bernasnews – Kangen sebuah kata yang saya rasa masih pribadi sifatnya. Biasanya digunakan saat kita sedang berada dalam situasi terputus hubungan dari seseorang. Karena pribadi sifatnya maka untuk mengekspresikan rasa kangen itu, kita akan menghubungi seseorang itu. Pemilihan medianya pun makin beragam. Jika dahulu digunakan surat dan kartu ucapan, saat ini pilihannya makin beragam.
Namun, setelah menilik trending topik di Twitter Sabtu (18/12/2022), ternyata oh ternyata, kata kangen telah mencapai angka 40.100 cuitan. Suatu angka trending yang tinggi dibanding cuitan bernuansa politik. Wajar saja kan kita mendekati akhir tahun dan liburan Nataru yang sudah di depan mata, bukan?
Terus bagaimana dengan ‘rindu’ kan sama-sama melibatkan perasaan? Benar, sama-sama melibatkan perasaan sebagai wujud ekspresi psikologis seseorang. Tapi ya, yang sedang tren memang ‘kangen’.
Dari laman Google Trend yang saya akses Sabtu (18/12/2022) terlihat penggunaan kata kangen dan rindu dengan tren berbeda. Kata rindu justru lebih tinggi peringkat pencariannya daripada kangen. Perbedaan dengan Twitter tampak karena adanya algoritma berbeda. Google Trend menggunakan skala 0-100 dalam pengukurannya sedangkan Twitter berdasarkan adanya teks tertentu yang menjadi tren dalam cuitan.
Tapi apa sih kangen dan rindu itu sebenarnya? Apakah sudah terjadi pergeseran dari ruang privat seseorang ke ruang publik? Apakah ada nuansa privat saat seseorang menyatakan rasa kangennya di media sosial?
Kangen dan Rindu dari sisi linguistik.
Silakan periksa di sebuah laman bertajuk Itselftools pada bagian Penerjemah Kata Multi-Bahasa kita akan terkejut bahwa kata ‘kangen’ tidak dikenal. Hal itu ditandai dengan munculnya pesan kesalahan 404 This page could not be found, atau secara gampang “halaman ini tidak dapat ditemukan”.
Bagaimana dengan kata ‘rindu’? Kata rindu justru tampil lengkap dengan 104 terjemahan ke bahasa-bahasa lain. Bukannya tidak populer namun disclaimer pada pengantar situs menyebutkan mereka baru menyediakan terjemahan untuk 3000 kata yang paling umum digunakan dalam 104 bahasa.
Sebaliknya di situs Kamus Besar Bahasa Indonesia daring, justru ada kata kangen dan kata rindu. Ya jelas kan itu kamus bahasa Indonesia. Walaupun demikian ternyata tetap ada perbedaannya. Dikutip dari laman KBBI daring, kata kangen berarti ingin sekali bertemu, sedangkan kata rindu berarti sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu, arti kedua memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu (hendak pulang ke kampung halaman).
Tampak jelas ada bobot berbeda pada kata kangen dan rindu. Kangen hanya ingin bertemu tanpa nuansa kedalaman perasaan sebaliknya rindu membawa keinginan yang kuat untuk bertemu. Dalam nuansa menjelang liburan ini diksi yang tepat adalah rindu.
Pergeseran makna privat ke publik
Terlepas kata yang ingin digunakan, untuk menjawab pertanyaan pengantar di atas, kita perlu melihat sebuah teori komunikasi yaitu Teori Manajemen Privasi Komunikasi atau dalam bahasa aslinya Communication Privacy Management Theory –CPM (West, 2020 h. 165).
Dikatakan, setiap orang percaya bahwa mereka memiliki informasi pribadi tentang diri mereka sendiri, keluarga mereka dan orang yang mereka cintai. Karena bersifat pribadi maka, mereka dapat memilih, membagikannya atau kepada siapa mereka akan berbagi. Terlihat bahwa ada nuansa privat dan mendalam dalam teori ini. Maka opsi untuk membagikan secara publik menjadi tidak dimungkinkan.
Dari tinjauan bahasa Indonesia dapat terlihat bahwa ada perbedaan bobot antara kangen dan rindu. Maka teori CPM dapat digunakan untuk pemilihan sikap kita terhadap apa yang akan kita bagikan kepada publik atau tidak. Pemilihan sikap ini pun tidak mudah jika orang harus memilih dan mengalami ketegangan atas keputusan apakah akan membagikan informasi pribadi atau menahannya? Jika pun telah membagikan perasaan ke media sosial, sering masih ada rasa was-was jangan sampai menjadi bumerang untuk kita sendiri.
Dalam konteks perasaan pribadi yang diwakili oleh kata kangen dan rindu, ternyata tidak semua bagian teori CPM bisa digunakan. Karena bobot yang berbeda dalam nuansa perasaan dan tingkat kerahasiaan perasaan maka telah terjadi pergeseran cara mengungkapkannya. Dalam ranah publik ungkapan kangen rumah, suasana kampung, teman sekolah, masih dapat ditolerir. Sedangkan rindu adalah perasaan mendalam yang lebih privat yang juga disampaikan secara pribadi.
Seperti diungkapkan West & Turner, ketika seseorang (komunikator) –memberitahu sesuatu hal pribadi (pesan) kepada orang lain (komunikan), yang terjadi adalah komunikan turut menjadi pemilik bersama yang sah atas informasi tersebut. Untuk itu harus dibuat aturan tidak tertulis untuk saling menjaga.
Bentuk ‘aturan’ tersebut bisa berupa permohonan atau himbauan dari komunikator misalnya dengan mengatakan, ‘Janji ya tidak akan ceritakan ini ke orang lain’. Hanya atas dasar saling percaya maka komunikan akan mengiyakan janji tersebut. Jika komunikan melanggar janjinya maka akan terjadi keretakan hubungan yang sebelumnya sangat intens.
Dalam konteks pengungkapan kangen dan rindu di media sosial, kita tidak akan punya kontrol apapun terhadap reaksi pembaca di media sosial. Karena sifatnya dianggap publik maka kata kangen dan rindu yang salah penempatannya bisa jadi bahan cemoohan atau pergunjingan dalam bentuk komen balasan di postingan tersebut. Contoh cuitan Awkarin – selebgram dengan tarif endorsemen tinggi- harus bersusah payah menjelaskan soal kandasnya hubungan dengan pacarnya di media online kuyou, 13 Maret lalu. (Agustinus Iryanto BP, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta)











