bernasnews – Tempat Ziarah Bunda Maria Assumpta, Sumur Kitiran Mas berada di dalam Gereja Katolik Santa Maria Assumpta Pakem, Jalan Kaliurang Km.17 Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Lokasi gereja persis berada di pinggir jalan raya Yogyakarta – Kaliurang, memberikan kemudahan akses bagi para peziarah, baik yang menggunakan sepeda motor, kendaraan pribadi, maupun bus besar.
Dalam leaflet Sejarah Tempat Ziarah Bunda Maria Assumpta Sumur Kitiran Mas yang diterbitkan pihak gereja disebutkan bahwa, tempat ziarah ini dibuat melalui sebuah proses tirakat dan peziarahan umat yang cukup panjang, penuh dengan pencarian dan pengharapan.
Pada bulan Oktober 1985, sebuah keputusan iman diambil oleh umat Paroki Pakem yakni membuat sumur di dalam gereja, persis di bawah patung Maria, Ibu Risang Sungkawa, Bunda Mereka yang Menderita.
Patung tersebut memiliki sejarah yang penuh kenangan. Pada tahun 1983, umat Pakem ingin memiliki patung Maria, namun uang umat tidak cukup untuk membeli patung yang cukup besar, maka umat membuat patung sendiri, dengan biaya yang sangat murah, hanya lima puluh ribu rupiah.
Umat berharap patung ini dapat memuat gambaran ibu ibu pedesaan, ibu ibu petani, para bakul, maka terciptalah Patung Maria yang sangat sederhana ini. Maria yang digambarkan dalam patung itu disebut Ibu Risang Sungkawa, artinya dalam diri Maria tersimpanlah segala beban dan penderitaan yang harus disandang wanita-wanita pedesaan yang miskin dan sederhana.
Sebelum dimasukkan ke dalam gereja,diadakan tirakatan,dan sejak saat itu,umat sering berdoa di hadapan Maria, Ibu Risang Sungkawa. Umat berkeyakinan bahwa Ibu Maria Risang Sungkawa inilah sumber dan asal yang mendorong umat Pakem mencari Air Kehidupan dan akhirnya menggali Sumur Kitiran Mas.
Jauh sebelum sumur digali, diadakan peziarahan mencari tujuh kembang dan tujuh mata air. Tujuh kembang yang dicari adalah : kembang melati, kemuning, telasih, kelapa, kanthil, mawar dan Temon.
Peziarahan tujuh kembang itu dimaksudkan sebagai tirakatan yang dipersembahkan pada tujuh wanita desa yang telah memberikan teladan, kebijaksanaan, dan inspirasi hidup, seperti yang tercantum dalam alkitab tujuh gadis desa yang bijaksana yang menantikan kedatangan pengantin.
Dalam diri ketujuh wanita itu, umat melihat dan merasakan secara nyata keprihatinan dan kesederhanaan Maria, Ibu Risang Sungkawa, Bunda Para Penderita.
Peziarahan tujuh kembang diteruskan dan dilengkapi dengan ziarah ke tujuh sumber air yaitu : Tuk Celeng (Mata Air Celeng),Tuk Wengi (Mata Air Malam),Tuk Sangkan Paran (Mata Air Asal dan Tujuan),Tuk Rembulan (Mata Air Bulan),Tuk Ulam (Mata Air Ikan), Tuk Cuwo (Mata Air Cuwo) dan Tuk Macan (Mata Air Macan).
Peziarahan tujuh kembang dan tujuh mata air yang keduanya dilakukan pada tengah malam itu, dilakukan dalam kurun waktu satu tahun, dan ditutup dengan novena kepada Bunda Maria. Umat berdoa kepada Bunda Maria, agar Bunda Maria berkenan memberi air kehidupan dan menunjukkan dimana persisnya sumur harus digali.
Umat merasa, sumur itu harus digali tepat di bawah kaki Bunda Maria, dan luas sumur tersebut hanya seluas satu tegel (20×20 cm) saja. Penggalian yang hanya dilakukan dengan tangan dan alat alat sederhana itu sangatlah sulit, berjalan sangat lambat, penuh dengan suasana tirakat dan was was.
Setelah hampir sebulan penggalian, pada suatu malam, akhirnya sumber itu dapat ditemukan. Umat datang berbondong-bondong untuk mengikuti misa dan upacara pemberkatan yang dilakukan pada malam itu juga.
Pada saat pemberkatan itu, dimasukkanlah ke dalam sumur itu tujuh warna kembang, dan tujuh rupa air yang didapat selama masa peziarahan. Air dari tujuh mata air yang didapat selama masa peziarahan dari tujuh tempat yang dianggap keramat di lereng Gunung Merapi itu kini menyatu dengan air yang berada di kaki Bunda Maria, dan menjadi Air Maria.
