HUT ke-86 KAS : Ajakan Ciptakan Rumah yang Penuh Kasih dan Pengampunan

Enam Uskup Agung yang pernah dan sedang memimpin KAS. Selamat Ulang Tahun ke-86 KAS. (Foto : Sumber UPPKKAS)

bernasnews – Tidak terasa usia Keukupan Agung Semarang (KAS) sudah mencapai 86 tahun, tepatnya pada tanggal 25 Juni 2026. Kalau HUT ke-85 tahun lalu bertema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkah”, pada ulang tahun 2026 mengambil tema “Menjadi Gereja yang Bahagia, Menginspirasi dan Menyejahterakan”. Sub temanya adalah : “Melayani dengan Sukacita, Menghidupi Kasih dan Menjadi Berkat bagi Sesama”.

Sebagai salah satu umat Katoik di wilayah KAS, penulis menyampaikan ucapan selamat atas ulang tahun ke-86 keuskupan tercinta. Harapannya, semoga di usia menuju satu abad ini, keuskupan dapat melaksanakan pengabdian dan pelayanannya sesuai arah dasar keuskupan dengan baik, benar dan tulus.

Pada momentum istimewa ini, penulis menggaris bawahi Surat Gembala Menyambut Arah Dasar (Ardas) IX KAS yang dibacakan pada Pesta Pembabtisan Tuhan, Sabtu-Minggu 10-11 Januari 2026. Pada kesempatan ini, Uskup KAS Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengajak umat melaksanakan empat elemen untuk menghidupi Ardas IX KAS.

Pertama di dalam keluarga, ciptakanlah rumah yang penuh kasih, dialog, doa dan pengampunan. Kedua, di lingkungan hidupilah semangat kebersamaan, gotong royong dan kepedulian. Ketiga, di paroki berjalanlah bersama dalam semangat sinodal : saling mendengarkan dan bekerja sama. Ke empat, di tengah masyarakat jadi saksi Kristus melalui kejujuran, solidaritas dan kepedulian terhadap sesama dan alam ciptaan.

“Dengan cara-cara sederhana inilah kita sungguh menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan,” kata Uskup Agung.

Pertanyaan sederhananya, apakah cara-cara ini mudah, sederhana dan dapat dilakukan? Menurut penulis, mungkin tidak selalu mudah dan sederhana. Karena tingkat kemampuan seseorang tidak sama, apalagi kemauannya. Sedangkan apakah hal ini dapat dilakukan atau tidak? Jawabnya, dapat dan harus dilakukan. Tidak dengan menggunakan kemampuan manusiawi kita, namun harus mohon kekuatan dari Tuhan. Artinya, biarlah Tuhan yang berkarya, dan kita hanya alat yang menjalani dengan hati, sungguh-sungguh dan bertanggung jawab.

Dari beberapa variabel upaya untuk mewujudkan Gereja yang bahagia, menginspirasi dan menyejahterakan itu, Uskup Agung KAS antara lain menekankan perlunya membangun semangat bela rasa dan kerjasama dengan semua pihak di pelbagai bidang. Untuk apa? Guna meningkatkan kehidupan bersama terutama saudara-saudara kita yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

SEJARAH DI MASA LALU
Tanggal 25 Juni adalah tonggak sejarah berdirinya KAS, yang semula bernama Vikariat Apostolik Semarang. Berkat Raja Louis/Lodewijk Napoleon mendeklarasikan kebebasan beragama di wilayah Hindia Belanda pada tangal 7 Agustus 1806, dua tahun kemudian, datanglah dua misionaris diosesan dari Belanda yakni Jacobus Nelissen dan Lambertus Princen. Mereka tiba di Batavia pada tanggal 4 April 1808. Enam hari kemudian, mereka mengadakan ekaristi publik pertama yang menjadi tonggak bersejarah karya Gereja Katolik di Indonesia.

