News  

Pramuwisata DIY Jelaskan Faktor Kunjungan Wisata Gunungkidul Lebih Tinggi daripada Bantul

Pantai Kukup di Kabupaten Gunungkidul, DIY yang menawan. (Foto : Istimewa)

bernasnews – Tren kunjungan wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan perbedaan antara Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Bantul, khususnya pada destinasi wisata pantai.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke Gunungkidul tercatat lebih tinggi dibandingkan Bantul.

Perbedaan tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai faktor yang memengaruhi pilihan wisatawan.

Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DIY, Royen Lodewyk Pardede, menyebut bahwa sejumlah aspek seperti variasi destinasi, tren pasar wisata, serta strategi promosi dapat memengaruhi keputusan wisatawan dalam memilih tujuan perjalanan.

Perbandingan Tidak Selalu Setara

Royen menilai perbandingan jumlah kunjungan wisatawan antara Gunungkidul dan Bantul tidak selalu dapat dilakukan secara langsung. Menurutnya, kondisi geografis kedua wilayah memiliki perbedaan yang memengaruhi potensi destinasi wisata yang dapat dikembangkan.

Ia menjelaskan bahwa wilayah Gunungkidul memiliki garis pantai yang lebih panjang serta jumlah pantai yang lebih banyak dibandingkan Bantul. Kondisi tersebut memberikan lebih banyak pilihan destinasi bagi wisatawan.

“Kalau kita membandingkan jumlah pengunjung atau income, kita tidak bisa langsung mengatakan itu sama atau apple to apple karena geografisnya berbeda,” ujar Royen.

Perbedaan bentang alam tersebut berdampak pada keragaman destinasi wisata yang dapat ditawarkan kepada pengunjung.

Variasi Destinasi di Gunungkidul

Gunungkidul dikenal memiliki puluhan pantai dengan karakter yang berbeda-beda. Beberapa pantai menghadirkan panorama tebing karst, hamparan pasir putih, serta berbagai aktivitas wisata alam.

Keberagaman destinasi tersebut memungkinkan wisatawan mengunjungi beberapa lokasi dalam satu perjalanan.

Menurut Royen, kondisi ini membuat wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas ketika berkunjung ke Gunungkidul.

Sementara itu, destinasi pantai di Bantul dinilai memiliki pilihan yang lebih terbatas. Kawasan Pantai Parangtritis tetap menjadi tujuan utama wisatawan, namun pilihan aktivitas wisata dinilai belum sebanyak yang tersedia di kawasan pantai Gunungkidul.

“Kalau di Bantul, yang ditawarkan opsinya hanya pantai dan tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan seperti di Gunungkidul,” kata Royen.

Perubahan Tren Wisatawan Nusantara

Royen juga menilai perubahan tren wisatawan domestik turut memengaruhi peningkatan kunjungan ke Gunungkidul.

Wisatawan saat ini cenderung mencari destinasi yang menawarkan pengalaman baru serta aktivitas wisata yang lebih beragam.

Beberapa pantai di Gunungkidul menyediakan aktivitas tambahan seperti trekking, camping, cliff jumping, hingga lokasi fotografi dengan panorama alam.

Menurut Royen, keberagaman aktivitas tersebut membuat sejumlah destinasi di Gunungkidul menjadi lebih populer di kalangan wisatawan domestik.

“Bukan berarti Bantul tidak menawarkan sesuatu. Namun, apa yang ditawarkan Gunungkidul saat ini lebih sesuai dengan tren pasar wisatawan,” ujarnya.

Strategi Promosi dan Penjualan Paket Wisata

Selain faktor destinasi, Royen menilai strategi promosi juga dapat memengaruhi tingkat kunjungan wisata.

Cara pelaku industri pariwisata memasarkan destinasi, termasuk melalui biro perjalanan wisata, dapat memengaruhi pilihan wisatawan.

Ia menyebut kemungkinan sejumlah biro perjalanan dari luar Yogyakarta lebih sering menawarkan paket wisata ke Gunungkidul.

Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti harga paket wisata maupun strategi pemasaran yang digunakan.

“Cara promosi atau cara memasarkan destinasi juga bisa memengaruhi minat wisatawan,” ujarnya.

Faktor Harga Tiket dan Paket Wisata

Royen juga menyebut bahwa harga tiket masuk dan paket wisata dapat menjadi faktor yang memengaruhi keputusan wisatawan.

Namun ia menilai perbandingan tersebut perlu didukung oleh data yang lebih rinci.

Sebagai contoh, perbandingan harga tiket masuk antara Pantai Parangtritis di Bantul dan Pantai Baron di Gunungkidul dapat memberikan gambaran apakah faktor harga memengaruhi minat kunjungan wisatawan.

“Kalau ingin membandingkan berdasarkan harga, kita harus melihat data yang rinci terlebih dahulu,” katanya.

Aksesibilitas Dinilai Hampir Sama

Dalam aspek konektivitas atau akses menuju destinasi wisata, Royen menilai kedua wilayah memiliki kondisi yang relatif serupa.

Akses jalan menuju kawasan wisata di Bantul maupun Gunungkidul dinilai dapat dijangkau oleh wisatawan dengan cukup mudah.

Karena itu, ia tidak melihat faktor konektivitas sebagai penyebab utama perbedaan jumlah kunjungan wisatawan.

Menurutnya, faktor utama lebih berkaitan dengan jumlah pilihan destinasi dan aktivitas wisata yang tersedia bagi pengunjung.

Perlu Analisis Data Lebih Mendalam

Royen menegaskan bahwa penjelasan mengenai perbedaan jumlah kunjungan wisata antara Gunungkidul dan Bantul memerlukan analisis data yang lebih lengkap.

Penelitian yang lebih mendalam diperlukan untuk melihat berbagai faktor seperti tren wisatawan, strategi promosi destinasi, harga tiket, hingga pola penjualan paket wisata oleh biro perjalanan.

“Untuk menjawabnya secara lebih akurat, kita membutuhkan data yang sangat banyak,” ujarnya.

Potensi Pariwisata DIY

Royen menilai sektor pariwisata di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta masih memiliki potensi untuk berkembang.

Setiap daerah memiliki karakter dan daya tarik wisata yang berbeda.

Ia menilai pengembangan destinasi serta strategi promosi yang tepat dapat meningkatkan daya tarik wisata di masing-masing wilayah.

Menurut Royen, kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan sektor pariwisata di Yogyakarta.

“Yang terpenting adalah bagaimana setiap daerah terus mengembangkan potensi wisata yang dimiliki agar tetap menarik bagi pengunjung,” kata Royen.