bernasnews – Setiap orang berasal dari keluarga dan akan memiliki keluarga biologis atau keluarga tidak langsung. Dalam perjalanan waktu, posisi seseorang berawal dari anak dan sekaligus cucu, kemudian bila berkeluarga menjadi ayah atau ibu, kakek atau nenek, dan seterusnya.
Menurut budaya Jawa, ada 18 keturunan dalam urutan keluarga. Dimulai keturunan (1) anak, kemudian (2) putu atau cucu, (3) buyut atau cicit, (4) canggah, (5) wareng, (6) udhek-udhek, (7) gantung siwur, (8) cicip moning, (9) petarangan bobrok, (10) gropak senthe, (11) gropak waton, (12) cendheng, (13) giyeng, (14) cumpleng, (15) ampleng, (16) menyaman, (17) menya-menya, dan (18) trah tumerah.
Pertanyaan sederhana kita, sampai para urutan ke berapa keluarga bersangkutan masih dapat saling mengenal? Kalau kita tidak memiliki trah (sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan atau silsilah satu sama lain) lalu bagaimana? Memiliki trah pun, apakah kekuatan hubungan itu masih sama atau memudar dan akhirnya bubar?
Jujur saja, untuk menjawab hal itu tidak mudah. Yang lebih baik kita lakukan adalah, kalau belum memiliki trah, dicoba organisasikan. Kalau sudah memiliki trah, diuri-uri agar lestari dan harapannya hubungan kekerabatan saudara pun juga langgeng.
Penulis bersyukur memiliki trah, antara lain dari jalur ayah dan nenek. Keduanya sudah meninggal dan penulis yang berada di posisi anak pertama, menjadi dituakan dalam keluarga generasi ketiga. Nama trah itu itu Singa Pawira Wijaya. Ada lima simbah dalam trah itu yang kesemuanya sudah almarhumah.
Nenek penulis adalah Mursiyem Kamso Utomowijaya yang masuk kelompok Trah Beji. Kemudian disusul Theresia Suratidjah (Trah Ngampilan), Suratmi (Trah Gampingan), Ratna Juhariah (Trah Klaten) dan Wahini (Trah Prambanan). Penulis bersyukur dan senang dapat berhubungan langsung dengan kelima simbah itu serta generasi pertama dan keduanya.
Keteladanan hidup yang mereka wariskan kepada kami cukup banyak. Paling tidak ada beberapa hal yang penulis rasakan hingga kini yakni sayang keluarga, semangat berkarya, murah hati, baik hati, dan rendah hati. Tidak mudah untuk melaksanakan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari, namun setidaknya ada pegangan.
Pertemuan trah kami satu kali di setiap akhir tahun. Pada 2022 akan dilaksanakan hari Sabtu (31/12) di Desa Kepurun, Manisrenggo, Klaten, Jawa Tengah. Berbagai acara sudah disiapkan tuan rumah Trah Prambanan. Yakni doa pembukaan, ucapan selamat datang dari wakil Trah Prambanan Rini Siagian, renungan singkat, pesan/kesan Ketua Trah Sunardi, games berhadiah, pentas seni, tukar kado, doa akhir tahun, foto tiap trah & bersama, dan ditutup ramah tamah.
Apakah kita bangga?
Motivator Agung Webe dalam sebuah blog menulis, Apakah kamu bangga menjadi “trah” orang besar? Tulisan itu menarik untuk direnungkan. Menjadi anggota trah memang tidak mungkin lepas dari alasan dan tujuan.
Hal paling sederhana adalah, seseorang pertama kali ikut pertemuan trah karena diajak oleh orangtuanya. Pesan mereka, supaya kita tidak kepaten obor alias terputus tali persaudaraan yang akan semakin memanjang.
Pertanyaan kritis yang diajukan Agung Webe dalam tulisannya, Anda trah ke berapa? Bangga? Apa yang Anda banggakan? Mungkin hanya status sosial apabila Anda Trah Raja, maka orang akan menghormati Anda. Ya, orang menghormati Anda hanya karena silsilah trah, bukan karena diri Anda. Bukan karena akhlak dan attitude Anda.
Meminjam level of leadership yang dikemukakan oleh John C. Maxwell, kita dapat bercermin tentang mengapa orang menghormati kita.
- Jabatan – Orang lain mengikuti karena keharusan. Contohnya, dapat dalam trah tersebut. Hanya karena masuk dalam silsilah Trah Raja, maka orang akan mengikuti karena keharusan (dogma).
- Hubungan – Orang lain mengikuti karena ingin yang disebabkan hubungan yang hangat (baik hati, ramah, dan lain-lain).
- Produktivitas – Orang lain mengikuti karena apa yang sudah Anda lakukan atau mereka melihat hasil dari apa yang Anda lakukan.
- Mengembangkan orang lain – Orang lain mengikuti karena apa yang telah Anda lakukan untuk mereka.
- Puncak – Orang lain mengikuti karena jati diri Anda dan apa yang Anda wakili tentang kehidupan (Jawa : Memayu hayuning bawono).
Hidup bahagia
Kembali ke kebersamaan dalam trah keluarga, yang harus dipahami bersama adalah bahwa anggota paguyuban itu berasal dari nenek moyang yang sama. Seiring perjalanan waktu, akan ada anggota yang tiada dan lahir. Untuk itu, perlu terus menerus dilakukan komunikasi, kegiatan dan aksi yang kreatif. Kehadiran sarana komunikasi yang canggih dapat membantu melestarikan hubungan. Namun kunci utamanya adalah kesadaran masing-masing bahwa mereka adalah satu keluarga besar.
Sembilan kunci hidup bahagia berikut ini kiranya dapat membantu menjaga semangat bersama dalam dinamika sehari-hari. Yakni tidak membenci, tidak mengeluh, berprasangka baik, merendah diri, mudah memaafkan, hindari permusuhan, bersedekah, selalu tersenyum, serta tidak dengki dan iri hati. (Anto Margono, Anggota Trah Singa Pawiro Wijaya dari Jagalan Beji, Pakualaman,Yogyakarta).











