bernasnews – Pada mulanya adalah sebuah gagasan dan keinginan kecil untuk belajar dan berkarya bersama di bidang kepenulisan atau literasi. Gagasan itu kemudian diusung oleh Tim Kerja Komunikasi Sosial (Timja Komsos) Lingkungan Santa Helena, Paroki Gereja Santo Yakobus, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dalam rapat pengurus.
Oleh pengurus lingkungan yang baru terbentuk dari pemekaran lingkungan besar sebelumnya, gagasan itu disetujui dan ditindaklanjuti. Setelah diumumkan di wag lingkungan, mendaftarlah enam orang umat setempat untuk mengikuti pelatihan menulis.
Mereka adalah Theresia Dewi Haryanti (berkarya di SD Kanisius Kembaran, Bantul), Margaretha Saventi Wahyu K (ibu rumah tangga), Elias Eke (wiraswasta), Hery Kristiawan (freelance desain grafis), Sugiyanta (Pensiunan Pemda DIY), dan Y. Bambang Soponyono (Pensiunan UGM).
Dewi memiliki motto Hidup adalah kesempatan; Saventi : Hidup adalah pilihan, proses dan perjuangan; Elias Eke : Amat Victoria Curam (petah Latin yang artinya Kemenangan menyukai persiapan atau Keberhasilan berpihak pada mereka yang bersusah payah); Hery : Hidup untuk memperbaiki masa lalu; Giyanta : Kalau saya pikir bisa, saya pasti bisa; dan Bambang : Hidup adalah perjuangan.
Melalui proses tujuh kali pertemuan belajar bersama di rumah para anggota di wilayah Guwosari, Pajangan, Bantul, DIY itu mereka mengenal makna literasi, media dan cara mewujudkan karya tulis. Selain kegiatan belajar bersama, mereka menjalani liputan lapangan, kunjungan lembaga/media, berkarya tulis, menerbitkan buletin lingkungan, menerbitkan buku, dan mengadakan lomba menulis surat kepada Santa Helena.
Tidak terasa satu tahun sudah komunitas literasi ini berproses, sejak kelas perdana dimulai pada tanggal 6 Februari 2025. Ketika aneka kegiatan itu telah dilaksanakan, belum atau tidak ada janji bagaimana kelanjutannya. Meski demikian, wag komunitas tidak pernah sepi dari sapaan dan kiriman karya personel komunitas. Hal ini tentu saja merupakan upaya diri untuk terus merawat semangat menulis. Bahwa sekali menadi penulis, hendaknya tetap menulis.
Berikut karya Hery Kristiawan, sebuah puisi bertajuk “Kopi di Sudut Jendela” : Kopi di sudut jendela/ menghitam seperti hari yang lupa pulang./ Asapnya naik,/ membawa namamu yang tak jadi datang./ Aku duduk tanpa suara,/ kursi di depanku hanya bayangan./ Sendok berputar,/ seperti nasib yang pura-pura punya arah./ Tak ada teman,/ hanya cangkir dan detak jam/ yang mengajarkanku cara menunggu/ tanpa harapan. / Kopi, kopi—/ segelap bayanganmu/ yang menempel di dinding dada./ Aku minum perlahan,/ agar pahit ini lebih dulu/ habis/ daripada aku.
Lalu Dewi pun memberikan tanggapan : Kopi mengajarkanku satu hal : pahit tak selalu buruk, kadang justru itulah yang membuat kita terjaga. Di balik kesederhanaannya, kopi sering menjadi teman setia dalam momen-momen kecil yang berarti. Ia hadir saat kita berpikir, menunggu, merayakan, atau bahkan saat ingin sendiri. Itulah alasan kopi tetap dicintai. Karena dalam setiap tegukan, ada rasa yang lebih dari sekadar kafein : cerita, kebiasaan dan sedikit kehangatan hidup.
Sedangkan Saventi menyajikan tiktok dengan narasi begini : Hidup itu seperti kopi, kadang seperti kopi hitam, kadang seperti kopi instan, kadang pahit, kadang manis.
Helena Menulis, apa kabar? Semoga tim kecil itu tetap menyalakan lilin semangat berliterasi. Menulis dengan hati, berkarya dalam iman. Mari berkarya di ladang Tuhan. (Anto Margono, Pegiat Literasi).