Situasi penuh berkat ini disambut baik oleh Tahta Suci. Atas prsetujuan dari Loius Napoleon, Paus Pius VII pada tanggal 8 Mei 1807 mendirikan Prefektur Apostolik bagi Hindia Belanda dan menunjuk Pater Jacobus Nelissen menjadi Prefektur Apostolik Batavia dengan dua stasi yakni Semarang dan Surabaya. Sedangkan Pater Lambertus Princen mulai menetap di Semarang tanggal 27 Desember 1808.

Menurut informasi kas.or.id., selama kurang lebih 50 tahun Perfektur Apostolik Batavia dilayani maksimal 31 imam misionir diosesan. Hal ini karena adanya batasan pelayan pastoral di wilayah Hindia Belanda. Ditambah lagi terdapat minimnya imam diosesan Belanda.

Salah satu jalan keluarnya adalah Mgr Vranken mendatangkan para Jesuit dari Belanda ke Indonesia. Tahun 1842, Prefektur Apostolik Batavia dinaikkan menjadi VIkariat yang membawahi delapan stasi yakni Batavia, Semarang, Ambarawa, Yogyakarta, Surabaya, Larantuka, Maumere dan Padang. Dari tahun 1859 – 1898 tercatat ada 107 Jesuit (89 imam dan 18 bruder) menjalani karya misi di Hindia Belanda.

Dalam perkembangan berikutnya, Tahta Suci sangat serius dalam menindaklanjuti usulan Vikariat Apostolik Batavia Mgr. Petrus Johannes Willekens, SJ untuk mengoptimalkan karya misi di Jawa. Karena itulah umat yang kian hari semakin bertambah, dirasa saudara waktunya Semarang menjadi sebuah Provinsi Gereja.

Melalui Konstitusi Apostolik Vetus de Batavia, Paus Pius XII mendirikan Vikariat Apostolik Semarang tanggal 25 Juni 1940. Semarang yang merupakan stasi mengalami lompatan menjadi Vikariat Apostolik tanpa melalui “Prefektur Apostolik”. Kemudian diangkatlah Rama Albertus Soegijapranata, SJ., seorang imam pribumi, menjadi Vikaris Apostolik. Beliau adalah gembala pertama KAS.

Siapa saja Uskup Agung KAS dari masa ke masa?
Pertama, Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J., dilahirkan di Surakarta 25 November 1896, ditahbiskan 15 Agustus 1931, konsekrasi 6 Oktober 1940. Motto : In Nomine Jesus (Dalam nama Yesus), wafat 22 Juli 1963. Pernyataannya yang terkenal adalah ajakan untuk Menjadi 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.

Kedua, Kardinal Justinus Darmojuwono, dilahirkan di Sleman 2 November 1924, ditahbiskan 25 Mei 1947, konsekrasi 6 April 1964. Motto In Te Confido (Aku percaya kepada-Mu), pelantikan kardinal 26 Juni 1967. Wafat 3 Februari 1994.

Ketiga, Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., dilahirkan di Muntilan 20 Desermber 1934, ditahbiskan 18 Desember 1969, konsekrasi 29 Juni 1983. Motto : In Nomine Jesu, ditunjuk menjadi Uskup Agung Jakarta 1 1 Januari 1996, pelantikan menjadi kardinal 26 November 1994.

Keempat, Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo, dilahirkan 9 Juli 1950, ditahbiskan 26 Januari 1976, konsekrasi 22 Agustus 1987. Motto : Serviens Domino cum Omni Humilitate (Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati), ditunjuk menjadi Uskup Agung Jakarta 28 Juni 2020, pelantikan kardinal 5 Oktober 2019.

Kelima, Mgr. Johannes Maria Trilaksyanta Pujasumarta, dilahirklan di Surakarta 27 Desember 1949, ditahbiskan 25 Januari 1977, konsekrasi 16 Juli 2008. Motto : Duc in Altum (Bertolaklah ke tempat yang dalam), wafat 10 Nobermbr 2015.

Keenam, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dilahirkan di Sleman 10 Oktober 1963, ditahbiskan 12 Agustus 1993, konsekrasi 19 Mei 2017. Motto : Quaerere et Salvum Facere (Mencari dan menyelamatkan). (Anto Margono, Umat Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus Bantul DIY)