bernasnews — Satu kata ‘senyum’ bisa menjadi bernilai bila suatu organisasi-perusahaan mampu menjadikan budaya atau kebiasaan baik bagi setiap orang yang ada dalam organisari tersebut. Banyak cara dalam menjalankan organisasi, baik organisasi yang bergerak dalam bidang jasa, maupun organisasi di bidang bisnis, bidang sosial dan bidang pelayanan yang lain.
Aktivitas keramahan dengan berbekal komunikasi verbal berupa senyum merupakan praktik yang sebenarnya mudah dilakukan oleh siapa saja, namun persoalannya adalah, tidak semua orang mau belajar dengan senyum secara ramah. Konteks senyum bukanlah suatu yang memerlukan kajian yang detail dan teori-teori yang sulit dipelajari. Perbuatan senyum ramah merupakan praktik yang sebenarnya mudah dilakukan oleh siapa saja, namun persoalannya adalah tidak semua orang mau belajar dengan senyum yang ramah, baik dan tulus tentunya.
Senyatanya tidak sedikit dari para pelaku bisnis dan organisasi yang sudah merasa bisnisnya atau organisasinya berjalan baik dan laku laris manis, mengapa harus dengan berpikir dengan aspek keramahan.? Aspek keramahan dengan senyuman kadang kala masih kurang mendapat perhatikan secara serius, dan baru terasa kalau banyak pelanggan atau pembeli, pengguna jasa pindah ke tempat lain, lalu sangat perlu melakukan perbaikan pelayanan yang baik. Situasi seperti ini, mestinya tidak perlu terjadi manakala para pelaku bisnis – organisasi menyadari bahwa pembeli, pelanggan, pengguna jasa adalah bagian dari kehidupan dan bagian roh dan nyawa dalam kehidupan bisnis dalam organisasi-perusahaan.
Mengapa demikian? Menurut hemat saya karena memang belum banyak konteks pelayanan dengan keramahan dan senyuman yang ikhlas menjadi budaya dalam organisasi-perusahaan. Akan tetapi dari yang belum banyak ini, ada salah satu pelaku bisnis yang sudah sejak lama mempraktikan aspek ini. Sebagai contoh hampir tiap hari habis mengantar sekolah cucu, saya beli Gudeg di Jalan Magelang. Baru saja di depan warung kaki lima tersebut dan kadang kala saya lupa melepas Helm dan tetap memakai masker, pemilik Gudeg yang bernama Bu Umi angsung bertanya “biasanya ya Pak Bambang”, ya biasa nya Bu, gudeg telur, tahu dan krecek di pisah. Dengan wajah yang ramah senyum. Sejenak saya berfikir dan balik bertanya, kok tahu nama saya Pak Bambang, padahal saya pakai helm dan masker? Jawab mereka, ya tahu wong sering tiap hari lewat dan beli gudeg di sini, dan motornya khas di jok belakang ada rice cooker- nya (maksudnya ada kotak bagasi}.
Contoh lain hari Selasa siang, 27 September 2022, saya mengunjungi salah satu Bank BUMN di Jalan Diponegoro, sebut saja Bank Mandiri. Sejak saat masuk pintu bank petugas SAT-PAM sangat melayani dengan ramah, dan setelah masuk ke dalam, saya diberi nomor antrian 20 sambil menunggu panggilan saya amati para karyawan bank yang sedang melayani nasabah, sekitar 15 menit dari waktu tunggu saya didatangi wanita berkulit kuning dengan tinggi badan ideal, menyapa saya sambil menanyakan nomor antrian dan diminta untuk duduk di kursi pelayanan.
Dengan penuh keramahan dan senyuman yang baik (walau pakai masker) saya terasa, bahwa itu senyum yang ramah, petugas bank itu bernama Anggi Vina Amrina, selaku General Banker Staff. Saat saya duduk Bu Anggi melontarkan pertanyaan yang ku dengar sangat ramah dan santun, “Apa yang bisa saya bantu bapak,” langsung saya utarakan untuk membuka rekening. Tujuan untuk membuka rekening akhirnya selesai dan sambil jalan menuju ATM saya dipandu untuk cara setor tunai via ATM. Sebelum saya meninggalkan bank tersebut Bu Anggi masih sempat menanyakan lagi, ada hal lain yang ditanyakan Pak Bambang? Saya jawab sementara cukup Bu, dan terima kasih atas keramahan pelayanan ini.
Keramahan, senyuman dan obrolan kecil seperti yang saya lakukan dengan Bu Umi penjual Gudeg dan Bu Anggi Vina Amrima dari staff bank tersebut, merupakan contoh bagaimana pelaku bisnis dan jasa mencoba untuk tetap ramah pada pembeli, nasabah, sekaligus mampu menghafal nama-nama pembeli dan nasabah yang begitu banyak sering datang berkunjung. Silakan Bu Umi dan Bu Anggi cara senyum dan keramahan yang demikian menarik itu bisa ditularkan pada karyawan yang ada di sekitarnya. Oleh karenanya jangan dianggap remeh bahwa model keramahan dengan senyum yang baik, merupakan trik-trik bisnis yang ampuh.
Konteks keramahan dengan senyuman yang iklas ini perlu diikuti dengan kesabaran melayani, karena banyak pembeli, nasabah yang memang memiliki pribadi, keinginan yang berbeda. Yang lebih penting keramahan dan senyuman harus dengan ikhlas lahir dan batin. Janganlah keramahan dan senyum dengan dibuat-buat, tetapi dengan hati dan harus keluar dari sanubari yang sangat dalam. Karena melakukan keramahan dalam pelayanan dan senyum yang ikhlas sebenarkan adalah juga ibadah dan merupakan pekerjaan yang banyak pahalanya, sebab orang yang dilayani merasa ada keteduhan dan senang hatinya. (Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala/ Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)











