Opini  

Wartawan Hj. Arie Giyarto Tiada, Wariskan Spirit Pantang Menyerah

Buku karya Arie Giyarto Catatan Kecil Seorang Jurnalis (2020), salah satu warisan monumental wartawan senior itu. Sebelumnya, dia ikut menulis di buku-buku Wartawan-Wartawan Berkisah (2001). (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews).

bernasnews – “Jangan berpikir kaya kalau mau jadi wartawan.” Itu pesan awal yang diterima Arie Giyarto dan tidak pernah dia lupakan. Kalimat itu justru melecut hatinya untuk mewujudkan cita-cita menjadi wartawan entah siapa yang memotivasi. 

Bersyukur dia melangkahkan kaki pertama di jagat wartawan dibimbing oleh dua wartawan senior yang luar biasa. Yakni Drs Abdurrachman Pemimpin Redaksi (Pemred) dan R. Subadhi sebagai Wakil Pemred.  Keduanya kini sudah almarhum.

Itu dua alinea dalam kata pengantar buku karyanya berisi kumpulan tulisan berita kisah atau feature di buku bertajuk Catatan Kecil Seorang Jurnalis (2020). Dua tahun setelah menulis buku itu, tepatnya Selasa (27/12/2022), sang penulis buku menyusul kedua seniornya menghadap Sang Pencipta.

Pemimpin Perusahaan bernasnews Tedy Kartyadi melalui whatsApp (WA), Selasa pukul 07.27 WIB mengirimkan kabar duka cita itu dari puteri almarhumah  yakni Vero.  Bahwa, telah meninggal dunia dengan tenang ibunda kami “Arie Gijarto”, Selasa 27 Desember 2022 di RS Bunda, Depok pukuk 04.55. Jenazah akan dimakamkan di Yogyakarta sore/mala ini. Mohon dimaafkan segala kesalahan & khilafnya.

Segera menyeruak dalam kenangan di hati dan pikiran : satu sosok ibu yang ramah, santun, dan komunikatif. Memang belum atau tidak semua orang tahu secara langsung siapa dia. Namun yang tahu dan menjadi tahu, akan paham bahwa dia seorang wartawan senior. Lebih tepatnya wartawan sejati. Mengapa? Karena sejak muda usia, dia telah menetapkan diri menjadi jurnalis dan hingga akhir hayat tetap jurnalis. Semula wartawan media cetak, kemudian berkarya di media online.

Lahir di Yogyakarta tanggal 6 Maret 1948 dengan nama Ari Sabariyah binti Djazuli Sastrowigeno, suami dari Giyarto (alm) dan ibu dari dua orang putri serta seorang cucu ini mulai menulis  di berbagai surat kabar tahun 1966. Mendapat SK Wartawan tanggal 1 Juni 1968 dari Harian Berita Nasional Yogyakarta. 

Prestasi jurnalistiknya cukup banyak, antara lain mendapat perhargaan  dalam bidang keluarga berencana, tajuk rencana,  koperasi, tabungan perumahan PNS. Dalam organisasi, dia menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1970 saat Ketua Umum BM Diah. Beberapa kali menjadi pengurus PWI Cabang Yogyakarya, antara lain Wakil Ketua PWI dua periode. Memperoleh Kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers tahun 2011.

Di buku karya monumentalnya itu, pada cover belakang terlihat Arie Giyarto duduk bersama dua putri, menantu dan seorang cucu. Baginya, momentum berkumpulnya keluarga seperti ini sebagai anugerah dan nikmat dari Allah SWT yang patut disyukuri. Kebahagiaan keluarga merupakan salah satu kata kunci yang senantiasa dia pegang saat meniti karier jurnalistik, bagian dari pengalaman hidupnya.

Di bagian bawah, ada foto Giyarto (alm) suaminya yang semasa hidupnya banyak memberikan dukungan yang tidak ternilai harganya, baik moral maupun material, sehingga sang isteri mampu melaksanakan tugas-tugas jurnalistik di lapangan dengan benar dan baik.

Bekal apa sebagai wartawan yang diberikan para senior di Harian Berita Nasional kepadanya? Menurut Arie Giyarto, antara lain kejujuran, ketekunan, fighting spirit tinggi dan harus selalu mengasah kemampuan.   Bekal itu, sejauh pengamatan penulis sebagai yuniornya di koran itu, telah diresapi dan dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab oleh almarhumah.

Bekal menulis feature keluarga

Penulis yang dari sisi usia 10 tahun lebih muda, merasakan kemampuan jurnalistiknya  jauh di bawah wartawan perempuan tangguh itu. Ketika penulis masuk kerja ke Harian Berita Nasional Yogyakarta tahun 1976, Arie Giyarto sudah seorang wartawan senior dengan jabatan sekretaris redaksi dan pengasuh rubrik wanita Anyelir. 

Salah satu bekal yang dia berikan kepada penulis sebagai reporter pemula waktu itu adalah ilmu menulis feature keluarga, termasuk wanita. Arahan dan koreksi naskahnya baik dan menambah wawasan. 

Dalam perjalanan sebagai wartawan di media yang sama sekian puluh tahun kemudian, penulis sempat berada di posisi sama yakni sebagai Redaktur Senior. Bahkan kami sama-sama memperoleh kartu Wartawan Utama dari Dewan Pers yang diberikan oleh Ketua Dewan Pers Prof Dr Bagir Manan di Jakarta, 2011. Kami naik pesawat bersama pergi pulang dari Yogyakarta dan Jakarta.

Kami juga pernah sama-sama menjadi pengurus PWI Cabang Yogyakarta. Bedanya, dia merangkap anggota Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Cabang Yogyakarta karena posisi sebagai wartawati.  Kami juga sama-sama bergabung di Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta. Bedanya, dia pengurus sedangkan saya anggota biasa.

Ada lagi kenangan yang tidak terlupakan dan monumental yakni kesediaan Arie Giyarto menulis di buku Wartawan-Wartawan Berkisah (editor YBM, 2001). Melalui tulisan bertajuk Berjumpa dengan Kusni Kasdut di LP Cipinang, dia menunjukkan bahwa sebagai wartawan memang harus berani, semangat, pantang menyerah dan tentu saja menghasilkan karya tulis yang menarik.

Kini, wartawan yang punya hobi berkebun itu telah tiada. Mereka yang kehilangan tidak hanya dua puteri Wahyu Titisari dan Tantri Sekarratri, menantu dan seorang cucu, namun juga rekan sekantor, teman sejawat jurnalis, tetangga, sahabat dan siapa pun yang pernah mengenal dia.

Selamat jalan wartawan senior Hj. Arie Giyarto. Panjenengan bukan hanya mewariskan ucapan-ucapan baik, namun keteladanan dalam perilaku baik, dan terlebih ketekunan menjadi wartawan sejati. Sang Kebenaran telah menanti pejuang (jurnalis) kebenaran di surga. Amin. (Y.B. Margantoro, wartawan bernasnews).