bernasnews.com – Pendidikan bukan segala-galanya tetapi segala-galanya ada karena pendidikan, dan pendidikan bagian dari sebuah negara. Hancurnya pendidikan sama dengan hancurnya sebuah negara. Boleh dikatakan bahwa kunci kemajuan sebuah negara terletak pada bidang pendidikan. Berbicara mengenai pendidikan tidak lepas dari guru, walaupun kita tahu bahwa pendidikan secara umum bukan semata-mata tugas seorang guru melainkan tanggung jawab bersama, baik keluarga, maupun masyarakat ikut andil di dalamnya.
Mutu pendididkan sangat menentukan kualitas manusia, dalam hal ini lebih difokuskan pada pendidikan formal sehingga guru dituntut untuk meningkatkan kualitas profesinya karena ia memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengajar mentransfer ilmu, menumbuhkan bakat dan minat, serta menamamkan karakter, budi pekerti yang baik bagi peserta didik. Kita sadari bahwa akhir-akhir ini pendidikan dirasa kehilangan arah. Apa yang dicita-citakan, apa yang diharapkan seolah sirna dengan datangnya pandemi Covid-19 yang tidak mengenal negara kaya atau miskin, dengan pendidikan modern atau masih terbelakang.
Munculnya virus Corona sungguh mengubah seluruh sektor kehidupan tidak terkecuali bidang pendidikan. Sejak diumumkan oleh Dinas Pendidikan pada bulan Maret 2020, bahwa kegiatan pembelajaran dilaksanakan jarak jauh dalam jaringan (daring), sontak semua elemen pendidikan formal khsusnya Sekolah Dasar (SD) bingung dan gelisah. Muncul pertanyaan sekaligus kekhawatiran mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana caranya mengajar, bagaimana siswa memahami materi dengan baik, bagaimana cara mengevaluasi, sarana apa saja yang dibutuhkan, serta berbagai pertanyaan lain yang bermunculan mengingat selama situasi normal kegiatan pembelajaran berjalan bagai air mengalir dengan metode yang biasa, model klasikal, guru menerangkan dan siswa duduk manis mendengarkan, sarana dan media pembelajaran seadanya, dan sebagainya.
Kebingungan dan kegelisahaan ini deperkuat oleh keraguan masyarakat luas dalam berbagai media masa mengenai kemampuan guru. Tidak dipungkiri bawa tidak sedikit guru yang masih gagap dalam teknologi, apalagi pembelajaran jarak jauh yang merupakan hal baru. Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim, M.B.A tidak membiarkan guru terus berada dalam kegalauan. Berbagai terobosan dilakukan dengan harapan mutu pendidikan di negeri ini jangan sampai merosot bahkan sebaliknya semakin meningkat dibandingkan dengan sebelum munculnya virus.
Dana BOS yang biasanya diatur oleh pemerintah dalam penggunaanya, kini diserahkan sepenuhnya kepada sekolah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam proses pembelajaran jarak jauh. Dukungan pemerintah khususnya Kemendikbud disambut baik oleh semua sekolah. Banyak pelatihan, baik yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Yayasan, maupun instansi-instansi terkait ditempuh oleh guru.
Berbagai aplikasi dipelajari mulai dari yang paling sederhana sampai pada tingkat yang tersulit seperti whatsapp, google meet, google calssroom, zoom, dengan desain pembelajaran menggunakan media powerpoint, canva, powtoon, dan sebaginya dilalui dengan tujuan untuk meningkatkan kreativitas kinerja dan yang paling utama di lubuk hatinya, yaitu menarik minat belajar anak sekaligus mempertahankan dan meninggkatkan mutu pendidikan di era pandemi ini.
Jika ditanya apakah para guru lelah atau tidak, yakinlah bahwa semua guru menjawab lelah. Namun demi anak didik yang dipercayakan Tuhan dan masyarakat, serta menyadari tanggung jawabnya, seorang guru rela kehilangan waktu istirahat, waktu bercengkrama dengan keluarga, waktu rekreasi, bahkan waktu untuk dirinya sendiri.
