Opini  

UMKM Penyelamat Resesi

Hari Kusuma Satria Negara, Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta & Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta. (Foto: Dok. Pribadi)

bernasnews — Suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan berdasarkan dari Produk Domestik Bruto (PDB), jumlah pengangguran, maupun pertumbuhan ekonomi yang bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut dimaknai sebagai resesi ekonomi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan. Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Produktivitas dan Daya Saing, Eddy Satria memprediksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan menjadi usaha yang dapat menyelamatkan tanah air dari ancaman resesi 2023.

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung dari sistem ekonomi kerakyatan yang berperan untuk memberantas permasalahan kemiskinan, serta pengembangannya mampu memperluas basis ekonomi dan memberi kontribusi yang siginifikan dalam meningkatkan perekonomian daerah dan ketahanan ekonomi nasional.

Menurut ASEAN Investment Report yang dirilis September 2022, Indonesia memiliki usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terbanyak di kawasan ASEAN. Jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2021 mencapai sekitar 65,46 juta unit. UMKM Indonesia mampu menyerap 97 persen tenaga kerja, menyumbang 60,3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta berkontribusi 14,4 persen terhadap ekspor nasional. Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UMKM yang sangat banyak dan daya serap tenaga kerja sangat besar serta setiap tahun memberikan persentase yang besar dalam pengurangan jumlah pengangguran di Indonesia.

UMKM menjadi garda terdepan yang dapat bertahan dan menjadi solusi menghadapi masalah ekonomi termasuk saat terjadinya pandemi Covid-19. Tercatat hingga 82,9 persen UMKM terdampak dan menginformasikan drastisnya penurunan penjualan, namun pelaku bisnis di sektor UMKM mampu bertahan dengan memanfaatkan teknologi digital dalam menjalankan usahanya.

Poin tambahan bagi UMKM adalah ketergantungannya terhadap nilai dolar yang kecil. Sehingga, naik turunnya nilai dolar di dunia tidak akan berpengaruh besar terhadap pergerakan UMKM di Indonesia. Hal inilah yang menjadi alasan utama UMKM menjadi solusi dalam berbagai keadaan ekonomi.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengembangkan UMKM agar mampu menghadapi potensi resesi dan go internasional yaitu dengan pelatihan branding dan digitalisasi bisnis. Branding merupakan hal yang penting dalam sebuah bisnis, karena dengan adanya branding akan menjadikan suatu produk yang unik dan menarik di mata konsumen. Cara Pembuatan branding melalui desain logo dan kemasan dibuat menarik agar konsumen tertarik terhadap produk dan meningkatkan nilai jual produk.

Strategi kedua yaitu digitalisasi UMKM, yaitu perubahan dari sistem konvensional ke digital sebagai upaya untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses bisnis dan operasional UMKM. Digitalisasi UMKM bukan sekadar menggunakan teknologi untuk menjual produk, tetapi memungkinkan UMKM untuk mengatur keuangan, memantau cash flow bisnis, hingga memperoleh bahan baku secara online. Pemanfaatan digitalisasi akan menjadikan pelayanan menjadi mudah dan cepat serta mendorong pelaku UMKM untuk go internasional dan bersaing dengan produk luar negeri.

Kesadaran akan pentingnya UMKM dalam keberlangsungan ekonomi harus disertai dengan kebijakan dan regulasi dari pemerintah untuk dapat mengelola dan meningkatkan peran UMKM agar terus tumbuh dan berkembang. Pemerintah perlu berkolaborasi dengan pihak perbankan, swasta, serta BUMN agar dapat membuat skema-skema permodalan yang mudah diakses oleh seluruh pelaku UMKM.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sandiaga Salahuddin Uno, menilai belum semua pelaku UMKM mendapat perhatian dan perlindungan sepenuhnya dari pemerintah. Pemberdayaan dan pendampingan serta konsolidasi pelaku UMKM sangat diperlukan untuk menjaga produktivitasnya di tengah kelesuan ekonomi global.

Sandiaga menargetkan 30 juta UMKM yang akan bertransformasi ke arah ekosistem digital pada tahun 2024. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa UMKM yang dimulai dari unit-unit kecil tentu akan menjadi penggerak roda perekonomian yang relatif tangguh. Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, bahwa UMKM adalah sektor yang relatif mampu bertahan kuat di masa kritis termasuk dalam menghadapi adanya potensi resesi global 2023 yang kian nyata. (Hari Kusuma Satria Negara, Dosen UPN “Veteran” Yogyakarta & Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta)