bernasnews — Berbicara mengenai kepemimpinan, tidak dapat dilepaskan dalam konteks manajemen, artinya sebagai seorang pemimpin harus bertindak sebagai manajer yang selalu dihadapkan pada suatu kerangka berfikir dalam hal pengambilan keputusan yang tidak mudah dalam realitanya, karena suatu keputusan yang telah ditetapkan, sangat mungkin tidak seluruhnya mencapai sasaran. Kondisi ini dapat terjadi karena adanya berbagai faktor ketidakpastian yang sulit diprediksi secara akurat untuk masa mendatang.
Masalah kepemimpinan masih menarik untuk dibicarakan dari periode ke-periode, terlebih bila dalam organisasi-perusahaan telah terjadi krisis kepemimpinan. Dalam menghadapi krisis kepemimpinan, sebenarnya relatif dapat diantisipai, manakala di dalam proses pendelegasian dari segala tugas pada masing-masing departemen atau bagian telah dapat terbagi dan tersebar secara baik dan sistem kerja yang ada telah berjalan baik, dan tentu saja dibutuhkan sistem kerja yang transparan dan komunikatif diantara komponen yang ada dalam organisasi.
Hal ini akan dapat tercapai sangatlah tergantung dari keberadaan peran seorang pemimpin dalam organisasi tersebut. Untuk menjadikan seorang pemimpin mampu untuk membawa tanggung jawab terhadap keberadaan organisasi yang semakin dinamis, merupakan beban yang tidak ringan, karena dengan persyaratan teknik dan operasional, belumlah cukup, tanpa didukung dengan mekanisme kerja yang besar dari para anggota yang ada dalam organisasi. Inilah beban yang tidak ringan yang harus dihadapi oleh para pemimpin organisasi di masa depan, karena aspek yang harus dikelola cukup komplek dan memerlukan perhatian yang serius. Misalnya, pengembangan organisasi ke depan, persoalan aset-aset, persoalan perawatan gedung, bangunan, persoalan sumber dana, persoalan sumber daya manusia yang memiliki karakteristik dan keinginan yang berbeda.
Konsep kepemimpinan, adalah seni mengkoordinasi dan memotivasi individu-individu, dan kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan, dengan mengacu pada perilaku tugas yang harus ada dalam diri seorang pemimpin, terkait dengan kadar sejauh mana pemimpin mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya dengan memberitahukan pada mereka mengenai apa, kapan, di mana dan bagaimana suatu tugas harus dilaksanakan. Selain aspek perilaku tugas, seorang pemimpin juga perlu melakukan perilaku hubungan. Perilaku hubungan terkait dengan kadar sejauh mana pemimpin melakukan hubungan dua arah atau banyak arah dengan orang-orang yang dipimpinnya dan dengan pihak lain yang terkait. Yang jelas, untuk mengintegrasikan antara perilaku tugas dan perilaku hubungan secara baik, sangat terkait dengan model kepemimpinan yang diterapkan oleh seorang pemimpin tersebut. Akan tetapi adanya faktor intern dan ekstern sangat mungkin dapat mempengaruhinya.
Persoalan yang lebih penting adalah, karena seorang pemimpin itu memiliki kuasa, maka kuasa yang bagaimanakah kiranya perlu dibentuk. Apakah kuasa jabatan ataukah kuasa personal, atau perpaduan antara kuasa kedua-duanya. Apapun pilihan yang diambil, yang penting adalah ketepatan pemimpin dalam melihat situasi yang terjadi dalam organisasi. Artinya, kapan seorang pemimpin menggunakan kuasa jabatan, dan kapan menggunakan kuasa personal, atau kapan menggunakan kedua-duanya sangat tergantung pada kondisi yang ada.
Seorang pemimpin harus mengusahakan perolehan hasil yang optimal disegala bidang kegiatan, maka ia harus terbuka terhadap kemungkinan baru, open minded, tidak mudah terpengaruh gossip. Paul de Blot (1996), mensyaratkan bahwa seorang leader harus mampu menyatukan empat unsur yakni :Pertama Visi. Seorang pemimpin harus mempunyai cita-cita (I have dream).Kedua realistis. Seorang pemimmpin bukan merupakan orang yang idealis belaka, tapi orang yang realities. Sadar akan keterbatasan yang dialami dan mengerti kelemahan orang lain. Ketiga, bermoral tinggi. Seorang pemimpin menghindari – mempermainkan orang, tetapi menilai setiap orang seperti makluk Tuhan yang perlu dilayani. Ke-empat keberanian dan disiplin yang tinggi. Orang penakut yang selalu kuatir kehilangan muka dan merugikan diri sendiri tidak akan berani mengambil resiko, maka keberanian harus berakar pada diri sendiri dan dia harus mampu menjadi leader terhadap dirinya sendiri, sebelum dapat memimpin orang lain. (Z. Bambang Darmadi, Lektor Kepala dan Dosen ASMI Santa Maria Yogyakarta)











