Menelusuri Jejak Kearifan Lokal, Produksi Kuningan yang Tak Lagi Berdenting Nyaring

Proses pembuatan klinthingan atau lonceng kecil dari logam kuningan di Padukuhan Ngawen, Godean, Kabupaten Sleman. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

bernasnews — Sinar api tanur mulai meredup, gema denting palu beradu logam kuningan pun tak senyaring dulu. Begitulah suasana kini di Padukuhan Ngawen, Sidokarto, Godean, Kabupaten Sleman. Suatu wilayah yang sempat dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan kuningan di Sleman.

Dusun itu kini hanya menyisakan segelintir perajin yang gigih mempertahankan warisan leluhur sebagai pengrajin kuningan. Mulyadi (60 tahun) adalah salah satu yang masih bertahan hingga kini. Ia memulai usahanya sejak tahun 1988, melanjutkan jejak kakek dan ayahnya yang dulu juga berkecimpung di dunia cor kuningan.

“Dulu perajin ada puluhan orang sekarang hanya tinggal dua,” ujar Mulyadi, saat ditemui wartawan, Sabtu (29/11/2025).

Penurunan jumlah perajin yang drastis ini, menjadi indikasi utama surutnya pasar kerajinan tersebut. Dua perajin yang tersisa selain Mulyadi adalah Munawir.

Kerajinan cor kuningan di Ngawen sudah menjadi tradisi turun-temurun, berawal dari inisiatif warga untuk mencari kesibukan agar tidak menganggur, tetapi dulu. Bahkan sentra kerajinan kuningan ini pernah menjadi tumpuan hidup banyak keluarga.

“Pengrajin kuningan. Ini memang warisan dari simbah-simbah dulu,” kata Mulyadi, dengan mata berkaca-kaca.

Mulyadi mengenang masa keemasan kerajinan kuningan Ngawen terjadi sekitar tahun 2000-an. Pada waktu itu permintaan konsumen sangat tinggi berupa produk utama mereka, yaitu klinthingan atau lonceng kecil untuk pelengkap busana kesenian, seperti jathilan, gedruk, dan topeng.

“Tahun 2000-an itu masa jayanya. Banyak pesanan yang masuk, akan tetapi ada pandemi melanda sehingga banyak usaha ini yang gulung tikar,” ungkap Mulyadi.

“Pandemi Covid-19 yang menghantam membuat usaha warga gulung tikar serta pasarannya juga sudah gak ada,” keluhnya.

Sosok Mulyadi pengrajin kuningan yang masih bertahan di Padukuhan Ngawen. (Nuning Harginingsih/ bernasnews)

Kerajinan kuningan milik Mulyadi kini berfokus pada produk sesuai pesanan, namun yang paling konsisten adalah klinthingan untuk perlengkapan kesenian. Sementara proses pembuatan klinthingan dari bahan kuningan yang didapat dari pengepul terbilang unik dan rumit.

Cara membuat cetakan klinthingan dari lilin atau malam yang kemudian dibungkus dengan tanah liat. Setelah dibungkus, cetakan tanah dibakar hingga lilin mencair dan meninggalkan ruang kosong, lalu langsung dicor dengan logam kuningan yang telah lebur karena dipanaskan di tanur.

Untuk bahan cetak  klinthingan, yang dibuat setengahnya kemudian disambung menggunakan tanah liat dan lilin lalu dibakar. Terakhir, untuk menimbulkan bunyi atau suara dimasukkan gotri di dalamnya. Kemudian dilakukan proses finishing menggunakan mesin bubut.

Guna bertahan dan menyikapi di tengah kelesuan pasar, Mulyadi kini sangat mengandalkan penjualan online. “Sekarang kami penjualannya melalui online, kalau dulu mengandalkan pengepul, tetapi sekarang sudah tidak ada pengepul lagi,” bebernya.

Dengan bantuan istri dan anaknya, Mulyadi berusaha melestarikan keahlian yang sudah diwariskan tiga generasi dari simbahnya (kakek, red) dulu. Kapasitas produksi klinthingan saat ini sekitar 50 kodi per minggu untuk ukuran kecil, dengan harga jual satu kodi sekitar Rp 75.000 atau tergantung dari pesanan untuk besar kecilnya klinthingan.

Selain klinthingan, Mulyadi juga menerima produk lain yang berbahan dari kuningan seperti lonceng kecil atau asesoris lainnya yang terbuat dari kuningan, antara lain lampu hias, tempat lilin, bel untuk andong, dan sebagainya.

Sungguh disayangkan apabila suara dentingan logam dan pijar api tanur semakin meredup di tanah Padukuhan Ngawen, Bumi Sembada ini. (nun)