Umat setempat menandai sumur yang ditemukan lewat pertolongan Bunda Maria itu, dengan nama Sumur Kitiran Mas, dan Bunda Maria sebagai pelindung dan pemilik sumur dinamai Sang Kitiran Kencana. Umat mengambil air yang ada di sumur tersebut, meminumnya, dan berdoa mohon agar dapat merasakan air kehidupan, yang berguna untuk hidup jasmani dan rohani.
Bersamaan dengan ditemukannya sumur itu, banyak umat dari luar Paroki Pakem yang datang untuk berdoa dan mengambil air dari sumur tersebut, untuk keperluan penyembuhan atau berkat lainnya.Karena sumur sangat kecil, tidak semua orang kebagian air, padahal mereka sangat membutuhkannnya.
ANAK SUMUR
Enam belas tahun kemudian, diputuskanlah menggali lagi sebuah sumur yang lebih besar, dengan diameter 70 cm, untuk memenuhi keperluan air bagi para peziarah yang semakin banyak. Sejak saat itu, sumur di bawah kaki Maria, tak lagi sendiri, di sebelah kirinya terdapat “anaknya” yang lebih besar. Dari anaknya ini, para peziarah dapat menimba air sepuas puasnya.
Air yang memancar dari sumur baru ini sangatlah deras, dan memancar dari berbagai arah, salah satunya dari sumur lama, sehingga sumur “Ibu dan Anak “ ini akhirnya menyatu, menjadi berkat untuk para peziarah.
Kesaksian disampaikan oleh Suyud, warga dusun Pulowatu yang menggali sumur itu “ Menurut dia, berpuluh tahun menggali sumur, baru kali ini menemukan sumur yang mata airnya begitu deras.
Dalam penggalian itu pula, Yoto, rekan Suyud menemukan serpihan serpihan batu di dasar sumur. Menurutnya, ada kemungkinan bahwa batu batu itu bagian dari candi, atau setidaknya, batu itu menunjukkan bahwa di tempat itu, entah berapa puluh abad yang lalu pernah ada kehidupan. Jika benar demikian, penemuan mata air ini bagaikan penemuan kembali sumber kehidupan pada manusia manusia masa dahulu.
Umat Pakem menyambut dengan sukacita penemuan mata air baru itu. Mereka berkeyakinan bahwa sumur itu diberikan sebagai rahmat atas tirakatan dan peziarahan rohani mereka, sehingga setiap berdoa di bawah kaki Bunda Maria, di tepi sumur, mereka senantiasa mengenangkan kembali segala rahmat yang mereka terima dahulu semasa peziarahan.
Seusai berdoa, banyak umat menimba air dari sumur dan ditaburkan di pekarangan, sawah atau ladang umat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani. Mereka berharap, berkat air itu mereka boleh menikmati rahmat kesuburan tanah. Sebagai ungkapan syukur dan rasa terima kasih, setiap tahunnya umat mengadakan kegiatan “Sedekah Bumi“, dengan membawa berbagai hasil bumi, hasil peternakan, jajan pasar,dan lain-lain. Mereka meletakkan berbagai persembahan itu di bawah kaki Bunda Maria, di sekitar sumur.
Bunda Maria bagaikan Dewi Sri bagi para petani, dewi padi, dewi kesuburan, yang menyuburkan tanah dan memberi rezeki bagi kehidupan jasmani.
Di bawah kaki Bunda Maria, di tepi sumur itu, umat dan juga para peziarah berdoa, memohon berkat, agar melalui perantaraan Bunda Maria, Sang Kitiran Kencana, mereka dapat menimba air kehidupan sejati yang akan memberi kesegaran jasmani dan rohani.
Pada Bulan Maria, tepatnya pada hari Minggu Pon 14 Oktober 2001 dilakukan pemberkatan kembali Sumur Kitiran Mas. Dengan “Pemberkatan Kembali”, umat ingin menandai, dan berharap agar Sumur Kitiran Mas sungguh sungguh dapat menjadi sumber hidup bagi siapapun. Bukan hanya umat di Paroki Pakem, tapi juga umat manapun yang haus dan ingin menimba air kehidupan.
Saat ini di Gereja Pakem juga dilengkapi dengan fasilitas Sacratum, yaitu sumur yang khusus digunakan untuk membuang benda-benda suci yang dimiliki oleh umat dan tidak terpakai lagi karena patah, rusak, dan sebagainya.
Fasilitas lain seperti jalan salib, toilet bersih, dan area parkir juga tersedia di Gereja Santa Maria Assumpta Pakem ini. (mar/Benedekta Kushayati Mawartiningtyas, Umat Paroki Gereja Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, DIY)












