bernasnews – Bulan Muharram merupakan salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam. Karena termasuk bulan haram atau bulan suci, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, termasuk menjalankan puasa sunah.
Bahkan, puasa di bulan Muharram disebut sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Di antara amalan yang dianjurkan ialah puasa Tasua pada 9 Muharram, puasa Asyura pada 10 Muharram, serta puasa Ayyamul Bidh pada tanggal 13, 14, dan 15 Muharram.
Keutamaan puasa Muharram didasarkan pada sejumlah hadis Nabi Muhammad SAW. Selain memiliki nilai ibadah yang tinggi, puasa Asyura juga menjadi momentum mengenang peristiwa bersejarah ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.
Muharram Termasuk Bulan yang Dimuliakan dalam Islam
Muharram menjadi salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 36:
“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram..”
Dalam tafsir ayat tersebut dijelaskan bahwa empat bulan haram yang dimaksud adalah Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab. Sebagai bulan yang dimuliakan, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, salah satunya dengan berpuasa.
Jenis Puasa yang Dianjurkan pada Bulan Muharram
Terdapat tiga puasa sunah yang sangat dianjurkan selama Muharram.
Puasa Tasua Dilaksanakan pada 9 Muharram
Puasa Tasua dilakukan sehari sebelum puasa Asyura. Nabi Muhammad SAW menganjurkan ibadah ini untuk membedakan umat Islam dengan kaum Yahudi dan Nasrani.
Rasulullah SAW bersabda:
“Saat Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan juga memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa; Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah hari yang sangat diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.” Maka Rasulullah SAW bersabda, “Pada tahun depan insya Allah, kita akan berpuasa pada hari kesembilan (Muharram).” Tahun depan itu pun tak kunjung tiba karena Rasulullah SAW wafat.” (HR Muslim)
Puasa Asyura Dilaksanakan pada 10 Muharram
Puasa Asyura merupakan amalan utama di bulan Muharram. Pada tahun 2026, 10 Muharram bertepatan dengan 25 Juni 2026.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak pernah aku melihat Nabi Muhammad SAW sengaja berpuasa pada suatu hari yang beliau istimewakan dibanding hari-hari lainnya kecuali hari Asyura dan bulan ini, yakni bulan Ramadan.” (HR Bukhari)
Puasa Ayyamul Bidh pada Tanggal 13, 14, dan 15 Muharram
Selain Tasua dan Asyura, umat Islam juga dapat menjalankan puasa Ayyamul Bidh pada pertengahan bulan Muharram. Di luar tanggal tersebut, berbagai puasa sunah lainnya juga diperbolehkan selama bulan Muharram.
Keutamaan Puasa Muharram Beserta Dalilnya
1. Menjadi Puasa Paling Utama Setelah Ramadan
Puasa Muharram memiliki kedudukan istimewa dibandingkan puasa sunah lainnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.” (HR Muslim)
2. Muharram Disebut sebagai Bulan Allah
Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai “bulan Allah”. Penyebutan ini menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan bulan tersebut dibanding bulan lainnya.
3. Termasuk Empat Bulan Mulia
Muharram menjadi bagian dari bulan-bulan haram bersama Zulkaidah, Zulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan tersebut, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah dan amal kebaikan.
4. Puasa Asyura Menghapus Dosa Setahun Sebelumnya
Keutamaan besar lainnya terdapat pada puasa Asyura.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa-dosa) setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Dalam hadis lain disebutkan:
“Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura. Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim)
Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa pengampunan tersebut berkaitan dengan dosa-dosa kecil. Sementara dosa besar memerlukan tobat nasuha agar mendapatkan ampunan Allah SWT.
5. Hari Asyura Menjadi Momentum Bersejarah
Asal-usul puasa Asyura berkaitan dengan peristiwa penyelamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil.
Rasulullah SAW bersabda:
“Ketika Nabi SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: ‘Apa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah hari yang baik, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari ini.’ Beliau bersabda: ‘Aku lebih berhak atas Musa daripada kalian.’ Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat Ibnu Abbas RA disebutkan:
“Rasulullah SAW hadir di kota Madinah, kemudian beliau menjumpai orang Yahudi berpuasa Asyura. Mereka ditanya tentang puasanya tersebut, lalu menjawab:
“Hari ini adalah hari di mana Allah SWT memberikan kemenangan kepada Nabi Musa AS dan Bani Israil atas Fir’aun. Maka kami berpuasa untuk menghormati Nabi Musa AS.”
Kemudian, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
Lalu, Nabi Muhammad SAW berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari Asyura.
Bacaan Niat Puasa Muharram
Niat Puasa Tasua
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ التَا سُوعَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin an adai sunnatit Tasua lillahi taala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Tasua esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Asyura
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ ِعَا شُورَاء لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i sunnatil Asyura lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Asyura esok hari karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Ayyamul Bidh
نَوَيْتُ صَوْمَ أَيَّامِ الْبِيْضِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ayyamil bidl lilahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat puasa Ayyamul Bidh (hari-hari yang malamnya cerah), karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Melaksanakan Puasa Muharram
Pelaksanaan puasa Tasua, Asyura, maupun Ayyamul Bidh pada dasarnya sama dengan puasa Ramadan maupun puasa sunah lainnya. Perbedaannya hanya terletak pada niat.
Berikut tata cara puasa Muharram:
- Membaca niat puasa.
- Melaksanakan sahur.
- Menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkan puasa.
- Menjaga diri dari perbuatan yang dapat mengurangi pahala seperti gibah dan berkata kasar.
- Memperbanyak amal saleh.
- Menyegerakan berbuka puasa ketika waktunya tiba.
Dengan berbagai keutamaan yang dimiliki, bulan Muharram menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas ibadah. Puasa Tasua, Asyura, dan Ayyamul Bidh menjadi amalan sunah yang dianjurkan untuk dikerjakan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (anp)












