Opini  

Dari Harian “Berita Nasional” ke “Bernas Jogja” : Sebuah Kenangan Kecil

Sepuluh buku karya bersama rekan wartawan dan karya pribadi saat di Harian Bernas dan Harian Bernas Jogja. (Foto : Y.B. Margantoro/bernasnews).

bernasnews – Andai koran itu masih terbit, berbagai peristiwa dunia dan dalam negeri pada medio November 2022 akan diliput dengan semangat. Beberapa peristiwa itu antara lain, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, 15 dan 16 November;  PBB mengumumkan proyeksi penduduk dunia mencapai delapan miliar jiwa per 15 November; perhelatan Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Surakarta Jawa Tengah; serta agenda dan peristiwa lainnya.

Koran itu media lokal, namun sebagaimana media umum juga memuat peristiwa-peristiwa regional dan globa. Pertimbangan pemuatannya memiliki kedekatan dengan Yogyakarta atau kemanusiaan. Kehadiran media yang lahir pada 15 November 1946 itu menjadi ikut merekam sejarah kebangsaan dan wilayah. Media yang didirikan oleh Mr. Sumanang di Jalan Tanjung Nomor 21 Yogyakarta itu semula bernama Harian Nasional.

Dalam perkembangan, media perjuangan yang kemudian menjadi media pembangunan, reformasi dan pasca reformasi itu mengalami pergantian nama. Setelah Nasional, kemudian menjadi Suluh Indonesia, Suluh Marhaen, Berita Nasional, Bernas, dan Bernas Yogya. Pemilik medianya juga mengalami beberapa pergantian. Para wartawan media ini silih berganti belajar dan berkarya bersama menjalankan profesi jurnalis secara kreatif dan semangat.

Setiap praktisi profesi tentu memiliki alasan dan tujuan melakukan pengabdiannya. Tidak terkecuali Sumanang, awal mula tertarik kepada dunia jurnalistik juga karena suatu hal. Ternyata, semasa dia masih menjadi mahasiswa untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dia hanya mendapat angka 3. Pada waktu itu yang mengajar Bahasa Indonesia RHS, Sekolah Tinggi Kehakiman, adalah seorang (bekas) kapten Belanda. Mengapa demikian, tentunya hanya Pemerintah Hindia Belanda saja yang dapat memberikan jawabannya.

Menurut Soebagio I.N. dalam buku Jagat Wartawan Indonesia (PT Gunung Agung, 1981), setelah mendapat angka kurang baik untuk Bahasa Indonesia, Sumanang lalu belajar Bahasa Indonesia dengan jalan mengirimkan karangan kepada Harian Tjaja Timoer yang dipimpin Parada Harahap. Setelah banyak artikel termuat, Sumanang diangkat sebagai pembantu ahli hukum untuk koran itu.

Dalam perkembangannya kemudian, khusus di bidang kewartawanan dan media massa, Sumanang banyak mendirikan media pers. Termasuk ikut mendirikan kantor berita Antara bersama beberapa rekan. Selain itu, sewaktu kongres pendirian Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dia secara bulat terpilih sebagai ketuanya yang pertama.

Selain tercatat di buku Jagat Wartawan Indonesia, Sumanang juga diabadikan di buku Tanah Air Bahasa – Seratus Jejak Pers Indonesia (i:boekoe, 2007). Di buku karya Taufik Rahsen dan kawan-kawan ini, selain Sumanang juga termuat sosok “generasi penerus”-nya yakni Fuad Muhammad Safruddin. 

Di buku Tanah Air Bahasa, Sumanang menyatakan, “….kita semuanya berhutang budi kepada pers.”. Sedangkan Udin, sebagaimana tertulis judul atas tulisaannya : “Dana IDT Hanya Diberikan Separo”. Setelah tulisan ini dan beberapa tulisan bernada keras karya Udin termuat di Harian Bernas pada masa itu, dia dianiaya oleh orang tidak dikenal di rumahnya Selasa malam (13/8/1997). Udin yang dipukul kepalanya dengan benda tumpul lalu tidak sadarkan diri dan dibawa ke Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Tiga hari kemudian, sehari sebelum peringatan proklamasi kemerdekaan, Udin meninggal.

