Dari Senja hingga Tengah Malam, Prambanan Jazz Festival 2026 Ubah Candi Prambanan Menjadi Panggung Musik Raksasa

Prambanan Jazz Festival 2026 menghadirkan suasana meriah dari sore hingga tengah malam. Michael Learns to Rock, Sal Priadi, dan puluhan musisi tampil di Candi Prambanan.

bernasnews.com – Kawasan Taman Wisata Candi Prambanan berubah menjadi pusat perayaan musik pada Jumat (3/7/2026). Sejak matahari mulai condong ke barat hingga menjelang tengah malam, ribuan penonton menikmati rangkaian pertunjukan Prambanan Jazz Festival 2026 yang menghadirkan puluhan musisi nasional dan internasional dalam balutan tema Celebrate the Joy.

Festival dimulai pukul 15.00 WIB ketika pintu masuk dibuka untuk pengunjung. Cuaca yang cerah membuat ribuan orang mulai memadati kawasan konser, sementara siluet Candi Prambanan perlahan menjadi latar yang menemani setiap penampilan hingga malam hari.

Sore Hari Dibuka dengan Ragam Penampilan di Tiga Panggung

Suasana festival mulai terasa hidup ketika pertunjukan berlangsung secara bersamaan di tiga area utama.

Di Rukun Stage, Rony Parulian membuka rangkaian konser sebelum dilanjutkan oleh Perunggu Playing Jazz dan Trisum. Pada waktu yang hampir bersamaan, Guyub Stage menghadirkan Mocca, Idgitaf, Wijaya 80, serta Ali yang bergantian menghibur penonton sejak sore.

Berbeda dengan dua panggung utama, Langgam Lounge menawarkan konsep yang lebih santai melalui penampilan SMARAI, sekaligus menjadi tempat pengunjung menikmati pertunjukan dalam suasana yang lebih dekat dengan musisi.

Pengunjung pun mulai berpindah dari satu panggung ke panggung lain mengikuti jadwal penampil favorit mereka.

Memasuki Senja, Atmosfer Festival Semakin Ramai

Ketika cahaya matahari mulai meredup, kawasan Candi Prambanan dipenuhi permainan lampu yang berpadu dengan tata visual panggung.

Di Rukun Stage, pertunjukan Kini dan Nanti (Wayang Bocor by Ki Catur Kuncoro & Ari WVLV) menghadirkan warna berbeda sebelum malam sepenuhnya tiba.

Sementara itu, Guyub Stage terus dipadati penonton yang menikmati penampilan Lomba Sihir. Di Langgam Lounge, sesi tanda tangan bersama Mocca mulai menarik perhatian pengunjung yang ingin bertemu langsung dengan musisi favorit mereka.

Perpindahan penonton antarpanggung membuat seluruh kawasan festival tetap ramai tanpa ada jeda.

Malam Hari Dipenuhi Koor Ribuan Penonton

Memasuki malam, perhatian penonton mulai tertuju ke Rukun Stage saat Sal Priadi tampil membawakan sejumlah lagu populernya.

Lagu Gala Bunga Matahari, Dari Planet Lain, dan Kita Usahakan Rumah Itu mengundang ribuan penonton bernyanyi bersama. Cahaya lampu telepon genggam yang menyala dari berbagai sudut menciptakan suasana hangat di depan panggung.

Di sela pertunjukannya, Sal Priadi menyampaikan rasa bahagianya dapat kembali tampil di Prambanan Jazz Festival.

“Senang sekali bisa bertemu lagi dengan teman-teman di Prambanan Jazz. Terima kasih sudah bernyanyi bersama malam ini,” ujar Sal Priadi yang langsung disambut tepuk tangan meriah penonton.

Nostalgia Warnai Penampilan Michael Learns to Rock

Tidak lama setelah penampilan Sal Priadi berakhir, giliran Michael Learns to Rock menguasai Rukun Stage.

Grup asal Denmark tersebut langsung menghidupkan suasana melalui lagu-lagu yang telah dikenal selama bertahun-tahun, mulai dari 25 Minutes, Paint My Love, Sleeping Child, Complicated Heart, The Actor, hingga That’s Why (You Go Away).

Hampir seluruh penonton ikut bernyanyi bersama, menjadikan area konser berubah menjadi koor besar di bawah langit malam Prambanan.

Pada waktu yang sama, Guyub Stage menghadirkan Salma Salsabil Playing Jazz, The Panturas Playing Jazz, hingga Barasuara yang menutup rangkaian konser dengan penampilan penuh energi.

Di Langgam Lounge, pengunjung masih menikmati sesi tanda tangan bersama The Panturas sebelum Moctar dan Littlefingers mengakhiri rangkaian acara di area tersebut.

Festival Tidak Berhenti di Depan Panggung

Keseruan Prambanan Jazz Festival juga terlihat di luar area konser. Stan kuliner dan produk kreatif lokal terus dipadati pengunjung sepanjang malam.

Banyak penonton memanfaatkan waktu di sela pergantian penampil untuk menikmati makanan, berbelanja produk lokal, maupun mengabadikan suasana festival dengan latar kemegahan Candi Prambanan yang dihiasi sorot lampu berwarna-warni.

Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa festival ini tidak hanya menjadi ruang menikmati musik, tetapi juga menghadirkan pengalaman wisata dan hiburan dalam satu kawasan.

Meski memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan acara, sejumlah penonton turut menyampaikan masukan terkait fasilitas dan penataan area penonton agar pengalaman menyaksikan konser semakin nyaman pada hari-hari berikutnya.

Hari pertama Prambanan Jazz Festival 2026 pun ditutup dengan antusiasme tinggi. Perjalanan festival masih akan berlanjut dengan deretan penampil berikutnya yang siap menghibur ribuan pengunjung di kawasan warisan budaya dunia tersebut. (dimz)