Opini  

Outlook Ekonomi 2023

Dr. Y. Sri Susilo. Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta & Pengurus KADIN DIY (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Kemenko Perekonomian RI telah menggelar seminar outlook perekonomian Indonesia tahun 2023 (21/12/2022). Dalam forum tersebut Presiden Jokowi memberikan sejumlah arahan agar ekonomi nasional tetap tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di tahun mendatang. Tantangan tersebut khususnya krisis pangan dan krisis energi yang dapat menyebabkan ekonomi global memburuk.

Arahan termaksud diwujudkan dengan: (i) sinergitas kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil, (ii) tetap menjaga daya beli masyarakat, (iii) meningkatkan nilai dan volume ekspor, (iv) meningkatkan investasi baik asing dan domestik, serta (v) memperluas hilirisasi industri dan energi hijau. Kelima hal tersebut merupakan perubahan struktural yang konstruktif yang menjadi syarat utama agar ekonomi Indoensia tetap kokoh dari gejolak ekonomi global.

Mencermati outlook pada umumnya dengan melihat indikator pertumbuhan ekonomi. Beberapa Lembaga ingternasional seperti Bank Dunia, IMF, ADB dan OECD telah memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh antara 4,7 persen -5,1persen pada 2023. Pemerintah -RI sendiri telah memprediksi tumbuh sekitar 4,7 persen -5,3 persen sedikit di atas proyeksi lembaga internasional. Proyeksi Bank Indonesia (BI) ekonomi Indonesia akan tumbuh  antara 4,5 persen -5,3persen.

Pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah bersumber dari sisi permintaan agregat (aggregate demand side) dan sisi penawaran aggregat (aggregate supply side). Permintaan agregat terdiri konsumsi masyarakat, investasi domestik dan asing, pengeluaran atau konsumsi pemerintah serta ekspor bersih (selisih antara ekspor dengan impor barang dan jasa).

Dari sisi penawaran agregat dapat disebabkan oleh meningkatnya penggunaan faktor-faktor produksi, seperti modal fisik (physical capital), modal insani (human capital), sumber daya alam (natural resources capital), modal finansial (financial capital) dan modal sosial (social capital). Produktivitas masing-masing faktor produksi dan dukungan teknologi menjadi sumber pemicu pertumbuhan ekonomi di suatu negara.

Kembali kepada hasil proyeksi atau prediksi tersebut maka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023 dapat dikatakan dalam skenario optimis. Perekonomian Indonesia tahun depan tidak berbeda dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 yang diperkirakan penulis sekitar 5,0 persen -5,5 persen.

Dimungkinkan pertumbuhan ekonomi tahun 2023 bisa melambat. Berikut beberapa hal penyebabnya yaitu (Kemenko Perekonomian RI, 2022):

(1) Melemahnya permintaan global terhadap beberapa komoditas sehingga dapat menurunkan kinerja ekspor Indonesia. (2) Pengetatan kebijakan moneter global juga dikhawatirkan akan mendorong modal asing untuk keluar dari pasar keuangan negara berkembang termasuk Indonesia, dan hal ini akan memberikan dampak negatif terhadap nilai tukar rupiah yang berujung terhadap kenaikan inflasi dari sisi impor. (3) Kenaikan suku bunga akan memperlambat pemulihan ekonomi dikarenakan kurangnya anggaran untuk proses pemulihan.

Hasil proyeksi pertumbuhan ekonomi yang dikemukakan oleh Pemerintah RI, BI dan lembaga internasional mencerminkan proyeksi yang optimis namun sebenarnya secara implisit tercermin proyeksi yang moderat dan pesimis. Sebagai contoh, proyeksi BI antara 4,5 persen -5,3 persen. Angka tersebut dapat diartikan proyeksi optimis tumbuh 5,3 persen, proyeksi moderat 4,9 persen dan proyeksi pesimis 4,5 persen.

Jika pilihan didasarkan pada optimis tentunya bukan tanpa dasar. Beberapa argumentasi bahwa perekonomian Indonesia tahun 2023 tetap dapat tumbuh antara lain: (1) Kemampuan penanganan pandemi dan percepatan vaksinasi yang berhasil baik. (2) Peran APBN sebagai shock absorber (peredam terhadap lingkungan global yang berpotensi mengancam ekonomi Indonesia. (3) Tingginya harga beberapa komoditas ekspor unggulan. (4) Kesuksesan Presidensi G20 Indonesia. Keempat hal tersebut setidaknya dapat menjadi indikator  bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk terus mempercepat pemulihan ekonomi.

Sinergitas kebijakan fiskal dan kebijakan moneter tetap akan dilanjutkan, Dari sisi fiskal,  harus dipastikan belanja pemerintah yang lebih produktif dan berkualitas, sehingga momentum pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung dapat dijaga. Selanjutnya dari sisi moeneter, tetap dipetahankan bauran kebijakan (policy mix) yang menyeluruh untuk mendorong akselerasi pemulihan ekonomi melalui pro-stability.

Sebagai catatan pentutup, keberhasilan mengendalikan inflasi dan implementasi UU Cipta Kerja juga menjadi faktor penting yang menjadikan perekonomian Indonesia tahun 2023 semakin optimistik. Sejauh ini, BI bersinergi dengan Pemerintah mampu menekan inflasi baik yang bersumber dari domestik (domestic inflation) maupun dari luar (imported inflation).

Reformasi struktural yang diwujudkan melalui implementasi UU Cipta Kerja diharapkan dapat memberikan berbagai kemudahan dalam upaya meningkatkan iklim investasi, produktivitas, dan juga penciptaan lapangan kerja baru. Kondisi tersebut dapat mengakselerasi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi. (Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta & Pengurus KADIN DIY