Opini  

Menjadi Guru ‘Problem Solver’

Kepala sekolah (berdiri tengah), serta sebagian guru dan siswa SMP BOPKRI 3 Yogyakarta. (Foto : Humas SMP BOPKRI 3 Yogyakarta

bernasnews – Sewaktu kecil, penulis sering mendapatkan pertanyaan begini,  “Apa cita-citamu?” Tentu hampir semua anak pernah mendapat pertanyaan yang sama. Sebagian kecil dari kita memberikan jawaban dengan cepat, sebagian lagi menjawab setelah berpikir cukup lama, serta tidak sedikit pula yang bingung dan pada akhirnya menjawab tidak tahu. 

Dari semua yang menjawab hampir tidak ada yang ingin menjadi guru. Banyak dari mereka menjawab ingin menjadi dokter, pilot, polisi, tentara, dan artis. Bahkan mereka yang memilih untuk menjawab tidak tahu, jika ditanya apakah mau menjadi guru, mereka dengan cepat memilih jawaban “tidak”. Salah satu dari mereka yang menjawab tidak tahu itu adalah saya sendiri.

Penulis memahami bahwa tidak semua orang yang memiliki ilmu itu dapat menyampaikan, menularkan, dan mananamkan ilmu yang dimilikinya dengan baik kepada orang lain, tidak semua orang yang memiliki ilmu itu dapat menjadi seorang “GURU”. 

Guru adalah pengajar yang senantiasa mengajarkan dan menanamkan ilmu pengetahuan, pelatih yang selalu melatih anak didik  agar terampil menggunakan ilmu yang dia berikan, pendidik yang mengarahkan muridnya menggunakan ilmunya dengan baik dan benar. Selain itu, guru juga seorang problem solver yang akan selalu mencari solusi dari semua kesulitan dan masalah yang dihadapi anak didiknya.

Mengajar di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta memberikan banyak pengalaman bagi penulis. Sekolah ini memiliki siswa yang berasal dari banyak daerah di Indonesia. Berbeda dari sekolah lain yang hampir semua siswanya berasal dari Yogyakarta. Perbedaan kultur, cara berkomunikasi dan berinteraksi, keberagaman bahasa, variatifnya metode belajar siswa, juga bermacam-macam perbedaan lainnya pada awalnya terasa seperti masalah baru yang harus penulis hadapi. Namun ternyata hal ini justru menjadi nilai lebih yang dapat saya manfaatkan dalam kegiatan belajar yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan istilah Cross-Culture Understanding atau Pemahaman Lintas Budaya. 

Dalam belajar Bahasa Inggris, bukan hanya aspek bahasanya saja yang dipelajari tetapi juga kultur dan kebiasaan native speaker (penutur asli). Ada beberapa ungkapan yang tidak boleh disampaikan, ada tindakan yang tidak boleh dilakukan, sebaliknya ada ungkapan yang lebih baik digunakan, dan ada tindakan yang lebih baik dilakukan saat kita berkomunikasi dengan native speaker. Dengan beragamnya siswa di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta, para siswa dapat mengimplementasikan Cross-Culture Understanding ketika berkomunikasi dengan teman yang memiliki kultur yang berbeda agar tercipta kelas yang kondusif dan toleran antar sesama siswa.

Perbedaan karakter

Jangan jadikan perbedaan karakter siswa sebagai hambatan dalam mengajar. Sekolah ini  memiliki siswa dengan beragam karakter. Pada awal-awal mengajar, penulis sering merasa lelah ketika mengajar di kelas yang dikenal memiliki banyak siswa bandel dan susah diatur. Bukan tidak mungkin guru pun dibuat kesal saat berhadapan dengan siswa-siswa dengan karakter ini. Tetapi bukan problem solver namanya kalau penulis tidak dapat mengendalikan kelas dan mengatur siswa-siswa dengan karakter ini. 

Siswa yang datang ke sekolah memiliki latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Ada siswa yang dididik dengan lembut di rumah, ada yang dididik dengan keras, bahkan ada juga anak yang kurang mendapat perhatian orang tua di rumah. Penulis selalu mencari tahu terlebih dahulu apa yang biasa dialami siswa di rumah sebelum menentukan treatment dan perlakuan terhadap siswa yang memiliki karakter susah diatur. Penulis harus membuat siswa nyaman dan tidak merasa tertekan apalagi terbebani.

SMP BOPKRI 3 Yogyakarta memiliki manajemen yang sangat baik, kelebihan ini sangat memudahkan penulis sebagai guru dalam  mengajar. Sebelum mengajar di sekolah ini, saya sudah mengajar di beberapa sekolah lain. Dari pengalaman mengajar di beberapa sekolah itu penulis dapat menilai bahwa manajemen sekolah sangat baik, mulai dari kurikulumnya, bagian kesiswaan, juga sarana dan prasarana. Penulis dapat menjalankan tugas-tugas dengan optimal dan maksimal. 

Di saat pandemi Covid-19 mencapai puncaknya, sekolah benar-benar menjalankan protokol dengan sangat ketat dan tepat. Di saat pembelajaran online berlangsung, sekolah benar-benar menjalankan pembelajaran dengan sangat baik. Kehadiran dan keaktifan siswa dapat dipantau jelas dengan dukungan sarana yang baik. Jadwal dan segala bentuk laporan yang tersusun sangat baik di tengah segala keterbatasan. 

Ketika sekolah sudah mulai masuk 50 persen siswa, sekolah dapat menjalankannya dengan sangat baik pula. Implementasi protokol kesehatan dan pembagian ruang juga dapat dijalankan dengan sempurna, hingga siswa masuk 100 persen semua protokol kesehatan masih berjalan dengan sangat baik di kala sekolah lain sudah mulai kendor dalam menjalankannya. 

Ini menunjukkan bahwa SMP BOPKRI 3 Yogyakarta merupakan sekolah problem solver dimana siswa, guru, dan karyawan selalu merasa aman dan nyaman dalam menjalankan semua aktivitas di sekolah. Begitu pula orang tua di rumah tidak merasa cemas dengan keadaan anaknya di sekolah. Mengajar di sekolah dengan manajemen yang sangat baik adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya.

Hal lainnya yang membuat penulis sangat nyaman mengajar di sekolah ini adalah ruang lingkup kerja rasa keluarga. Mengajar di sekolah ini serasa berada di dalam keluarga sendiri, hubungan antara kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa benar-benar terasa seperti keluarga sendiri. 

Satu orang bahagia maka bahagialah semuanya, satu orang bersedih maka semua menjadi penyemangat. Bahkan banyak siswa yang merasakan kenyamanan itu karena sekolah dan guru memperlakukan mereka benar-benar seperti anak sendiri. Saat kesalahan dilakukan bukan sekedar hukuman yang diberikan, tapi lebih pada didikan dan arahan untuk menjadi lebih baik. 

Sehingga di mata siswa, guru bukanlah sosok pemberi hukuman melainkan problem solver yang senantiasa membantu mereka menyelesaiakan masalah dalam belajar maupun di luar lingkup pembelajaran. Inilah pengalaman baik yang penulis dapatkan di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta yang benar-benar berharga. (Jampan Marjulas, Guru di SMP BOPKRI 3 Yogyakarta).