Opini  

Memilih Barang dan Negara Tujuan Ekspor

BERNASNEWS.COM – Anjloknya kontribusi UMKM terhadap ekspor non migas dari 15,8 persen pada semester I tahun 2018  ke 14,17 persenpada semester I 2019 menunjukkan bahwa masih ada kendala dan hambatan UMKM dalam melakukan ekspor. Padahal kalau diperhatikan produk-produk UMKM yang potensi untuk diekspor cukup bervariasi, mulai dari poduk makanan, minuman dan kerajinan dan produk produk tersebut sangat diminati pasar luar negeri.

Ekspor bagi sebagian pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) memang masih dianggap suatu hal yang sulit dilakukan.  Mereka beranggapan bahwa ekspor harus mengikuti banyak prosedur, menyiapkan bermacam-macam dokumen ekspor, melibatkan banyak pihak, bahkan harus melakukan korespondensi dalam bahasa asing, dan memerlukan modal yang besar.

Akibat dari anggapan yang keliru tersebut banyak UMKM yang enggan untuk melakukan bisnis ekspor, padahal ekspor sebenarnya sangat mudah, sama mudahnya dengan mengirim barang ke luar daerah dengan menggunakan jasa ekspedisi, seperti kantor pos, Tiki, JNE atau jasa pengiriman lainnya.

Tugas seorang eksportir sebenarnya adalah memiliki  barang yang baik, lalu menjual barang tersebut ke luar negeri. Apabila sudah ada pembeli dan sudah terjadi kesepakatan pembelian, calon eksportir baru mempersiapkan barang-barang yang dipesan dan mengemas barang tersebut untuk dikirim ke negara tujuan pembeli.

Untuk pengiriman barang ke luar negeri, eksportir tidak perlu mengurus sendiri di Kantor Bea dan Cukai. Pengurusan ekspor barang ke bea cukai bisa diserahkan kepada perusahaan forwader. Forwader, dalam bahasa Indonesia disebut dengan Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) atau Ekspedisi Muatan Kapal Udara (EMKU). Forwader dapat membantu eksportir untuk pengurusan transportasi dari gudang ke pelabuhan, pengurusan dokumen ekspor di kantor Bea dan Cukai, mencarikan perusahaan pelayaran atau maskapai penerbangan yang tepat ke negara tujuan, berkoordinasi dengan surveyor, dan membantu pengurusan dokumen yang diminta importir.

Forwarder yang handal adalah yang memiliki sertifikasi sebagai Perusahaan Pengurusan Jasa Kepabeanan (PPJK) dari Direktorat Jendral Bea dan cukai. Jadi tugas utama seorang eksportir sebenarnya adalah memiliki  barang yang baik dan dapat dijual ke luar negeri.

Memilih barang yang akan diekspor

Memilih produk andalan yang akan diekspor adalah langkah awal untuk UMKM yang akan melakukan ekspor. Untuk eksportir produsen yaitu eksportir yang menawarkan barang hasil produksi sendiri, tentu saja produknya sendiri yang akan jadi andalan. Namun perlu produk yang akan dipasarkan memiliki keunggulan dibandingkan pesaing-pesaing yang ada.

Eksportir produsen memiliki dua pilhan dalam menjual barangnya, yaitu menjual dengan merek sendiri atau tanpa merek, atau menggunakan merek pembeli atas permintaan pembeli (private label). Untuk eksportir non produsen, tidak memproduksi sendiri barang yang diekspornya dan hanya fokus mencari pembeli. Eksportir non produsen bertindak sebagai agen pemasaran dari produsen untuk tujuan pasar ekspor.  

Untuk eksportir pemula sebaiknya produk yang dijadikan andalan adalah produk yang sudah ada pasarnya di luar negeri, artinya produk tersebut sudah ada yang mengekspor baik dari eksportir dari Indonesia atau negara lainnya ke negara tujuan ekspor dan ada pembelinya dan dapat disuplai secara kontinyu.

Selain itu, pilihan jenis barang bebas ekspor adalah pilihan yang memudahkan bagi eksportir pemula yang belum begitu memahami tentang prosedur ekspor karena pengiriman barang bebas ekspor ke luar negeri tidak memerlukan perizinan khusus, baik yang dilakukan oleh perorangan maupun lembaga/ badan usaha.

Menentukan Negara Tujuan Ekspor (NTE)

Negara Tujuan Ekspor (NTE) dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu NTE tradisional dan NTE non tradisional. Negara yang termasuk dalam kategori NTE tradisional adalah negara-negara maju seperti USA, negara-negara di Eropa dan Jepang.

NTE non tradisional adalah negara-negara berkembang yang masih sedikit mengimpor produk dari Indonesia. NTE non tradisional di antaranya negara-negara di Asia Tenggara, Asia Tengah, Timur Tengah, Afrika. dan Amerika Latin. Bagi Eksportir pemula, sebaiknya menargetkan NTE non tradisional, namun untuk produk-produk seni dan handy craft pasar utama tetap ke NTE tradisional

Bagi UMKM yang baru mau memulai ekspor yang penting adalah secepatnya melakukan ekspor perdana, walaupun bukan menjual produk hasil produksinya sendiri. Dari pengalaman ekspor perdana yang telah dilakukan akan lebih memahami seluk beluk ekspor dan akan menjadi modal yang sangat berharga untuk pelaksanaan ekspor selanjutnya. (Dra Retno Hartati MBA, Dosen STIM YKPN Yogyakarta)