News  

Awal 2026, Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Relatif Stabil Meski Sejumlah Komoditas Naik

Harga cabai dan minyak goreng bergerak, Pasar Yogyakarta tetap stabil. (Ist)

bernasnews – Memasuki awal tahun 2026, perkembangan harga kebutuhan pokok di Kota Yogyakarta terpantau berada dalam kondisi relatif aman dan terkendali.

Berdasarkan pemantauan sejak Desember 2025 hingga Selasa, 6 Januari 2026, tidak ditemukan lonjakan harga signifikan yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pengawasan terhadap distribusi dan ketersediaan barang kebutuhan pokok. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat pasar, khususnya pada masa awal tahun.

Meski demikian, sejumlah komoditas mencatatkan kenaikan harga. Minyak goreng dan cabai menjadi dua jenis barang yang pergerakan harganya paling terasa.

Pemerintah menilai kenaikan tersebut masih berada dalam batas wajar dan belum berdampak pada stabilitas pasar secara keseluruhan.

Ketersediaan Beras dan Minyak Goreng Masih Aman

Kepala Bidang Ketersediaan, Pengawasan, dan Pengendalian Perdagangan pada Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Sri Riswanti, menyampaikan bahwa harga komoditas pokok utama masih berada dalam kondisi stabil.

Menurutnya, beras, gula pasir, dan sebagian besar minyak goreng belum mengalami perubahan harga yang berarti.

“Beras cenderung stabil, minyak goreng dan gula pasir juga harganya stabil. Hanya saja, untuk merek tertentu yang sangat diminati masyarakat seperti Minyak Kita, pasokannya memang agak terbatas karena pada tahun ini sebagian besar terserap untuk program bantuan pangan,” ujar Sri Riswanti saat ditemui pada Selasa, 6 Januari 2025.

Ia menjelaskan, pada Desember 2025 pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter Minyak Kita untuk setiap kepala keluarga. Kebijakan tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan Minyak Kita di pasaran.

Dinas Perdagangan mencatat adanya keterbatasan stok Minyak Kita saat berkoordinasi dengan Bulog. Minyak goreng tersebut banyak diminati masyarakat karena harganya mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Minyak Kita ini sangat diminati masyarakat karena harganya stabil dan mengikuti Harga Eceran Tertinggi atau HET. Ketika sebagian besar pasokan dialihkan untuk bantuan pangan, maka ketersediaannya di pasar otomatis berkurang,” jelas Sri Riswanti.

Fluktuasi Harga Cabai dan Daging

Untuk komoditas daging sapi, Sri Riswanti menyebutkan harga masih relatif terkendali. Saat ini, harga daging sapi berada di kisaran Rp135.000 per kilogram. Kenaikan sekitar Rp5.000 per kilogram tercatat menjelang akhir tahun 2025, setelah sebelumnya cukup lama berada di harga Rp130.000 per kilogram.

“Jika dibandingkan dengan awal tahun ini, karena baru berjalan sekitar satu minggu, kami masih belum bisa melihat perbandingan yang signifikan. Namun, secara umum harganya masih terkendali,” katanya.

Sementara itu, sejumlah komoditas lain masih menunjukkan fluktuasi harga yang cukup dinamis. Cabai, telur ayam, dan daging ayam menjadi komoditas yang paling sering mengalami perubahan harga dalam beberapa waktu terakhir.

Berbagai jenis cabai, seperti cabai rawit hijau, cabai rawit merah, cabai keriting, dan cabai merah besar, mencatatkan pergerakan harga yang cukup tajam.

Berdasarkan data terbaru, harga cabai rawit hijau mencapai Rp65.000 per kilogram, cabai rawit merah Rp58.000 per kilogram, dan daging ayam berada di kisaran Rp32.000 per kilogram. Sementara itu, beras medium merek C4 dijual dengan harga Rp12.000 per kilogram.

Sri Riswanti menjelaskan, fluktuasi harga cabai dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama kondisi cuaca dan serangan hama. Selain itu, cabai merupakan komoditas yang mudah rusak dan tidak dapat disimpan dalam waktu lama.

“Ketika panen raya, harga cabai bisa sangat murah. Namun, saat produksi menurun dan permintaan meningkat, terutama menjelang hari besar keagamaan, harga bisa melonjak tajam. Dibandingkan komoditas lain, cabai memang memiliki disparitas harga paling tinggi,” ungkapnya.

Antisipasi Menjelang Ramadhan

Dari sisi pasokan, Kota Yogyakarta masih bergantung pada daerah lain karena tidak memiliki sentra produksi bahan pokok. Pasokan beras dan cabai sebagian besar berasal dari wilayah Jawa Tengah, seperti Temanggung, Magelang, dan Mungkid.

Sementara itu, bawang putih dan bawang bombai seluruhnya berasal dari impor, sedangkan bawang merah mayoritas dipasok dari Bima, Nusa Tenggara Barat.

Menjelang potensi peningkatan permintaan pada bulan Ramadhan, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta terus melakukan langkah antisipatif. Pemerintah berupaya memastikan ketersediaan barang tetap mencukupi dan distribusi berjalan lancar agar harga tetap terkendali.

“Hukum pasar supply dan demand tetap berlaku. Yang bisa kami lakukan adalah memastikan pasokan tersedia dan mudah diakses masyarakat. Dengan pasokan yang cukup, meskipun permintaan meningkat, harga tidak akan melonjak terlalu tinggi,” imbuh Sri Riswanti.

Selain pengawasan lapangan, pemerintah juga mendorong masyarakat untuk memantau perkembangan harga melalui aplikasi Jogja Smart Service (JSS). Aplikasi tersebut menampilkan grafik harga harian, tren kenaikan dan penurunan harga, serta perbandingan data hingga satu tahun terakhir.

Dengan koordinasi lintas instansi dan pengawasan yang berkelanjutan, Pemerintah Kota Yogyakarta menyatakan akan terus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sepanjang awal tahun 2026. (Eln)