bernasnews – Setiap pekan, hari Jumat menjadi waktu yang istimewa bagi umat Islam laki-laki. Sejak matahari tergelincir hingga azan dikumandangkan, masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang hendak menunaikan shalat Jumat.
Namun, sebelum dua rakaat shalat dilaksanakan, ada satu rangkaian ibadah yang memiliki kedudukan sangat penting, yakni khutbah Jumat.
Khutbah bukan sekadar pengantar shalat, melainkan sarana dakwah yang sarat pesan keimanan. Melalui khutbah, seorang khatib menyampaikan nasihat, peringatan, dan tuntunan agama agar jamaah semakin kokoh dalam iman serta terdorong memperbaiki akhlak. Oleh sebab itu, isi khutbah perlu disiapkan dengan matang, menyentuh hati, dan relevan dengan kondisi umat.
Pada Jumat, 19 Desember 2025, umat Islam berada di penghujung bulan Jumadil Akhir. Artinya, bulan Rajab yang mulia sudah di ambang pintu. Berdasarkan kalender Hijriah yang tercantum dalam aplikasi NU Online, 1 Rajab 1447 H bertepatan dengan hari Senin Pon, 22 Desember 2025 M. Waktu yang tersisa menuju Rajab hanya tinggal beberapa hari, sehingga momentum ini sangat tepat dijadikan tema khutbah Jumat.
Bulan Rajab bukan bulan biasa. Ia termasuk dalam bulan-bulan yang dimuliakan Allah SWT, yang menjadi gerbang menuju rangkaian ibadah besar berikutnya, yakni Sya’ban dan Ramadhan. Karena itu, khutbah Jumat kali ini mengajak jamaah untuk mempersiapkan diri lahir dan batin menyambut bulan penuh kemuliaan tersebut.
Khutbah Jumat Pertama
Pembukaan Khutbah
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمَ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى مَنْ بِهِ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ يَوْمَ الْمَآبِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَب.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Wasiat Taqwa dan Syukur
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dari mimbar ini, khatib mengajak diri pribadi dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal utama yang akan menyelamatkan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Segala puji hanya milik Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat kesehatan, sehingga pada hari ini kita masih diberi kesempatan berkumpul di rumah-Nya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Semoga nikmat ini menjadi jalan bagi kita untuk semakin taat dan bersyukur.
Kita juga berharap, semoga Allah SWT mempertemukan kita dengan bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan dalam keadaan iman yang kuat dan hati yang penuh kebahagiaan.
Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, suri teladan yang telah membawa umat manusia dari kegelapan kebodohan menuju cahaya iman, ilmu, dan akhlak mulia.
Kemuliaan Bulan Rajab
Hadirin rahimakumullah,
Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang dimuliakan. Secara bahasa, kata Rajab berasal dari tarjib yang bermakna mengagungkan dan memuliakan. Penamaan ini menunjukkan betapa istimewanya bulan Rajab dalam pandangan syariat.
Rasulullah SAW bahkan menaruh perhatian khusus terhadap bulan ini. Dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik yang tercantum dalam Musnad Ahmad, Nabi SAW berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
Allahumma baariklanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighnaa Ramadlaan.
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”
Doa ini menegaskan bahwa Rajab merupakan pintu pembuka menuju bulan Ramadhan, bulan puncak ibadah umat Islam.
Persiapan Menyambut Rajab: Taubat dan Istighfar
Hadirin yang dirahmati Allah,
Menyambut bulan Rajab seharusnya tidak hanya dengan rasa gembira, tetapi juga dengan taubat yang sungguh-sungguh. Membersihkan diri dari dosa dan maksiat adalah langkah awal agar ibadah di bulan-bulan berikutnya menjadi lebih bermakna.
Syekh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Kitab Al-Ghuniyah menjelaskan bahwa taubat yang diterima Allah SWT memiliki tiga syarat utama:
Menyesali dosa yang telah diperbuat.
Meninggalkan perbuatan dosa tersebut.
Bertekad kuat untuk tidak mengulanginya kembali.
Ketiga syarat ini harus berjalan bersama. Memperbanyak istighfar dengan lisan dan hati menjadi tanda kesungguhan seorang hamba untuk kembali kepada Allah. Bahkan Rasulullah SAW yang terjaga dari dosa pun beristighfar hingga seratus kali setiap hari sebagai teladan bagi umatnya.
Menghidupkan Hati yang Lalai
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Salah satu penyebab manusia mudah terjerumus dalam dosa adalah matinya hati. Hati yang mati sulit menerima nasihat, enggan melakukan kebaikan, dan semakin jauh dari kebenaran.
Dalam Lubabul Hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW menjelaskan tiga hal yang dapat mematikan hati, yaitu:
- Terlalu mencintai tidur,
- Terlalu senang bersantai,
- Terlalu berlebihan dalam makan.
Syekh Abdullah Al-Haddad pernah berkata:
العادة إذا رسخت نسخت
Artinya, kebiasaan yang dilakukan terus-menerus, baik atau buruk, akan melekat kuat dalam diri seseorang.
Maka menjelang akhir Jumadil Akhir dan memasuki Rajab, mari kita hidupkan kembali hati kita. Kurangi tidur berlebihan dan mulai membiasakan shalat malam. Tinggalkan kemalasan dan perbanyak aktivitas yang bermanfaat. Kurangi makan, dan jika mampu, latih diri dengan puasa sunnah sebagai persiapan menuju Ramadhan.
Menjaga Hati, Menemukan Jalan Hidup
Hadirin rahimakumullah,
Ulama memberikan nasihat indah:
أصلحوا قلوبكم تبصروا دروبكم
“Perbaikilah hati kalian, niscaya kalian akan mampu melihat jalan hidup kalian dengan jelas.”
Hati yang bersih akan memudahkan seseorang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Karena itu, introspeksi diri dan menjaga kebersihan hati adalah kunci menjadi pribadi yang lebih baik.
Salah satu cara menjadi manusia yang selalu baik adalah dengan selalu memperhatikan hatinya, apakah hatinya baik atau buruk, apakah hatinya masih beriman kepada Allah atau sudah mulai memudar. Karena dengan itu berarti kita selalu waspada dan mawas diri. Karena sebaik-baik manusia adalah yang selalu memperhatikan hatinya dan membersihkannya. Hadirin rahimakumullah, Demikianlah khutbah Jumat yang singkat ini, semoga bisa menjadi pemantik bagi kita semua untuk selalu berbuat baik dan memperbaiki diri dari berbagai sifat yang tercela. Dan semoga kita semua bisa berjumpa dengan bulan yang mulia Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.
Aamiin ya rabbal alamin. بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Semoga naskah khutbah Jumat 19 Desember 2025 ini dapat menjadi inspirasi bagi para khatib dan jamaah, sekaligus menjadi sarana muhasabah untuk menyambut bulan Rajab dengan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (anp)












