Opini  

WAG Pemulung Kata JB Sarana Srawung, Belajar dan Berkarya Bersama

Tujuh buku karya guru dan alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta tentang kepenulisan dan lainnya koleksi YBM. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews).

bernasnews – WAG Pemulung Kata JB (baca : SMA Kolese de Britto Yogyakarta) adalah komunitas alumni JB bagi para pemulung kata-kata, baik yang memulung kata-kata sebagai mata pencaharian, hobi, atau sekadar melampiaskan kumpulan kata-kata yang ada di benak dan mewujudkannya menjadi sebuah tulisan.

Ayo siapa pun yang  berderak dan bergerak di bidang kepenulisan atau kepengarangan, yuk, monggo bergabung di sini. Dan itu cakupannya luas.

Demikian woro-woro Yoseph / JB 97 sebagai admin ketika membuka WAG Pemulung Kata JB pada tanggal 9/12/2022 lalu. Sampai hari Senin (19/12), tercatat ada 51 orang peserta. Di WAG ini ada guru dan alumni JB. Salah seorang guru yang masih bersemangat dalam kehidupan dan karya iadalah Gregorius Sukadi. Para alumni JB memanggilnya secara beragam. Ada yang dengan sebutan suhu, bapak, sampai eyang. 

Penulis sebagai salah seorang alumni JB 76 merasa bersyukur, berterima kasih dan senang dapat bergabung di WAG ini. Kebetulan nama wadah komunikasi ini seperti karya buku kami bersama dengan Herry Gendut Janarto JB 77 dan Wishnubroto Widarso JB 76, Tiga Pemulung Kata – Berawal dari Jalan Solo 161 Jogja (Pohon Cahaya, 2018). Buku ini kami kadokan kepada almamater saat berusia 70 tahun pada 2018 yang lalu.

Ketika rencana komunitas melalui WAG ini dibicarakan, penulis diundang Herry Gendut Janarto (HGJ) untuk ngobrol bersama beberapa rekan alumni di Yogyakarta. Hadir pada waktu itu antara lain HGJ, Yoseph Wijaya, AA Kunto A, Gatot Pamungkas.

Dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, dalam kehidupan sehari-hari kita sudah familier dengan WhatsApp group atau WAG. Setiap orang hampir pasti menjadi anggota satu atau bahkan lebih WAG. Entah itu WAG keluarga, trah, kantor, lembaga atau komunitas. Salah satu tujuan keanggotaan kita di komunitas itu adalah srawung atau berinteraksi sosial.

DI WAG Pemulung Kata JB, mengutip Pramudya Ananta Toer, admin/pengarang/novelis HGJ mengemukakan, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. “Oleh karena itu, mari kita mulai memulung kata satu demi satu keping, untuk kita rangkai menjadi sebentuk tulisan atau cerita yang utuh,” tulisnya.

Gayung bersambut, T. Priyo Widiyanto menambahkan, kita semua sudah mengarungi samodra kehidupan, meskipun berbeda jumlah waktunya. Dalam mengarungi samodra kehidupan itu kita pasti sudah pernah menemukan permasalahann hidup yang unik, sampai menguras energi untuk menyelesaikan masalah tersebut dan berhasil. Tentu saat menyelesaikan masalah tersebut ada dinamika yang menarik dan unik berlandaskan spiritualitas hidup dalam diri kita.

Pengalaman tersebut rasanya eman kalau kita lepas begitu saja. Mungkinkah pengalaman itu kita tulis sehingga bisa menjadi sarana belajar orang lain. Di sini ada mas Janarto dan teman lain yang tentu piawai mengedit tulisan tersebut sehingga nantinya membuncah dalam bentuk buku, elok bukan. Mengapa tidak kita coba?

Benny Antono pun berpendapat, dunia tulis menulis itu luas sekali. Tidak harus bermuara ke buku, bisa script ketroprak, naskah film, sebuah diary atau buku harian yang tertulis bagus Anne Frank, buku harian gadis cilik di balik jendela Toko Chan jadi buku babon PAUD di seluruh dunia.

Bahkan lembaran kertas amplop di tangan Abendanon berupa surat-surat rutin Kartini kepadanya, apakah terpikir akhirnya dihasilkan jadi sebuah buku klasik?  

Ya, memang betul demikian adanya. Akhirnya, terima kasih almamater JB, terima kasih teman-teman seangkatan dan lintas angkatan, serta terima kasih WAG Pemulung Kata JB yang menerima penulis untuk belajar dan berkarya bersama. (Y.B. Margantoro, praktisi media dan pegiat literasi, JB 76)