Opini  

Digitalisasi Sosial-Ekonomi Kebencanaan di Tengah Covid-19

BERNASNEWS.COM – Pertama-tama tentu kita harus mengucapkan apresiasi kepada warga Majene, Sulawesi Barat atas inspirasinya, terutama bagaimana merespon kepanikan sosial akibat pandemi.

Ketika beberapa wilayah beramai-ramai resisten terhadap beberapa korban Covid-19, misalnya menolak dikuburkannya pasien positif Covid-19 di wilayah mereka, warga Majene justru berbeda. Mereka malah bertepuk tangan memberi semangat, ketika tim medis datang untuk menjemput pasien positif Covid-19 di rumahnya. Ini adalah terobosan sosial yang apik, patut untuk diapresisi, sekaligus didorong, di tengah pesimistik sosial-ekonomi warga yang merebak.     

Sebenarnya, sejumlah kebijakan sudah dikeluarkan pemerintah, mengingat jumlah penderita sudah di angka 5.136 orang dengan kasus kesembuhan sebanyak 446 orang dan kasus kematian sejumlah 469 orang. Salah satunya adalah karena pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di wilayah episentrum penyebaran Covid-19, seperti DKI Jakarta dan sejumlah wilayah penyangga Ibu Kota. Namun, apakah konsep itu cukup untuk menghambat penyebaran Covid-19? Bagaimana dampak secara sosial-ekonomi warga?

Dalam konteks DIY, ketika PSBB belum diimplementasikan, maka pemerintah daerah harus segera berbenah dalam mendorong implementasi infrastruktur sosial-ekonomi. Bukan hanya dalam bentuk charity (bantuan sosial), tetapi juga memproyeksi padatnya aktivitas sosial-ekonomi digital yang mungkin hadir, sekaligus melakukan konsolidasi antar stakeholder. Tujuannya, tentu terpenuhinya kebutuhan ekonomi warga, sekaligus mencegah kepanikan sosial (mencegah penjarahan/tindakan kriminal lain/menolak penguburan pasien positif Covid-19 akibat provokasi).

Ketua Fraksi PDI Perjuangan dan Pimpinan Komisi B DPRD DIY RB Dwi Wahyu B SPd MSi. Foto : Dok Pribadi

Infrastruktur System Engine dan Sosial Engine sebagai Terobosan

Digitalisasi merupakan insfrastruktur paling efektif, khususnya dalam menanggulangi Covid-19. Dengan memanfaatkan teknologi digital, masyarakat dimudahkan dalam memenuhi berbagai kebutuhan di tengah wabah Covid-19. Namun, pemahaman digitalisasi juga harus diseimbangkan antara kebutuhan kemudahan transaksi ekonomi (system engine) dan kemudahan media informasi dan edukasi (social engine).

Eksplorasinya sebagai berikut. Pertama, pembuatan marketplace lokal mandiri berbasis jarak. Kendala Covid-19 adalah masih adanya aktivitas masyarakat di luar rumah. Untuk meminimalisir kendala tersebut, maka model marketplace ini harus dihadirkan memenuhi kebutuhan pokok antar warga dari jarak terdekat. Sistem ini mendeteksi kecocokan lokasi antara pembeli dan penjual.

Fitur utamanya mengharuskan pengguna mengatur lokasi keberadaannya, sehingga mengetahui warung terdekat. Marketplace juga harus menampilkan informasi yang lengkap dari penjual (termasuk stok barang), proses delivery (bisa terintegrasi dengan ojek on-line/ ojek pangkalan dari komunitas warga), hingga proses pembayaran (diusahakan dari bank daerah) untuk mengontrol perilaku transaksi warga.

Kedua, supporting konten kreatif dan media promosi untuk UMKM, termasuk peternak unggas dan ikan. Kendala dari sektor tersebut sebenarnya terletak di pemasaran, karena mayoritas hanya berfokus di ranah produksi.  Maka, dukungan di sektor distribusi, perlu dilakukan. Misalnya, supporting pembuatan flyer digital, infografis animasi dan sebagainya untuk tiap brand.

Bahkan jika diperlukan, membantu proses promosi media pun harus didorong, seperti melakukan iklan (adds) postingan produk untuk mendongkrak jangkauan pemasaran. Semua harus dilakukan secara berkelanjutan, agar trust market muncul.

Ketiga, membuat influencer produk-produk DIY. Tujuannya, tentu saja mengumpulkan orang-orang yang interest terhadap produk-produk tersebut, sehingga proses promosi “tidak langsung” bisa dihadirkan.

Selain juga akan difungsikan sebagai informasi/edukasi terhadap follower (warga), agar mendapat informasi yang positif dari berbagai situasi sosial dampak dari Covid-19 di DIY, khususnya terhadap dinamika program perekonomian (jadwal operasi pasar dan wilayahnya). Strategi ini diharapkan mampu mengurangi kepanikan sosial-ekonomi warga yang berlebihan.

Keempat, membuat aplikasi untuk mengumpulkan dan mempertajam potensi costumer. Istilahnya, sejenis “Super Leeds” yang akan merekam list data orang-orang yang tertarik dengan produk, kemudian akan diverifikasi secara sistem calon costumer tersebut dengan tujuan mempertajam market.

Dari hasil verifikasi digital (Super Leeds) dapat dilakukan re-targeting yang mendukung efektifitas/ percepatan penyerapan produk pasar UMKM/peternak unggas/peternak ikan oleh costumer (pasar).

Kelima, membuat aplikasi yang mempertemukan buyer (pembeli) dengan seller (penjual)–semacam “Social Meet”, sehingga berbagai komponen informasi produk dan aktivitasnya dapat secara detail dihadirkan. Aktivitas komunikasi antar keduanya bisa intensif dilakukan. Mulai aktivitas promosinya (event digital), diskon hingga potongan pembelian bagi pelanggan. Tujuannya, semakin mengakrabkan aktivitas ekonomi digital warga yang dimonitoring oleh sistem.

Data ini memudahkan pemerintah dalam mengakses perilaku market digital untuk membuat kebijakan. Semuanya adalah opsi terobosan digital yang mestinya disegerakan pelaksanaannya.

Jika gotong-royong adalah pondasi ideologis masyarakat, maka jangan biarkan ini menjadi alasan pemerintah daerah untuk “menunggu” atau justru “berdiam diri”. Kesadaran kalaboratif adalah kunci dalam sebuah perjuangan panjang, yaitu kesejahteraan sosial. Merdeka! (RB Dwi Wahyu B SPd MSi, Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY dan Pimpinan Komisi B DPRD DIY)