sebagai auman kemarahan yang ingin menyerang. Situasi di atas berakhir dengan kematian sang ayah ditangan anaknya sendiri.
Para ahli dan para cerdik-cendekia menyatakan bahwa bahasa adalah alat kekuasaan, alat politik dan alat agitasi, alat untuk mengungkapkan rasa keindahan, kesedihan, semangat, harapan dan mungkin juga keputusasaan, kemarahan dan entah apalagi. Sebenarnya peran bahasa jauh melebihi semua itu, bahasa adalah alat untuk mempertahankan kelangsungan hidup (survival). Hal yang paling mendasar bagi semua makhluk di bumi. Kita bisa melihat bagaimana tumbuhan menggunakan bahasa bebauan dan warna bunga untuk mengundang pelaku penyerbukan sehingga memungkinkan terjadinya pembuahan dan menjadi jaminan kelangsungan hidupnya. Binatang menggunakan bahasa bunyi dan bahasa tubuh untuk memanggil dan mengoda calon pasangannya yang akan diajak melestarikan speciesnya.
Manusia yang dianggap sebagai ciptaan paling sempurna pastilah memiliki cara yang jauh lebih beragam dalam memilih bahasa untuk menyatakan eksistensi, kepribadian, popularitas dan berbagai kebutuhan dan keinginan yang akan diraih.
Keleluasaan memilih bahasa yang dimiliki manusia berimplikasi sangat luas. Bahkan kecerdasan emosional, spiritual, kebijaksanaan serta keluhuran budi seseorang bisa dilihat dari cara mereka memilih bahasa yang terwujud dalam rangkaian pilihan kata yang dipakai untuk berbicara dengan pihak lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa yang bertutur kata halus bisa jadi menyimpaan kebencian dan kemarahan sedangkan yang bertutur kata keras menyimpan rasa kasih sayang dan kecintaannya yang besar. Lalu bagaimana cara membedakan ungkapan yang tulus dan yang tidak? Perjalanan dan pengalaman hidup seseorang akan memampukannya membedakan kedua hal tersebut. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan juga bisa sangat membantu manusia untuk membedakan keduanya. Ada lie detector dan bahkan robot (artificial intelegence) yang dikembangkan untuk mampu mendeteksi kejujuran/kebenaran kata-kata seseorang.
Manusia adalah makhluk yang paling pandai meniru dan beradaptasi. Pemilihan bahasa yang digunakan seseorang salah satunya dibentuk oleh lingkungan terdekatnya yaitu keluarga. Cara orang tua memilih kata-kata dalam kehidupan sehari-hari akan tertanam di bawah sadar anaknya yang setiap hari mendengar (bukan mendengarkan) kata-kata dan bahasa komunikasi yang digunakan oleh keluarganya. Rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan bahasa menunjukkan bangsa. Dalam pengertian yang lebih sempit, dari lingkungan keluarga seperti apa seseorang bertumbuh, apakah berbudi pekerti halus, banyak kiasan, lugas/terus terang atau yang cenderung sinis dan nyinyir? Masih ditambah lagi apakah kaum intelektual pasti mampu memilih bahasa yang baik, benar dan santun? Rasanya bukan jaminan. Bukti nyata bisa kita temukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sepuluh tahun terakhir ini. Bagaimana kedunguan justru bisa mengantar seseorang pada kelimpahan harta dan kekuasaan. Namun demikian, kita harus percaya bahwa suatu saat masa itu akan berlalu. Kilauan permata sebuah bangsa akan semakin cemerlang ketika mampu melampau masa-masa sulitnya.
Bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya yang artinya merupakan cermin kebiasaan sehari-hari yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupannya. Oleh sebab itu terasa begitu krusial memperhatikan bahasa sebagai modal intelektualitas berkehidupan seseorang. Kecerdasan bawaan (tacit kowledge) butuh waktu lama pembentukannya, artinya pembiasaan mesti dilakukan sejak kecil dan mulai dari lingkungan terdekat. Harapan besar kepada para orang tua dan keluarga untuk mempedulikan peran bahasa bagi kehidupan generasi penerusnya. Ada tanggungjawab moral meneruskan tongkat estafet kepada generasi penerus untuk menyadari, memahami dan melatih ketrampilan berbahasa dengan baik, benar dan berbudaya. Merekalah yang kelak akan diserahi mengurus negara ini dan juga kehidupan di bumi.
Sebagai penutup saya rasa tidaklah berlebihan jika penghargaan yang tinggi diberikan kepada siapapun yang memiliki kepedulian terhadap bahasa dengan segala tetek bengek-nya yang sangat banyak dan beragam. Bisa jadi otak kita tak mampu menampungnya, tetapi kita bisa mengambil peran kecil dengan mempedulikan dan merawatnya sedikit demi sedikit tetapi berkelanjutan sehingga pada akhirnya akan berbuah kebaikan. Bahasa menjadi salah satu alat untuk mempertahan hidup, menyatukan bangsa, menyatakan keindahan, kekaguman, penghargaan dan juga berbagai hal yang berlawanan. Hidup tak selalu indah dan baik tetapi juga tak sebaliknya. Kita manusia lebih banyak berada pada situasi di tengah kedua ekstrim pendulum yang mewakili kebaikan dan keburukan. Pilihan ada di tangan kita untuk mau membiasakan diri memberi nyawa dan spirit kebaikan ketika menggunakan alat yang disebut bahasa. (Diah Utari BR, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma)











