BERNASNEWS.COM — Kagum saya dengan Daniel. Di mata saya, mahasiswa Strata 2 ini, terlihat sebagai anak milenial yang berbeda. Saat diskusi proposal, dosennya memberi tantangan. Substansi proposal thesismu bagus, berani terbang tinggi? Tanya pembimbingnya. Mahasiswa-mahasiswa di Prodi S2 itu sudah tahu, kata “terbang tinggi” berarti capaiannya akan dinaikkan. Pengerjaan thesis menjadi lebih sulit. “Siaaaap” jawab Daniel. Salah satu cara mensikapi generasi milenial memang dengan memberikannya tantangan.
Dan tantangan terbesar yang bisa ditawarkan adalah berselancar di ‘ombak perubahan’, yang kian lama kian cepat dan besar. Perubahan itu terjadi dimana saja, terlebih didunia yang digeluti Daniel : Informatika. Terkadang sulit mengikuti cepatnya perubahan yang ada dengan cara biasa.
Hukum Moore adalah sebuah hukum yang dikemukakan di Teknologi Informasi. Dikemukakan oleh Gordon E. Moore seorang ahli mikropresosor yang juga salah satu pendiri Intel. Hukum ini, sekarang dimaknai sebagai pesatnya perkembangan performansi pemrosesan informasi. Semakin hari, semakin banyak informasi dan berimplikasi semakin pesatnya pengetahuan karena kompleksitas informasi.
Siklus yang alami. Indikatornya terlihat jelas pesatnya perkembangan teknologi. Selanjutnya, kondisi tersebut merupakan hubungan reciprocal dengan perkembangan pengetahuan. Keduanya berpacu melaju. Bak hedonic treadmill.
Saat pengajar-pengajar terlalu penat membicarakan perkembangan dunia informatika. Setengah bergumam teman saya berkata: Peer review itu alternative solusinya. Saya bingung juga.
Total staf pengajar Prodi S2 hanya tujuh orang, memang sudah Doktor semua tetapi expertise-nya jelas berbeda-beda bantah dosen yang lainnya. Mudah paparnya, cukup banyak tersedia peer review di dunia akademik. Dimana? Sambil tersenyum jawabnya : di jurnal terindeks.
Index , indicis, kata latin yang makna aslinya “telunjuk”, dalam perkembangannya artinya melebar menjadi yang bisa menunjukkan sesuatu yang penting dengan cepat. Dalam keseharian, indeks adalah daftar alfabetis yang biasanya ditempatkan pada bagian akhir suatu buku.
Peer review, digagas Oldenburg seorang filsuf Inggris kelahiran Jerman. Tujuannya sederhana tetapi mulia, adanya standarisasi kualitas yang ujungnya bisa meningkatkan kredibilitas. Biasa digunakan sebagai bagian evaluasi pekerjaan yang dikerjakan oleh orang dengan kompetensi yang sama. Dulunya digunakan di ilmu kedokteran. Mudah dimengerti ilmu ini terkait resiko yang mungkin ada, nyawa manusia. Peer review kemudian marak digunakan di semua bidang mulai abad 18, karena memang menjanjikan perkembangan sebuah pengetahuan.
Pengusul berkata : “Ada relasi yang kuat antara peer review baik dengan jurnal yang terindeks”. Proses pengindeksan sebuah jurnal memang biasanya dilakukan lembaga. Salah satu hal yang penting, indeks akan dipakai untuk menunjukkan dengan cepat paper yang penting. Penting berarti bagus, layak dibaca. Dengan begitu lembaga pengindeks akan menseleksi jurnal yang akan diindeks.
Lembaga pengindeks memang mewajibkan publisher jurnal terindeks agar melakukan proses peer review yang baik, yaitu : pereview yang kompeten dan proses review yang standart. Implikasinya kualitas paper yang tersaring akan meningkat. Maka rasio diterimanya sebuah paper terkadang menjadi sangat kecil.
Sulit. Ya sulit, karena publisher tidak mau rugi. Mereka akan cara memilih paper yang baik untuk diterbitkan dan diarsip. Mengarsip paper secara finansial tidak akan memberikan keuntungan. Pengarsipan bukan suatu hal yang murah apalagi untuk jangka waktu yang panjang. Biasanya publisher mengambil dua cara pembiayaan. Dibayar penulis dengan model Article Procesing Charge atau dibayar pengakses (jurnal berbayar). Membayar di depan atau dibayar di belakang.
Siapa yang mau merawat arsip penulisan kita secara gratis agar terdiseminasikan ke seluruh dunia? Kita ambil positifnya saja. Kita bisa mendapatkan review akademik yang baik dan cuma-cuma. Semakin tinggi kualitas jurnal, semakin baik proses review-nya.
Kalau ditolak bagaimana? Dasar penolakan pasti diberikan. Dasar itulah yang kita bisa pakai mengukur/mengecek kekurangan kita. Kita bisa belajar secara mudah dan cepat untuk perbaikan kedepannya.
Siang itu smartphone saya berbunyi : khas suara notifikasi surel masuk. Tak lama pun notifikasi WA-pun menyala. Profesor paper mahasiswa kita tembus Q2, pesan WA teman saya. Saya tersenyum sambil membayangkan Daniel tertawa gembira. Expertise/ reviewer di bidangnya, menyetujui hasil penelitiannya untuk dipublikasikan di jurnal international. Dengan revisi tentunya. (Prof. Djoko Budiyanto S, PhD, Kaprodi Magister Teknik Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta/ UAJY/Atma Jogja)











