bernasnews – Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan perbedaan capaian antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul pada dua bulan pertama 2026.
Gunungkidul mencatat pendapatan yang lebih tinggi, sementara Bantul masih berada pada tahap awal pencapaian target tahunan.
Data dari masing-masing pemerintah daerah menunjukkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan serta pengelolaan destinasi menjadi faktor yang memengaruhi capaian pendapatan daerah dari sektor wisata.
Dalam periode Januari hingga Februari 2026, Gunungkidul mencatat pendapatan dari retribusi tiket wisata sebesar Rp9,8 miliar.
Sementara itu, Bantul mengumpulkan PAD sektor pariwisata sebesar Rp3.494.347.500 atau sekitar 12 persen dari target tahun 2026.
Kunjungan Wisata Bantul pada Awal Tahun
Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul mencatat aktivitas kunjungan wisata yang relatif stabil pada awal tahun 2026.
Pemerintah daerah memanfaatkan momentum libur awal tahun untuk menarik wisatawan ke berbagai destinasi, terutama kawasan pantai selatan dan objek wisata alam lainnya.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnomo Adi, menyampaikan bahwa selama Januari hingga Februari 2026 terdapat 241.745 kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi di wilayah tersebut.
Dari jumlah kunjungan tersebut, pemerintah daerah memperoleh Pendapatan Asli Daerah sektor pariwisata sebesar Rp3.494.347.500.
Capaian ini baru mencapai sekitar 12 persen dari target pendapatan sektor wisata Kabupaten Bantul pada tahun 2026.
Secara khusus pada Februari 2026, Bantul mencatat 86.394 wisatawan yang datang ke berbagai objek wisata. Retribusi wisata dari jumlah tersebut menghasilkan pendapatan sebesar Rp1.248.723.000.
Pemerintah Kabupaten Bantul terus melakukan upaya peningkatan pelayanan di destinasi wisata, termasuk perbaikan fasilitas serta penguatan promosi pariwisata daerah.
Gunungkidul Catat Kunjungan Lebih Tinggi
Kabupaten Gunungkidul mencatat angka kunjungan yang lebih tinggi pada periode yang sama. Hingga akhir Februari 2026, tercatat 784.156 wisatawan berkunjung ke berbagai destinasi wisata di wilayah tersebut.
Dari jumlah kunjungan itu, pendapatan dari retribusi tiket wisata mencapai Rp9,8 miliar.
Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Pemuda dan Olahraga Gunungkidul menyebut capaian tersebut sebagai indikator meningkatnya aktivitas pariwisata di kawasan selatan DIY.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi, Nanang Putranto, mengatakan bahwa kawasan pantai masih menjadi tujuan utama wisatawan.
Sejumlah pantai seperti Pantai Drini, Pantai Sepanjang, dan destinasi lain di sepanjang pesisir selatan menjadi titik kunjungan utama wisatawan.
Pengelola destinasi juga melakukan penataan fasilitas, termasuk area parkir, lapak pedagang, serta akses menuju lokasi wisata.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan wisatawan saat berkunjung ke kawasan pantai.
Pola Musiman Kunjungan Wisata
Meski mencatat kunjungan tinggi pada awal tahun, pengelola pariwisata Gunungkidul tetap memperhatikan pola musiman kunjungan wisata.
Memasuki awal bulan puasa, jumlah wisatawan biasanya mengalami penurunan. Kondisi tersebut mulai terlihat pada akhir Februari.
Nanang Putranto menilai kondisi tersebut merupakan siklus tahunan yang terjadi di sektor pariwisata.
Ia memperkirakan jumlah wisatawan akan kembali meningkat menjelang libur Lebaran.
Pada periode tersebut, arus kendaraan wisatawan biasanya meningkat menuju kawasan pantai selatan Gunungkidul.
Wisatawan berasal dari berbagai wilayah, termasuk Jawa Tengah, Jawa Timur, serta kawasan Jabodetabek.
Pemerintah daerah mulai menyiapkan pengaturan arus wisata, termasuk penguatan pelayanan di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) dan koordinasi lintas sektor.
Pengelolaan Retribusi dan Pengembangan Destinasi
Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Eko Nurcahyo, menyampaikan bahwa peningkatan PAD pariwisata tidak hanya dipengaruhi oleh potensi alam.
Ia menyebut pengelolaan internal serta kebijakan operasional turut berperan dalam peningkatan pendapatan daerah.
Pada Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan rotasi dan mutasi petugas penarikan retribusi di sejumlah Tempat Pemungutan Retribusi.
Kebijakan tersebut dilakukan setelah evaluasi terhadap sistem penarikan retribusi selama tahun 2025.
Pemerintah daerah juga meningkatkan pengawasan melalui inspeksi mendadak di beberapa titik retribusi.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi potensi kebocoran pendapatan serta meningkatkan transparansi pengelolaan tiket wisata.
Selain itu, pengembangan destinasi baru juga terus dilakukan, termasuk kawasan wisata On The Rock di Pantai Drini serta penataan lanjutan di Pantai Sepanjang.
Perbandingan Capaian Dua Kabupaten
Jika dibandingkan secara langsung, perbedaan jumlah kunjungan dan pendapatan antara Bantul dan Gunungkidul terlihat cukup signifikan.
Dalam dua bulan pertama tahun 2026:
Gunungkidul
- 784.156 wisatawan
- PAD Rp9,8 miliar
Bantul
- 241.745 wisatawan
- PAD Rp3.494.347.500
Data tersebut menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan di Gunungkidul hampir tiga kali lipat dibandingkan Bantul pada periode yang sama.
Perbedaan jumlah wisatawan juga berpengaruh terhadap perolehan pendapatan daerah dari sektor pariwisata.
Target PAD Pariwisata Tahun 2026
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menargetkan PAD sektor pariwisata pada 2026 sebesar Rp36,4 miliar.
Target tersebut meningkat dibandingkan realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp30,4 miliar dari target Rp33,5 miliar.
Dengan capaian Rp9,8 miliar pada dua bulan pertama, Gunungkidul berada pada posisi yang cukup kuat untuk mengejar target tahunan tersebut.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bantul masih memiliki waktu hingga akhir tahun untuk meningkatkan capaian pendapatan sektor wisata.
Momentum libur Lebaran, libur sekolah, serta musim wisata pertengahan tahun diperkirakan akan menjadi periode penting bagi kedua daerah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. (Eln)