Melihat semangat juang para guru, sekolahpun berbenah dengan meningkatkan ketersediaan fasilitas dan sarana pembelajaran yang baik pendukung jalannya pembelajaran jarak jauh, diantaranya dengan perbaikan instalasi listrik dan penambahan daya, menambah jaringan internet, pengadaan LCD Proyektor, komputer, webcam, tripot berbagai jenis dan ukuran, pointer, pen tablet, dan berbagai peralatan lain yang dibutuhkan.
Sarana pendukung yang luar biasa serta kesiapan guru lewat berbagai pelatihan yang digeluti muncul kelegaan dalam hati seorang guru dan ia boleh bergumam, “Mungkin pandemi menjadikan aku guru yang sesungguhnya, guru yang selalu segar dengan ide-ide baru, guru yang keratif, guru yang selalu tampil prima, guru yang dirindukan oleh peserta didik karena metode mengajarku yang menyenangkan, bahkan guru yang sejati”.
Rasa lega akan kesiapan berjumpa dengan anak didik di ruang maya tidak semudah yang dibayangkan. Lagi-lagi sang guru memutar otak untuk menghadapi para siswa dengan latar belakang keluarga yang berbeda. Selain sarana yang dimiliki siswa, jam belajarpun berubah mengikuti irama orang tua yang aktif bekerja di luar rumah tetapi belum memberi kepercayaan kepada putra-putrinya untuk menggunakan laptop dan handphone (HP) tanpa pengawasan khususnya siswa kelas rendah (misal kelas 1 atau kelas 2), sehingga kegiatan belajar kadang dilaksanakan pada sore hari setelah orang tua berada di rumah.
Akibatnya tugas siswa dikumpulkan larut malam dan guru begadang untuk mengoreksi pekerjaan siswa-siswanya. Sebaliknya untuk siswa kelas tinggi (misal kelas 3, 4, 5 atau 6), orang tua memberi kepercayaan tetapi tak jarang kepercayaan itu disalah gunakan, misalnya pada jam pelajaran melalui media zoom siswa jarang menyalahkan kamera dengan alasan jaringan yang tidak baik, ada yang mengikuti pembelajaran sambil makan, sambil tiduran, bahkan sambil jalan-jalan ke tempat rekreasi.
Banyak tugas tidak dikerjakan dan apabila ditanya selalu saja ada alasan. Guru akhirnya mengambil langkah untuk melakukan kunjungan rumah dan benar yang didapati siswa sedang bermalas-malasan. Berbagai nasehat dan motivasi alhasil anak bersemangat lagi untuk belajar dan menyelesaikan tugas-tugasnya.
Selain siswa gurupun berhadapan dengan orang tua murid yang seharusnya mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dari segi karakter maupun pengetahuan tetapi kenyataannya tidak sedikit orang tua murid yang seharusnya bijak dalam mengatur pola hidup anak, tegas menerapkan aturan penggunaan gadget di luar jam belajar, tetapi sebaliknya membiarkan mereka bermain game sampai larut malam dan paginya tidak bisa bangung sehingga yang masuk dalam ruang zoom adalah orang tua.
Mereka para orang tua siswa pun mengakui bahwa demi kenyamanan dan nama baik di group whatsapp (WA)mereka tidak punya pilihan selain mengerjakan pekerjaan anak. Sesungguhnya mereka sadar betul bahwa ini tidak benar namun tidak berdaya. Ketika tiba waktunya untuk evaluasi pembelajaran, semua siswa mendapatkan nilai yang bagus. Naluri keguruan sangat paham akan keaslian nilai tersebut, walaupun berada pada dilema mendalam tetapi tetap berpikir positif, bahwa saat ini siswa belajar dari rumah, berada di tengah-tengah keluarga, bisa jadi prestasi atau nilai siswa meningkat berkat ketekunan dan bimbingan dari orang tua.
