Opini  

SD BOPKRI Gondolayu Terus Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman 

Suasana acara Pendidikan Seksualitas Usia Dini kelompok putri di SD BOPKRI Gondolayu, Yogyakarta, Selasa (13/12/2022). (Foto : Humas SD BOPKRI Gondolayu Yogyakarta).

bernasnews – Menjelang akhir semester satu tahun pelajaran 2022/2023, setelah berakhirnya kegiatan PAS 1, SD BOPKRI Gondolayu Yogyakarta memberikan pembelajaran karakter bagi peserta didik. Kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk semakin memantapkan sekolah ini sebagai lembaga pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua peserta didik. Kegiatan pendidikan karakter tersebut  adalah Pendidikan Seksualitas Usia Dini, Pendidikan Pencegahan Bullying, dan kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila  (P5).

Pada hari Selasa, 13 Desember 2022, sekolah mengadakan kegiatan Pendidikan Seksualitas Usia Dini bagi paserta didik kelas I sampai dengan VI. Untuk kegiatan tersebut, kami menggandeng STIKES Bethesda Yogyakarta sebagai narasumber. 

Pembicaraan mengenai seksualitas  selama ini dianggap sebagai hal yang tabu bila dibicarakan pada usia anak–anak. Akibatnya mereka kurang mempunyai pengetahuan tentang pengenalan  bagian tubuh pribadi pada wanita dan pria yang harus dijaga dan dilindungi. Bahkan mereka kurang paham apa yang harus dilakukan ketika mendapat perlakuan  yang kurang baik pada bagian tubuh tersebut. 

Hal ini yang melatarbelakangi kegiatan pendidikan seksualitas di usia dini perlu diberikan kepada peserta didik SD BOPKRI Gondolayu agar mereka mempunyai pengetahuan yang benar tentang hal tersebut. 

Selama kegiatan berlangsung, anak – anak sangat antusias mendengarkan dan bertanya. Salah satu pertanyaan dari siswa kelas kecil adalah bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain? Sedangkan dari siswa kelas tinggi yang ditanyakan adalah apakah bermasalah bila menstruasi tidak teratur di setiap bulan? Masih banyak pertanyaan lagi dari peserta didik. Hal ini membuktikan bahwa para peserta didik memang membutuhkan pengetahuan tersebut. Dalam kesempatan itu, narasumber menjawab semua pertanyaan peserta. Dia juga meluruskan istilah–istilah organ reproduksi yang benar. 

Pendidikan pencegahan bullying 

Kegiatan pembelajaran pada Rabu 14 Desember 2022, sangat variatif. Peserta didik kelas I dan  IV mempersiapkan materi kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang akan dilaksanakan pada Kamis 15 Desember 2022. Siswa kelas V dan VI, membuat ornamen Natal untuk menghias kelas. Sedangkan siswa kelas II dan III, mengikuti  Pendidikan Pencegahan Bullying. 

Menurut penulis, ketika anak–anak belajar bersosialisasi dalam suatu komunitas sekolah, kadang–kadang terjadi konflik diantara mereka. Sekecil apapun konflik yang terjadi antarteman, bila tidak diolah, maka akan mengurangi rasa empati pada setiap pribadi. 

Pencegahan bullying merupakan cara untuk menumbuhkan rasa empati kepada orang lain. Jika anak mempunyai rasa empati dalam dirinya, maka ia tidak akan melakukan bullying kepada temannya.

Pendidikan Pencegahan Bullying yang diselenggarakan di SD BOPKRI Gondolayu dengan narasumber Agnes Indar Etikawati, Psikolog,  Dosen Psikologi  USD Yogyakarta. Seperti halnya pelaksanaan kegiatan sebelumnya, kegiatan pendidikan pencegahan bullying ini juga sangat menarik bagi para siswa. Hal ini terbukti dengan keaktifan mereka dalam bertanya jawab. Dengan diadakannya edukasi pencegahan bullying diharapkan rasa empati siswa semakin tumbuh sehingga tidak ada tindakan bullying di lingkungan sekolah.  

Kegiatan penguatan karakter Pelajar Pancasila dilaksanakan pada Kamis 15 Desember 2022. Kegiatan ini merupakan penutup kegiatan semester I yang dilaksanakan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka. Kegiatan P5 di SD BOPKRI Gondolayu mengambil tema Kearifan Lokal dan Kewirausahaan. Peserta didik yang terlibat dalam tema kearifan lokal adalah siswa kelas I dan IV. Mereka mengangkat makanan lokal sebagai cara untuk semakin mencintai budaya lokal. Sedangkan tema kewirausahaan diikuti oleh semua peserta didik dari kelas I sampai dengan VI. 

Hal menarik dari kegiatan P5 ini adalah semua warga sekolah terlibat di dalamnya termasuk orang tua siswa. Sejak perencanaan kegiatan, orang tua terlibat dalam rapat sampai dengan pelaksanaan. Bersama siswa, guru kelas, dan orang tua merancang jenis makanan daerah yang akan dibuat, pengemasan makanan tersebut, perencanaan bazaar kuliner, sampai dengan pemasarannya. 

Melalui kegiatan P5, siswa diharapkan dapat  menjadi pribadi yang berkarakter Pancasila. Sebagai profil Pelajar Pancasila,  peserta didik dibentuk menjadi pribadi yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, mandiri, gotong royong, berkebinekaan global, bernalar kritis, dan kreatif. Tentu saja pembentukan menjadi profil pelajar Pancasila dapat terwujud bila ada kesinergian antara sekolah, siswa, dan orang tua. (Dra. Bernadetta Herry Riyantini, Kepala SD BOPKRI  Gondolayu, Yogyakarta)