Dalam perkembangan selanjutnya, Harian Bernas Jogja —tempat sekian banyak anak muda yang penuh idealisme — mengakhiri edisi cetaknya pada tanggal 28 Februari 2018.

Kenangan buku-buku

Banyak cara untuk mengenang seseorang atau sesuatu di kemudian hari. Tidak terkecuali kenangan atas momentum tanggal 15 November, khususnya sebagai hari lahirnya Harian Bernas. Penulis sebagai generasi penerus media ini, bersyukur memiliki “media kenangan” berupa buku-buku. Karya literasi monumental ini hasil kolaborasi dengan beberapa rekan wartawan maupun karya solo.

Pertama, buku Lukisan Matahari – 19 Cerpen Pilihan Bernas, yang diterbitkan pada HUT ke-47 Harian Bernas 15 November 1993. Ini adalah buku kumpulan cerpen pertama yang kemudian disusul buku Guru Tarno dan Candramawa. Editor tim redaksi budaya koran ini. 

Kedua, buku Udin Upaya Menegakkan Kebenaran (1998), dengan sambutan Ketua HAM dan pengantar Drs Ashadi Siregar. Ketiga, buku Sri Sultan Hamengku Buwono X : Meneguhkan Tahta untuk Rakyat. (1999), penulis tim wartawan Bernas. Keempat, buku Litbang Koran (2000), penulis Litbang Bernas. Kelima, buku Jajak Pendapat – Isu dan Kebijakan Seputar Pemerintahan Habibie dan Gus Dur (2000), hasil kerja sama dengan Prodi Sosiologi FISIP UAJY.

Keenam, buku 71 Tak Tik Bisnis Bernas (2000), kerja sama dengan AMP YKPN Yogyakarta. Ketujuh, Dialog Demokrasi dan Keadilan (2001), buku kumpulan tajuk rencana karya Litbang Bernas. Kedelapan,  Wartawan-wartawan Berkisah (2001), karya Litbang Bernas. 

Dua buku selanjutnya adalah karya pribadi penulis yakni Bernas Jogja Sekolahku Tanpa Gelar (2011), sebagai ungkap syukur 35 tahun menjadi wartawan Bernas. Kemudian buku Bicara dalam Diam (2016), sebagai kado 70 Tahun Harian Bernas dan 40 tahun penulis berkarya.  

Tidak ada yang abadi di dunia ini, adalah kenyataan yang harus dialami oleh siapapun dan apapun. Meski demikian, upaya mengenang dan media kenangan itu dapat dilakukan oleh siapapun. Yakni mereka yang memiliki hubungan, keterikatan, peranan dengan seseorang atau sesuatu itu.

Tradisi menulis buku, baik antologi maupun solo, dicoba wujudnyatakan oleh Harian Bernas Jogja. Memang tidak mudah dan butuh perjuangan. Bagi penulis, sebagaimana pernah dinyatakan oleh wartawan senior Jakob Oetama (alm), buku adalah mahkota wartawan. Maka wartawan, dan kiranya profesi lain atau siapa pun, diajak untuk berkarya buku demi aktualisasi diri dan turut melestarikan peradaban.  

Sebagai praktisi media, khususnya di Harian Bernas Jogja dulu, penulis juga berusaha tetap menghidupkan spirit (perjuangan mewujudkan) kebenaran yang dimiliki setiap media di mana pun berada. Dalam kebenaran dan kebaikan universal, semoga dunia dan kehidupan di atasnya dapat terpelihara dengan baik. (Y.B. Margantoro, pernah berkarya di Harian Berita Nasional – Harian Bernas Jogja, tahun 1976 – 2016).