Pada akhir bulan Agustus 2021, Walikota Semarang mengeluarkan instruksi dengan no surat 03 Tahun 2021 Tanggal 17 Agustus 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3, dalam rangka pencegahan penyebaran dan pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Semarang. Ini artinya kota Semarang berada pada zona kuning dan hijau sehingga kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas dapat dilaksanakan dengan kapasitas 50 persen dari jumlah siswa untuk satu rombongan belajar. Disini peran guru dalam proses pembelajaran sangat tinggi. Kegiatan belajar dilakukan dalam waktu yang sama pada dua tempat yang berbeda.
Sekali lagi ini bukan sesuatu yang mudah. Para guru kembali belajar menggunakan alat, serta membagi perhatian untuk siswa yang berada di sekolah dan di rumah. Hal yang ditemukan dalam PTM terbatas ini adalah yang pertama kaburnya nilai karakter. Indonesia terkenal dengan budaya timur yang khas khususnya masyarakat Jawa Tengah yang populer dengan sopan-santunya yang ditanam dan dibentuk dalam diri siswa sekian tahun seolah sirna ditelan pandemi. Ini terlihat dari hal sederhana yang seharusnya menjadi suatu kebiasan yakin memberi salam jika bertemu guru atau orang lain, apabila berjalan melewati orang lain tidak ada kata permisi, dan ketika berada di kelas dan di tempat duduk kedua kaki dianikan di atas kursi.
Maka inilah yang menjadi pekerjaan utama guru memulai PTM. Kedua tingkat konsentrasi siswa lemah. Kebanyakan siswa berada di kelas tetapi hati dan budi entah ke mana. Posisi duduk dan pandangan mata seolah-olah memperhatikan penjelasan guru namun pikiran kosong/menerawang. Ketika ada umpan balik, respon yang didapat tidak sesuai harapan. Materi yang diajarkan berulang kali, ketika diberikan tes tertulis hasilnya sangat jauh di bawah standar, tugas dikerjakan setengah-setengah.
Muncul pergolakan batin dalam nurani guru, akankah iya tetap mencantumkan nilai yang ada pada buku laporan pendidikan? Jika ya, apakah siswa bisa naik kelas, bagaimana dengan tingkat berikutnya?. Guru kembali berdiskusi dengan rekan sejawat mencari solusi terbaik akhirnya memilih untuk mengulang kembali materi yang sudah lewat tetapi di rasa penting untuk jenjang selanjutnya.
Nilai diberikan berdasarkan pertimbangan situasi pandemi mengikuti arahan Dinas Pendidikan bahwa semua siswa harus tuntas dalam belajar. Ketiga daya juang menurun. Kebiasaan menyerahkan tugas untuk dikerjakan oleh orang tua atau asisten rumah tangga membuat siswa enggan berpikir, enggan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, malas untuk melakukan sesuatu, dan menganggap biasa-biasa saja. Inilah realita pendidikan era pandemi.
Melihat kenyataan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa kualitas manusia yang ditentukan oleh mutu pendidikan, tidak hanya terletak pada peralatan canggih, media dan aplikasi yang menawan, melainkan pendekatan personal. Sarana hanyalah perantara tetapi mutu dan semangat belajar terlekat pada minat dan kemauan.
Dalam hal ini tanggung jawab tidak hanya pada guru, perlu dukungan dari seluruh elemen sekolah, bekerjasama dengan komite dan orang tua murid melakukan musyawarah bersama, mencari solusi terbaik mungkin dengan mengundang nara sumber yang berkompeten untuk melakukan aktivitas yang menggelora menyentuh hati, dan membangkitkan minat belajar siswa. (Sr. M. Soviani, OSF, Kepala Sekolah SD Marsudirini St. Antonius 02 Banyumanik, Semarang)











