bernasnews — Kita semua mempunyai suatu rencana dan mimpi yang indah boleh-boleh saja, akan tetapi tidak semua bisa terjadi sesuai yang dimimpikan, karenanya senyatanya belum tentu terwujud secara 100 persen. Lalu bagaimana agar rencana dan realitanya tidak terlalu jauh keperbedaannya? Tentu saja ada strateginya. Suatu mimpi yang indah tidak pernah terbayangkan bahwa dunia mimpi penuh dengan kejadian maya. Fenomena tersebut jika kita kaitkan dengan dunia bisnis sangatlah terasa dampaknya. Artinya dalam dunia bisnis secara riil selalu dihadapkan pada suatu kendala, dan sering kendala tersebut sangat erat terkait dengan perencanaan yang dibuat. Salah satu kendala yang ada adalah masih terbatasnya para pelaku bisnis yang mempunyai kompetensi secara kreatif.
Bagi seorang pelaku bisnis unsur kreativitas seharusnya merupakan bagian yang melekat dalam setiap pengambilan keputusan. Lebih-lebih jika keputusan yang akan ditetapkan menyangkut persoalan yang kompleks , detail dan rumit, maka penentuan unsur kreatif menjadi hal yang dominan, karena dalam kondisi yang demikian pelaku bisnis dituntut untuk bertindak cepat dan tepat. Artinya kita tidak boleh menunggu datangnya bola, akan tetapi kita harus mengambilnya bola tersebut dan memainkannya dengan indah, cerdik dan tentu saja mampu memaksukkan dalam gawang lawan, dalam arti kita mampu mendatangkan keuntungan.
Ada beberapa kegagalan yang menimpa pada pelaku bisnis pemula, dikarenakan kurang mampunya mereka menangkap persepsi dari esensi kehidupan riil secara kreatif. Oleh karena segala aspek hidup dan kehidupan yang tidak produktif selayaknya telah ditinggalkan, dan memasuki era bisnis yang semakin penuh kompetitif dengan persaingan ketat sangat ketat seperti saat ini, menuntut para pelaku bisnis yang juga kategori entrepreneurship harus memiliki orientasi kerja secara kreatif.
Pada unsur entrepreneurship, makna kreatif dipertaruhkan demi menuju keberhasilan. Hal ini dapat kita rasakan bahwa perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat tidak akan mudah ditangkap oleh masyarakat tanpa didukung dengan kegiatan promosi secara kreatif dan global juga. Sebagai contoh dulu ada satu iklan mobil di televisi merek “Mitsubishi Kuda” yang dicitrakan sama dengan kekuatan binatang “Kuda” yang berlari menjelajah di medan apapun dapat dilewati dengan mobil tersebut secara aman. Contoh lain, tentang iklan rokok “Marlboro” yang figur jokinya dengan gagah perkasa membawa laju sang “Kuda” dengan berlari kencang di padang pasir. Contoh lain iklan rokok “Jarum” yang waktu lampau juga menggunakan mobil “Jeep Willys” yang menerjang medan berat penuh risiko tetap aman dilewati merupakan visualisasi trik-trik bisnis yang kreatif.
Kiranya tidak perlu ditawar lagi, bahwa saat ini unsur kreatif harus sudah menjadi bagian krusial dalam jiwa seorang wirausaha. Gambaran ini dapat kita saksikan semakin maraknya para penjaja aneka buah yang berjualan di pinggir-pinggir jalan dengan memasang harga bukan lagi per kilogram, biasanya untuk jenis buah anggur, buah kelengkeng, akan tetapi dengan memasang harga per – setengah kilogram. Penerapan harga per-setengah kilogram (walaupun tulisannya agak kecil) merupakan trik yang kreatif supaya terkesan harga murah, walaupun senyatanya harga relatif tidak murah. Contoh lain, penerapan harga “beli dua, dapat satu” atau “beli satu, dapat satu” juga merupakan trik penerapan harga yang kreatif. Cara-cara demikian semata untuk menarik calon pembeli biar terkesan murah, serta masih banyak lagi contoh cara kreatif dalam bisnis, misalnya penerapaan ongkos kirim gratis, bayar di tempat dan sebagainya.
Lebih-lebih pada saat terjadi pasar tiban di bulan puasa, banyaknya penjaja kolak, aneka minuman, lauk pauk yang berjajar disepanjang jalan-jalan, baik yang menggunakan dengan sarana meja kursi, serana mobil, becak, sepeda motor, dan gerobak dorong. Para penjaja saling menawarkan dengan cara-cara yang kreatif, misal dengan tulisan-tulisan yang menarik, seperti: Mampir mas, ini kolak asli hanya Rp 3000, kolak dijamin halal, hanya Rp 3000, dan sebagainya. Belum lagi maraknya jenis makanan siap saji dengan nama chicken-chicken merupakan kiat yang kreatif dicoba oleh para pelaku bisnis dalam membidik calon konsumen. Sudahkan anda menemukan cara berbisnis dengan cara yang lebih kreatif lagi. ?Semoga sudah menemukan dan menerapkannya.(Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)












