Opini  

Petani Mileneal: Sebuah Jawaban untuk Kedaulatan Pangan

BERNASNEWS.COM — Tingginya harga kedelai di pasaran yang menjadikan pengrajin tempe dan tahu menjerit merupakan suatu bukti, bahwa Indonesia yang juga merupakan negara agraris atau negara yang bertumpu pada pertanian perlu dipertanyakan eksitensinya. Tempe dan tahu yang bisa dikatakan telah menjadi makanan pokok rakyat ini pun telah menjadikan bangsa kita tak berdaya dan harus bergantung pada bangsa lain.

Itu baru satu jenis komoditas pertanian berupa kedelai, belum komoditas-komoditas produk pertanian yang lainnya yang terkait dengan kebutuhan hajat masyarakat banyak. Utamanya beras yang menjadi makanan pokok, juga jagung, gandum, tepung gandum, kentang, minyak goreng, dan mentega. Belum lagi kalau kita lihat deretan buah yang dipasarkan, kiwi, pir, anggur, lengkeng, jeruk, kurma, dan durian merupkan buah impor semua.

Setelah tahu komoditas pertanian itu berasal maka kita akan menjadi miris, yang akhirnya akan mencari-cari siapa yang bersalah dan siapa yang bertangungjawab terhadap masalah ini. Dari pada saling tuding salah dan tanggung jawab, kita bisa arahkan energi kita untuk bersama-sama  mencari solusi permasalahn ketergantungan pangan kita kepada luar negeri.

Pertama-tama kita bisa mencoba membangkitkan kesadaran kaum muda atau kaum milenial  untuk berpikir dan bergerak dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan bangsanya. Bahwa jika kita terus-menerus seperti ini, maka kita akan terus bergantung pada  luar negeri. Dalam jangka panjang, ketergantungan ini  bisa dimanfaatkan oleh luar negeri untuk mendikte kita sesuai dengan kepentingan mereka. 

Secara sederhana  petani milenial adalah petani yang berusia antara 19-39 tahun. Data-data impor bahan pangan dari  luar dapat dijadikan salah satu triger untuk menyadarkan akan masalah  ketersediaan pangan dalam jangka panjang.  Sementara fenomena saat ini kecil sekali minat pemuda untuk menjadi petani atau bekerja di bidang pertanian. Tanpa adanya intervensi atau campur tangan dari pemerintah soal regenerasi bidang pertanian akan berdampak pada penyediaan pangan bagi masyarakat, sementara jangka panjangnya akan mengancam kedaulatan pangan bangsa.

Untuk menumbuhkan minat anak muda atau generasi milenial tertarik menjadi petani atau  bekerja di bidang pertanian,  sebagai anggota dewan dari DPRD Kabupaten Sleman menyampaikan pokok-pokok pemikiran (pokir), dengan menggandeng Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman, menyelenggarakan giat Pelatihan Petani Milenial, dengan tema ‘Pelatihan Agribisnis Petani Muda Milenial’. Pelatihan diawali dengan  kerangka berpikir sebagai seorang anggota dewan yang memandang bahwa kedaulatan pangan adalah penting, sehingga perlu ditegakan oleh seluruh elemen bangsa. Dilanjutkan dengan pemaparan  Kebijakan Pembangunan Pertanian di Kabupaten Sleman.

Dinas Pertanian sendiri secara garis besar memaparkan analisis usaha tani yang dapat dijadikan pedoman bagi pemula dalam menekuni usaha tani. Pelatihan ini juga menghadirkan lembaga-lembaga yang berperan dalam mendukung usaha tani mlenial yaitu dari asuransi pertanian, pembiayaan pertanian, serta pemasaran hasil-hasil pertanian secara online. Kegiatan ini dilaksanakan selama tiga hari, di Kalurahan Pandowoharjo dan Kalurahan Tridadi, Kabupaten Sleman,

Pelatihan Milenial ini diharapkan dapat membuka wawasan generasi milineal akan adanya peluang usaha di bidang pertanian beserta produk turunannya. Hal ini juga sebagai pendukung program dari Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, yang telah mencanangkan program mencetak 1.000 petani milenial hingga tahun 2024. Dan berdasar data yang dilansir hingga pertengahan Februari 2022, telah tercatat sebanyak 239 orang petani milenial yang masuk ke Jaringan Petani Milenial (JPM). Mereka adalah petani binaan Unit Pelaksana Teknis Daerah Balai Penyuluhan Pertanian, Pangan dan Perikanan (UPTD BP4), yang telah tersebar ke 8 UPTD BP4 di Kabupaten Sleman.

Senyampang dengan program Pemerintah Kabupaten Sleman mencetak 1.000 petani milenial hingga tahun 2024, juga Kementrian Pertanian RI yang mempunyai target nasional mencetak  satu juta petani milenila, tentunya salah satunya adalah melalui edukasi serta sosialisasi yang dilaksanakan secara intensif  dan terukur. Program tersebut akan berhasil apabila melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat dan komunitas, serta media masa yang disebut dengan pentahelix.

Semoga tulisan ini bermakna dan Usaha Pertanian semakin berkembang. (Dra. Hj.Sri Haryani, M.Si, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Slemanm  Fraksi PDI Perjuangan)