Opini  

Penulis Tidak Boleh Berhenti Belajar dan Berkarya

BERNASNEWS.COM – Membaca dan menulis itu mudah atau sulit, hak atau pilihan, kewajiban atau paksaan, panggilan atau boleh sambil lalu, kebutuhan atau ancaman, hobi atau bakat, hidup atau mati, dan peradaban atau kepunahan dan seterusnya.    

Beberapa hal yang menyertai sebuah kebiasaan atau hambatan literasi itu boleh dianggap kenyataan atau rekayasa. Namun yang pasti, membaca dan menulis sejak lama sudah diperjuangkan oleh bangsa dan negara ini agar bebas dari buta aksara dan berkembang. Tidak ada negara maju di mana pun yang mengabaikan membaca dan menulis untuk pendidikan warga. 

Dalam perkembangan waktu, pemerintah kita melalui beberapa lembaga tingkat tinggi memformat menjadi sebuah gerakan. Gerakan itu bernama Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Literasi Nasional (GLN), Gerakan Literasi Digital Nasional (GLDN) dan sebagainya.

Kembali ke soal membaca dan menulis itu mudah atau sulit, tergantung cara pandang dan kebutuhan yang akan dicapai. Kalau kita melihat sesuatu itu sulit atau sukar, dan apalagi belum pernah mencobanya, memang tidak gampang. Sebaliknya, kalau kita mau mencoba terlebih dulu, ternyata sesuatu itu tidak sulit dan bahkan memberikan manfaat.

Kali ini, kita coba melihat sebagai tantangan, bahwa menulis itu tidak gampang. Adalah seorang wartawan senior P Swantoro yang menulis pengantar di buku Menulis Itu Panggilan (editor YBM, 2002) mengatakan bahwa “menulis” itu tidak mudah. Seorang penulis termasuk seorang wartawan, tidak saja mesti memiliki keterampilan menuangkan materi tulisannya dengan menarik-memikat, tapi ia pun mesti berpengetahuan luas, khususnya pengetahuan umum, baik mengenai manusia maupun masyarakatnya.

Karena itu, lanjut dia, seorang penulis termasuk seorang wartawan, mestinya tidak pernah boleh berhenti belajar, mengisi diri, baik dengan banyak membaca maupun dengan terus menerus memperluas pengalaman.

Apa yang dikemukakan wartawan senior Indonesia itu sejalan dengan pendapat kolumnis Walter Lippman yang berkata kepada chairman The Washington Post Katherine Graham bahwa sulitlah untuk menulis lagi setelah hanya beberapa minggu saja meletakkan pena. Maka sekali jadi penulis, jangan berhenti menulis.

Mengapa bergairah menulis?

Sekali menjadi penulis (dan tentu saja pembaca), hendaklah tetap menulis. Kiranya hal tersebut dapat menjadi mantra atau pemantik motivasi bagi siapa saja yang mau dan mampu menekuni membaca dan menulis, serta memperoleh manfaat yang signifikan dalam kehidupan.

Beberapa karya buku Y.B. Margantoro yang bicara tentang kepenulisan. Buku bukan hanya sebagai pendokumentasian ide dan gagasan, namun sekaligus untuk referensi dalam proses belajar bersama. (Foto : Ch. Endah Heruwati)

Saya sebagai pembelajar dan pegiat literasi di Yogyakarta sepakat tentang hal tersebut. Bahkan lewat bacaan laporan tentang sastra oleh Harian Kompas Jakarta edisi Minggu (6/3/2022), hal itu kembali tergenapi. Melalui dua tulisan bertajuk Gairah Berkisah Penulis Tua dan Selamatkan Sastra dari Kebangkrutan!, pembaca dan pembelajar karya tulis disadarkan tentang (pentingnya) semangat tetap berkarya tulis  yang luar biasa dari penulis senior dan ancaman kebangkrutan sastra bila kehilangan pembaca dan penulis baru.

Bagi penikmat karya sastra khususnya dan pembaca umumnya, kiranya mengenal nama-nama penulis seperti Putu Wijaya (78), Remy Sylado (79), Martin Aleida (78) dan Achmad Tohari (74). Dalam tulisan laporan atau feature itu, keempat penulis senior itu lebih ditekankan dalam gairah menulis mereka yang belum atau tidak padam. Luar biasanya, dua diantara empat penulis itu yakni Putu Wijaya dan Remy Sylado, meski sudah dalam kondisi tidak terlalu sehat namun tetap berkarya luar biasa.

Putu Wijaya yang pernah menjalani operasi kepala sembilan tahun silam, hanya “menyisakan”  jempol kanannya yang dapat bekerja selaras dengan kehendak pikirannya. Meski demikian, dia tidak menyerah begitu saja. Dia berhasil menyelaraskan kerja jempolnya dengan jenis ponsel touch screening seperti android. Dalam kondisi seperti ini, dia masih mampu menghasilkan tujuh buku dengan ketebalan masing-masing 500 halaman. Satu buku berisi antara 100 – 200 cerita pendek, lakon drama dan monolog.

Kemudian Remy Sylado yang sejak tahun 2020 terserang stroke dan hanya terbaring di tempat tidur pun masih bersemangat menulis dengan dibantu isteri dan anaknya. Remy bicara atau mendiktekan karya, sedangkan keluarga menulis di laptop. “Bulan Juli 2022 mendatang, naskah Om Endi dan Tante Ugu akan dipentaskan di Manado. Sekarang Jose (Rizal Manua) sedang mengetiknya,” kata Remy yang masih merindukan suara mesin manual.

Penulis Martin Aleida yang tidak memiliki gangguan fisik masih bersemangat untuk lebih banyak menghasilkan karya tulis. Sedangkan Achmad Tohari menyatakan optimis dunia kepenulisan terus bertumbuh seiring dengan banyaknya anak remaja yang mulai menekuni tulis-menulis.

Setelah membaca dua laporan tentang sastra itu, saya pribadi merasa tersentuh, bangga dan sekaligus prihatin, serta tetap berpengharapan atas kemajuan literasi di Tanah Air. Tersentuh dan bangga karena para penulis senior kita memiliki etos, motivasi, tanggungjawab dan sekaligus target pribadi dalam dunia kepenulisan. Hal ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus penulis atau masyarakat umum.

Di sisi lain, merasa prihatin bila kita yang masih muda serta memiliki banyak sarana dan akses justru kurang semangat untuk belajar dan berkarya. Kelemahan secara internal seperti malas, tidak percaya diri, gampang puas, tidak mau terus belajar dan berkarya, dan lain-lain harus dikikis habis. Kita harus sadar dan bertanggungjawab atas kemajuan bangsa dan negara antara lain melalui literasi, pendidikan, peluang usaha dan sebagainya.

Kita terus berharap, Gerakan Literasi Nasional dan sejenisnya mendapat dukungan banyak pihak agar memberikan hasil dan makna yang signifikan bagi kehidupan setiap pribadi dan masyarakat.

Saya pribadi dengan berbagai keterbatasan dan kelemahan terus berusaha menulis di media dan buku. Buku bukan hanya penting untuk pendokumentasian ide dan gagasan, namun juga turut melestarikan peradaban.  Melalui berbagai kelas menulis di komunitas literasi, kita dapat belajar dan berkarya bersama. (Y.B. Margantoro, Pegiat Literasi di Yogyakarta).